Latar Belakang
Antropologi medis sebagai bagian
dari antropologi memiliki pendekatan yang holistik, yaitu mengkaji berbagai
bidang (dalam hal ini khususnya kesehatan manusia) secara menyeluruh. Maka dari
itu, pembahasannya tidak lagi bisa dibatasi pada hal-hal yang menyangkut konsep
“sakit” dan “sehat”. Masalah kepercayaan, teknologi, juga berbagai diskursus
yang eksis di masyarakat mengenai kesehatan tu sendiri juga dapat menjadi
bagian dari kajian antropologi medis.
Body
image merupakan salah satu isu kesehatan yang dalam hal ini penulis anggap
menarik untuk ditelusuri. Melalui observasi dari hal sehari-hari, juga melalui
studi-studi dari berbagai literatur yang telah ada mengenainya, penulis mencoba
mengkaji permasalah body image ini
dari berbagai sisi: teknologi, diskursus, dan kepercayaan di masyarakat itu
sendiri. Dalam hal ini penulis mencoba lebih spesifik dengan menyoroti
permasalahan body image dari segi
konsep mengenai “cantik” yang berkembang di masyarakat dewasa ini.
Modifikasi Tubuh, Hanya Manusia
yang Bisa
Manusia
bisa jadi adalah satu-satunya makhluk yang dengan tabah menolak untuk
membiarkan alam memerintah penampilan mereka. Kapasitasnya untuk berias dan
melakukan modifikasi diri adalah kemampuan yang sentral dan esensial dari
kemanusiaan mereka sendiri, meskipun hal ini boleh jadi adalah salah satu
bentuk dari fenomena budaya. Modifikasi tubuh sendiri dilakukan dengan berbagai
alasan seperti untuk menunjukkan kenaikan status sosial atau untuk menunjukkan
identitasnya di dalam masyarakat, meskipun pada akhirnya modifikasi ini tetap
mengarah pada konsep “cantik”—bagaimanapun konsep itu didefinisikan (Reischer
dan Koo, 2004:197).
Para peneliti setuju bahwa salah satu pengaruh kuat pada perkembangan
gangguan citra tubuh atau body image
adalah faktor sosiokultural (Heinberg dan Thompson, 1992).
Sebuah model sosiokultural menekankan bahwa meskipun standar masyarakat untuk
daya tarik sering tidak bisa diraih (Fallon, 1990),
tapi diskriminasi terhadap individu yang dianggap "tidak menarik"
masih terjadi. Dalam masyarakat barat kontemporer, bagi perempuan, kurus telah
menjadi hampir identik dengan kecantikan (Heinberg dan Thompson, 1995).
Media
dan Body Image
Penggambaran
media mengenai perempuan yang kurus dan cantik banyak membawa dampak buruk bagi
konsep mengenai body image seseorang.
Penggambaran karakter perempuan di program-program televisi yang jauh lebih
kurus dari rata-rata perempuan lain diasosiasikan dengan kebahagiaan dan
kesuksesan dalam hidup. Bahkan media juga menginstruksikan untuk bagaimana
membentuk tubuh yang kurus melalui diet, olahraga, bahkan operasi demi memiliki
tubuh kurus. Media seolah-olah ingin menyatakan bahwa perempuan bisa, dan
seharusnya memiliki badan yang kurus (Yamamiya, dkk, 2005).
Di sini,
penulis mencoba menekankan bahwa adanya ketimpangan dalam pembentukan konsep
mengenai bagaimana yang “cantik” itu seharusnya. Dalam hal ini, media memiliki
peranan yang tidak bisa diremehkan, media merupakan wahana utama dalam
menyebarkan diskursus
mengenai body image ini. Sebagaimana
yang coba dipaparkan melalui pendekatan critical
medical anthropology
sendiri, bisa jadi dampak-dampak negatif yang muncul dari pemberitaan-pemberitaan
media mengenai konsep “cantik” ini juga memperlihatkan adanya ketimpangan
antara budaya barat—yang notabene menjadi
asal dari konsep “cantik” yang disebarkan oleh media tadi—dengan budaya
non-barat yang pada mulanya memiliki konsep “cantik”-nya masing-masing. Ini
bisa jadi juga merupakan bentuk penindasan terhadap banyaknya konsep-konsep lain
tadi.
Budaya Barat
secara pasti telah menempatkan media massa sebagai landasan, sebagai contoh dan
sumber untuk bagaimana orang harus hidup. Hal ini tidak mengherankan bila kita
melihat bahwa media telah dianggap sebagai suatu sumber terpercaya dalam mengekspos
apa yang di tahun-tahun sebelumnya dianggap sebagai tabu, misalnya saja dalam
hal bentuk tubuh seseorang (Kawecki, 2010).
