Thursday, February 10, 2011

tulisan saya, 090211

SEBERAPA KORUPTORKAH KAMU?

            Mahasiswa yang digembar-gemborkan sebagai agen perubahan tidak pernah berhenti menyuarakan pemberantasan korupsi. Berbagai bentuk demo yang mengusung nama ‘gerakan anti korupsi’ pun terus menerus dilakukan di berbagai wilayah dengan cara yang beragam pula. Tapi apakah mahasiswa adalah elemen masyarakat yang benar-benar bebas korupsi? Pernahkah Anda merefleksikan keberadaan indicator-indikator sang koruptor dalam diri Anda?
Korupsi tidak melulu selalu harus dikaitkan dengan problematika yang kompleks dalam ruang linkup makro. Sesederhana dan sekecil apapun bentuknya, korupsi tetaplah korupsi. Bukankah segala sesuatu yang besar bermula dari yang kecil? Kalau uang saja sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit, maka korupsi pun sama: kecil-kecil lama-lama bagi hasil.
Sebagai mahasiswa yang notabene adalah kaum terpelajar, jangan serta merta melakukan penghakiman terhadap orang lain yang diduga-duga adalah koruptor. Mungkin ada baiknya bila berkaca lebih dulu, seberapa koruptorkah saya?
Sengaja datang terlambat ke kelas karena 1001 alasan, titip absen, atau balas message sembunyi-sembunyi di kelas yang dosennya anti-HP merupakan bentuk-bentuk korupsi yang tak kasat mata, bahkan dianggap hal yang biasa karena sudah ‘membudaya’. Begitu pula di jalan raya, bentuk-bentuk pelanggaran kecil seperti menerobos lampu merah dan tidak menggunakan helm atau sabuk pengaman juga dapat diidentifikasikan sebagai bentuk awal korupsi. Apakah ada di antara Anda yang tidak pernah melakukannya?
Tindak korupsi bukan hanya berarti penggelapan uang negara untuk kepentingan pribadi seperti yang selama ini terus menerus muncul kasusnya serta menjadi sorotan media dan konsumsi publik. Korupsi waktu seperti sengaja terlambat masuk kelas atau tidak mengenakan helm saat berkendara tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri dan orang lain yang dapat dilihat sebagai bentuk korupsi tanggung jawab, walau dalam hal ringan, namun toh tetap saja memiliki ‘label’ korupsi.
Sadar atau tidak, korupsi menjadi nilai yang bahkan sudah bergaul akrab dengan individu sejak dini. Misalnya saja ketika seorang anak mengambil es krim bagiannya lebih banyak dari seharusnya semata-mata karena dia menyukainya. Budaya korupsi tumbuh dan menjamur di mana-mana dewasa ini. Tapi, apakah Anda mau disamakan –disebut sebagai manusia yang tidak pernah dewasa, yang menutup mata terhadap tindak korupsi dan beranggapan bahwa hal-hal semacam itu adalah hal biasa yang sah-sah saja?
Jadi, sudahkah Anda menjadi mahasiswa yang tidak hanya bicara, tapi juga membuktikan bahwa bebas korupsi itu mungkin?

3 comments:

  1. baguss dev tulisan nya
    eh follow dong blog gw giskey.blogspot.com yaaa

    ReplyDelete
  2. good... kita hidup berdasarkan aturan yang benar. hidup dalam kebenaran, bukan kebiasaan. karena kebiasaan bisa saja salah...kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa banyak tapi kebenaran tetaplah kebenaran meski hanya dilakukan segelintir orang. maju terus...........

    ReplyDelete