udah lama banget sejak terakhir baca kolom Parodi di "Kompas Minggu" yang ditulis Samuel Mulia. Hari ini tiba-tiba kebuka begitu aja pas lagi bolak-balik halaman. and somehow it just feels right in time.
...
...
HIDUP CUMA SEKALI
Teman saya, seorang wanita, bercerita kalau ia ditawari
untuk melakukan perselingkuhan dengan seorang pria beristri. Teman saya
menampik tawaran yang menurutnya sangat tidak senonoh itu. Anda mau mendengar
reaksi pria itu setelah tawarannya ditolak? “Hidup cuma sekali aja kenapa mesti dibuat susah sih? Dinikmatin
aja.”
Susah itu nanti
Saya tergelak dengan komentar pria itu. Karena dahulu kala,
ketika saya masih sehat walafiat, ketika hidup semuanya nyaris bisa dikatakan
tak ada masalah, saya mengucapkan hal yang serupa.
Kalau situasi itu begitu
nyamannya, semua dalam keadaan terkendali, mulut ini mudah sekali mendendangkan
suaranya, tanpa berpikir kalau semua perbuatan itu ada risikonya. Susah itu tak
akan bisa dirasakan ketika semuanya berjalan lancar. Terlintas di kepala saja
tidak. Susah itu nanti, belakangan datangnya, ketika yang dianggap tak susah
ternyata terjadi.
Menurut saya, seorang koruptor
itu tak akan pernah merasa susah dan tak akan berpikir risiko yang akan
ditanggungnya saat ia melakukan tindakan itu, saat semua bisa terkendali. Saya percaya
bahwa mulut mereka pun bisa jadi menyetujui jawaban laki-laki yang saya
ceritakan di atas.
Padahal, menurut pengalaman saya,
bahaya terbesar yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia, maaf...dalam
kehidupan saya maksudnya, adalah ketika situasi superaman dan superterkendali
terjadi. Situasi semacam itu tidak menimbulkan keinginan untuk bersikap
hati-hati.
Di situasi yang aman dan
terkendali itulah saya acapkali berpertan sebagai dewa. Saya merasa bisa
mengendalikan masa depan. Saya merasa bahwa situasi tidak susah itu akan
selamanya tidak susah.
Dalam situasi yang tidak susah
itu, saya lupa berpikir bahwa dalam hidup ini senantiasa akan ada harga yang
harus dibayar untuk semua perbuatan. Saya lupa bahwa hidup itu seperti roda
yang berputar.
Dan kalaupun saya tidak lupa akan
ungkapan itu, saya sangat yakin harganya bisa saya “bayar” tanpa harus menjadi
bangkrut. Saya bisa berpikir hidup bisa saja seperti roda, tetapi masalahnya,
hidupnya siapa dulu?
Hidup saya enggak bakal jatuh. Perhitungannya
sudah jeli dan tepat. Situasi tak susah itu sungguh tidak melenakan, tetapi
membuat pongah. Kepongahan itu adalah sebuah tempat paling subur untuk lahirnya
sebuah jamur bernama kejahatan.
Roda
Apakah bentuk kejahatan itu? Anda
pikir saya menjadi pembunuh dan memotong jari manusia? Tidak sama sekali. Kejahatan
itu adalah dalam bentuk sebuah ketidakpedulian akan situasi rumah tangga orang
lain.
Kejahatan saya adalah saya
bersikap egois dan tidak peduli. Selama saya bahagia, apa peduli saya terhadap
orang lain? Apalagi, seorang teman yang memang punya jam terbang tinggi soal
berselingkuh malah memberikan saya tip dan trik agar tidak gagal dan tidak
ketahuan.
Ia malah mengatakan, justru dalam
situasi semacam ini saya bisa memiliki kesempatan untuk membuat seseorang
pindah ke lain hati. Dalam situasi itulah saya tak lagi bisa melihat apa itu
benar, apa itu baik, dan apa itu keliru.
Maka saya sarankan, bergaul itu
juga mesti berhati-hati. Memilih teman itu harus jeli. Anda harus peka
membedakan teman yang selalu mengantar Anda ke sebuah situasi tidak susah
sehingga Anda tidak menyadari kalau mereka sedang menggiring Anda ke tepi
jurang, dengan mereka yang senantiasa menjaga Anda agar tidak sampai terdorong
masuk ke jurang.
Kalau Anda mencoba menasihati
saya di masa saya tidak susah, saya yakinkan Anda tak akan berhasil. Kalaupun Anda
melihat seolah saya menyimak, saya sama sekali tidak menyimak. Itu hanya sebuah
aksi agar Anda tak tersinggung. Setelah Anda meninggalkan saya, saya kembali
menikmati hidup yang cuma sekali itu saja.
Dan kalau Anda menegur saya dan
menanyakan alasannya, akan ada sejuta jawaban yang akan saya sodorkan ke
hadapan Anda. Sebuah alasan yang masuk akal di kepala saya dan tak masuk akan
di benak Anda.
Apakah saya peduli kalau itu tak
masuk akal di benak Anda? Tentu tidak. Itu mengapa saya bisa dengan ringan
berkomentar seperti pria beristri yang ditampik teman saya di atas itu. “Hidup
cuma sekali aja kenapa mesti dibuat
susah sih? Dinikmatin aja.”
Saat dalam situasi tidak susah,
tiba-tiba datanglah kesusahan yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Saya kaget
ternyata kok saya tak bisa memprediksi datangnya kesusahan.
Maka berhati-hatilah dalam hidup
yang cuma sekali ini saja. Sebisa mungkin nikmati hidup ini dengan tidak
membuat orang lain tersakiti. Sering-seringlah mengingatkan diri Anda supaya
tidak pongah kalau hidup itu memang seperti roda dan Anda itu bukan dewa.
Sekarang ini saya sedang berusaha
menikmati hidup yang sekali saja itu tidak dalam keadaan pongah agar saya bisa
menikmati kematian yang juga sekali itu saja dengan hati yang bahagia.