Perlu
diperhatikan di sini bahwa pada dasarnya setiap masyarakat, dengan
kebudayaannya masing-masing, memiliki konsep tersendiri tentang tubuh manusia
sebagai realita sosial; bahwa bentuk, ukuran, dan riasan tubuh ini adalah cara
mengkomunikasikan informasi tentang posisi seseorang di dalam masyarakat itu.
Bentuk komunikasi yang menyangkut postur dan gerak tubuh seseorang ini juga
pasti berbeda satu sama lain tergantung kebudayaan masyarakat tersebut (Helman,
1985). Karenanya, menjadi sesuatu yang patut diperhatikan bahwa semakin
sekarang, perbedaan-perbedaan itu semakin menipis dengan adanya penyeragaman
mengenai bagaimana bentuk tubuh seseorang semestinya agar bisa diterima dan
dipandang dalam masyarakat. Ada satu patokan konsep tertentu yang tidak lagi
menoleransi perbedaan-perbedaan yang khas dari bentuk komunikasi dalam tubuh
manusia tadi. Konsep yang disebarkan oleh media, yang merupakan konsep
masyarakat Barat.
Setiap
harinya, kita pasti disajikan mengenai apa itu “cantik”, pembangunan ide-ide
mengenainya ditampilkan di koran-koran, majalah, juga televisi. Hal ini
kemudian menjadikan, dalam budaya konsumerisme masyarakat, body image menjadi begitu penting (Atiyeh, Rubeiz, dan Hayek, 2008).
Media seringkali memberitakan, bahkan mempromosikan berbagai upaya mempercantik
diri tanpa pemberitaan atau peringatan mengenai dampak-dampak negatifnya.
Sayangnya, masyarakat tidak cukup mampu membedakan mana yang berkualitas dan
yang tidak, terutama dalam hal bedah kecantikan. Asalkan keinginan mereka untuk
menjadi cantik terpenuhi, hal-hal di sekitarnya kemudian tidak diperhatikan
lagi.
“Tidak-sama”
yang Meresahkan
Sejumlah
besar survei dan studi korelasional telah mendukung gagasan bahwa faktor sosial
budaya memainkan peran dalam berkembangnya gangguan akibat penggambaran tubuh. Sebagai
contoh, sebuah penyelidikan menemukan bahwa individu yang mengalami gangguan
makan mengalami peningkatan yang signifikan dalam perspektif mengenai ukuran
tubuh mereka setelah melihat foto-foto perempuan yang diambil dari majalah
populer fashion wanita (Waller, Hamilton, dan Shaw, 1992).
Individu yang ditunjukkan foto-foto model yang kurus dilaporkan memiliki
penghargaan yang lebih rendah serta ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri
daripada individu yang ditunjukkan foto-foto model yang lebih besar.
Paparan sosio-kultural
lewat media mengenai “cantik” yang identik dengan bentuk tubuh yang kurus dan
kaitannya dengan daya tarik mampu meningkatkan ketidakpuasan terhadap bentuk
tubuh. Festinger menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk
mengevaluasi diri melalui perbandingan dengan orang lain. Penelitian
menunjukkan bahwa perbandingan dengan orang lain yang lebih unggul untuk diri
sendiri sering dikaitkan dengan peningkatan depresi dan kemarahan serta
penurunan kepercayaan diri; sedangkan perbandingan dengan orang lain yang lebih
rendah dapat dikaitkan dengan peningkatan kepercayaan diri dan berdampak
positif (Mayor, Testa, & Bylsma, 1991).
Untuk rata-rata individu, perbandingan dengan model media yang disajikan sangat
kurus dan menarik akan merupakan suatu perbandingan ke atas, yaitu dengan orang
lain yang lebih unggul.
Beberapa
penelitian setidaknya memberikan dukungan korelasional untuk hipotesis bahwa
perbandingan sosial memainkan peran dalam pengembangan gangguan mengenai image tubuh. Thompson, Heinberg, dan
Tantleff (1991) mengembangkan ukuran untuk
menilai kecenderungan individu dalam membandingkan karakteristik fisik dirinya
sendiri dengan karakteristik fisik orang lain. Mereka menemukan bahwa skor yang
tinggi sangat terkait dengan ketidakpuasan mengenai bentuk tubuh, gangguan
makan, dan rendahnya kepercayaan diri.
Bedah
Kecantikan: Tentang Kesempurnaan
Membuat
tubuh cantik dan indah adalah eksplorasi peran kompleks yang telah memainkan
bedah kecantikan dalam kaitannya dengan individu yang menilai dirinya sendiri
dan orang lain dengan penampilan fisik. Bedah kecantikan memungkinkan
orang-orang yang telah dibuat “cacat” oleh penyakit, keturunan, kecelakaan,
atau akibat perubahan sosial dalam konsepsi politik dan budaya dari apa yang
secara fisik diterima untuk bisa masuk ke dalam kelompok mana mereka untuk
pertama kalinya terlihat kemudian menjadi tidak lagi diakui (Homberger, 2001).
