Thursday, February 10, 2011

puisi, Kompas Minggu 2009 (II)

Hujan Bergemerincing Seperti Pecahan Kaca Pintu –(Alois A. Nugroho)

malam tak bisa kausebut bisu bila buram terus membebankan hujan kepada kaca pintu yang seperti takkan pernah berhenti terharu hingga menghanyutkan semua yang selama ini kauanggap sebagai milikmu

bisu tak bisa kausebut sebagai milikmu bila malam terus membebani huajn dengan rasa haru dan hujan menghanyutkan semua kaca pintu yang masih memperdengarkan jerit gemerincing sebelum lemas dan terempas pada batu-batu

kausebut sebagai apa hujan yang tidak mampu memilah mana malam dan mana kaca pintu dan mengempaskan pada batu-batu apa saja yang selama ini kauanggap sebagai milikmu

kausebut sebagai apa malam yang tidak mampu memilah apa saja yang selama ini kauanggap sebagai milikmu dan membiarkan hujan bergemerincing seperti pecahn kaca pintu

Kuharap Kau Menemukan Bulan –(Alois A. Nugroho)

kuharap kau menemukan bulan yang membungkus malam dengan ngiau kucing, kaleng bekas dan tali sepatu dan sepanjang jalan menebar rindu pada ranting-ranting pinus dan sisa-sisa salju ketika seluruh kota berubah menjadi cerobong-cerobong asap yang tak pernah berhenti mengepul

kuharap kau juga menemukan malam yang membungkus bulan dengan ranting-ranting pinus dan sisa-sisa salju dan sepanjang jalan menebar ngiau kucing pada kaleng bekas dan tali sepatu ketika lokomotif tua yang juga tak pernah bosan mengepulkan asap memasuki gerbang kota dan menarik gerbong-gerbong yang tak berselimut

kuharap kau juga menemukan ranting-ranting pinus dan sisa-sisa salju ketika gerbong-gerbong yang tak berselimut tak pernah bosan mengepulkan ngiau kucing, kaleng bekas dan tali sepatu dan seluruh kota berubah menjadi lokomotif tua yang tak pernah berhenti mengabarkan rindu

Pantai Eretan pada Bulan Januari –(Alois A. Nugroho)

sudah lama perahu-perahu hidup dalam belenggu dan berharap laut akan datang dari seberang dan memutus tali-tali yang tertambat pada tonggak-tonggak bambu yang senantiasa basah namun tak pernah sedetik pun lengah

tapi kenapa ombak selalu harus datang menghentak bagai serdadu yang siap mati hanya untuk lepas kendali dan hanyut dalam haru biru sunyi?

sudah lama perahu-perahu mendendangkan luka semacam lagu yang dapat dilukiskan dengan pelangi yang terus menerus menari seakan-akan tak terbakar oleh terik matahari

sedang kau hanya seekor burung gagak yang kian lama kian tampak sebagai sebuah titik yang melambung tinggi diombang-ambingkan gelombang sepi

dan sudah lama perahu-perahu itu diam-diam melihatmu kadang-kadang dengan iba hati kadang-kadang dengan rasa iri

No comments:

Post a Comment