Penerimaan ini kemudian berubah ke dalam stereotip atau pandangan meremehkan
terhadap bentuk hidung, payudara, penis, kelopak mata, dan kulit.
Ahli bedah
estetika menawarkan kesempatan individu untuk mengembalikan kontrol dan otonomi
individu, serta untuk membangun kembali kebahagiaan yang sempat hilang oleh
adanya stereotip-stereotip tersebut. Munculnya kembali operasi estetika di
akhir abad kedelapan belas didukung oleh “pencerahan” tentang kebebasan
individu dan kebahagiaan (Homberger, 2001).
Teknologi
telah menjadi perpanjangan dari kosmetik, memfasilitasi secara sesuai ke sebuah
tipe dominan budaya dan sosial yang ideal, di mana yang ideal adalah merupakan
hasil internalisasi oleh media dan model. Semakin besar potensi dari klaim
kembali atas kebebasan dan kebahagiaan seseorang dengan membentuk kembali
tubuh, semakin besar kemungkinan benar-benar menjadi tidak bahagia. Ia akan
terus-menerus berusaha membentuk tubuhnya, dengan dalih “kebebasan” tadi, agar
sampai pada suatu bentuk cantik yang sempurna, yang pada dasarnya tidak akan
tercapai mengingat sifat dasar manusia yang memang tidak pernah puas. Kesempurnaan,
bagaimanapun, adalah sulit dipahami dan akan terus mengalami perubahan model
dari waktu ke waktu.
Bedah
Kecantikan: Sebuah Tantangan Etika
Hingga saat
ini bedah kecantikan itu sendiri masih menjadi perdebatan; bahwa apakah ini
dilakukan untuk alasan bisnis komersial, atau untuk tetap pada tujuan utamanya
yang menjadikan pasien sebagai subjek utama dengan mengutamakan segi perawatan
dan kesehatan mereka. Sayangnya, yang banyak ditemui adalah operasi-operasi
seperti ini saat ini dilakukan atas dasar ideologi yang berkembang di
masyarakat belakangan ini untuk mencapai hal-hal seperti cantik, muda, dan
sukses (Atiyeh, Rubeiz, dan Hayek, 2008).
Operasi-operasi
ini kini banyak dilakukan tanpa mempertimbangkan segi kebutuhan pasien dan
resiko yang akan dihadapi setelahnya. Para pelaksananya bahkan memanfaatkan
berbagai ideologi yang berkembang tadi sebagai salah satu strategi pemasarannya.
Mereka kadang justru melupakan tujuan utama dari praktek operasi itu yang
seharusnya adalah untuk tujuan penyembuhan. Bahkan tidak jarang kemudian
operasi-operasi/bedah kecantikan itu kemudian malah dikomersialisasi untuk meraup
keuntungan dari ideologi “cantik” yang tengah berkembang di masyarakat
akhir-akhir ini. Hal ini boleh jadi merupakan salah satu bentuk pelanggaran
etika di dalam pelaksanaan praktek operasi bidang medis.
Namun, tidak
dapat dipungkiri hal ini juga turut disebabkan oleh karakteristik dasar manusia
yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, terutama dalam hasrat dan
keinginan mereka untuk berubah dan meningkatkan segala sesuatu di sekitar
mereka agar sesuai dengan apa yang mereka sendiri pahami. Hal ini kemudian
berkembang ke arah yang berlebihan. Misalnya saja bedah kecantikan yang pada
mulanya hanya dilakukan oleh para ahli operasi plastik dengan justifikasi
medis, kini mulai banyak menyebar praktek-prakteknya bahkan hingga dilakukan
oleh orang-orang awam. Tetapi hal ini kemudian menjadi dianggap biasa karena
kebutuhan akan jasa ini pun semakin meningkat (Atiyeh, Rubeiz, dan Hayek, 2008).
Anestesi
(obat bius) kemudian membuat operasi/bedah kecantikan ini semakin dapat
diterima secara lebih luas oleh masyarakat. Teknologi anestesi yang berkembang
dengan pesat dan semakin canggih saat ini seolah-olah juga turut memberikan
“suntikan keberanian” bagi mereka yang ingin melakukan bedah kecantikan ini.
Anestesi memperkenalkan penggunaannya di tengah-tengah dunia medis, dalam hal
ini khususnya dalam pembedahan kecantikan, untuk meningkatkan penampilan serta
untuk merombak wajah dan tubuh (Bourguignon, 2002). Ini memungkinkan penampilan
seseorang berubah agar sesuai dengan citra diri yang diinginkan.
Bedah
Kecantikan, Identitas, dan Kejiwaan
Menjadi jelas dari berbagai
pemaparan di atas bahwa dengan pembedahan, seseorang menjadi hanya menjadi
sebagai “pengcopy” dari yang lainnya.
Dengan ini identitas sejati menjadi tidak benar-benar jelas. Setiap orang
berlomba-lomba untuk menjadi cantik: “cantik” yang sama dengan yang dibentuk
oleh diskursus-diskursus media tadi, “cantik” yang sama sebagai hasil produksi
bedah-bedah kecantikan yang menjanjikan. Kepercayaan masyarakat mengenai apa
yang dianggap “cantik” menjadi semakin seragam.
Bertopeng
dengan hasil tak terelakkan yang satu ini, pada akhirnya bukan tidak mungkin
apabila setiap individu kemudian tidak lagi menjadi otentik sebagaimana
mestinya (Homberger, 2001). Setiap individu kemudian semakin berusaha menyamai
orang-orang yang dianggap, dan digembar-gemborkan, sebagai “mereka yang
cantik”. Bukankah mengerikan jika kepercayaan ini semakin meluas dan menjadikan
masyarakat bumi ke dalam bentuk-bentuk yang saling menyerupai; hanya demi
dianggap cantik, sukses, dan bahagia?
Sementara
itu, pemahaman tentang hubungan antara penampilan tubuh dan kondisi kejiwaan
telah menyebar luas di kalangan dokter bedah (Bourguignon, 2002). Hal ini juga
yang menjadi perbicangan yang meresahkan di kalangan psikiater. Kecantikan,
kepuasan, dan kebahagiaan seperti apa yang dipahami serta dicari oleh mereka
yang, terus-menerus, melakukan bedah kecantikan? Akankah mereka menemukan apa
yang mereka cari itu? Permasalahannya adalah, apakah semuanya itu memang
benar-benar ada?
Kecanduan,
yang mengarah pada ketergantungan terhadap operasi/bedah kecantikan, menjadi
masalah lain dalam hal masalah kejiwaan sekunder (Bourguignon, 2002). Penulis
sendiri memandang bahwa pada hakekatnya semua kebahagiaan, yang didasarkan pada
keinginan setiap pelaku bedah kecantikan—yang dalam hal ini bukan untuk tujuan
medis atau pengobatan—untuk mencapai kesempurnaan adalah semu. Ketika mereka
mencapai satu titik “sempurna”, akan muncul lagi “sempurna”-“sempurna” yang
lain, dan demikian seterusnya.
Adalah wajar
jika setiap individu ingin tampil cantik, dianggap menarik, dan dipandang
berhasil; namun permasalahannya adalah, apakah semua itu harus terus-menerus
dikejar dengan cara-cara yang tidak sewajarnya—tidak natural? Apakah semua itu
harus dicapai dengan terus mengikuti model-model yang dibentuk dan dipaparkan
media, yang seringkali bertentangan dengan nilai dan hati nurani kita? Penulis
tidak berusaha menjadikan setiap orang skeptis terhadap teknologi bedah
kecantikan, hanya saja menjadi kritis itu tetap penting; terlebih dalam
menerima apa yang disampaikan media, yang seringkali dipenuhi romantisme semu.
“Beauty is not
flawless, It shines even through your flaw” -- unknown
REFERENSI
Atiyeh,
Bishara S.; Rubeiz, Michel T.; dan Shady N. Hayek.
2008 “Aesthetic/Cosmetic Surgery and
Ethical Challenges” dalam Aesthetic
Plastic Surgery vol. 32, hal. 829-839.
Bourguignon, Erika.
2002 “Creating Beauty to Cure the
Soul: Race and Psychology in the Shaping of Aesthetic Surgery” dalam The Antioch Review vol. 60,2 hal. 342.
Cattarin, Jill A., dkk
2000 “Body Image, Mood, and
Televised Images of Attractiveness: The Role of Social Comparison” dalam Journal of Social and Clinical Psychology vol. 19,2 hal.
220-239.
Heinberg, Leslie J. dan Thompson, J. Kevin.
1995 “Body Image and Televised Images
of Thinness and Attractiveness: A Controlled Laboratory Investigation” dalam Journal of Social and Clinical Psychology. vol. 14,4 hal. 325-338.
Helman, Cecil.
1985 Culture,
Health, and Illness. Bristol: John Wright and Sons Ltd.
Homberger, Margaret.
2001 “Making the Body Beautiful: A
Cultural History of Aesthetic Surgery” dalam Canadian Journal of History vol. 36,2
hal. 417-419.
Kawecki, Amy Michelle.
2010 “Beauty is Pain: The Physical,
Psychological, and Emotional Impact of Female Images in the Media.” Tesis.
Dipublikasikan oleh Proquest.
Reischer, Erica dan Kathryn S. Koo.
2004 “The Body Beautiful: Symbolism
and Agency in the Social World” dalam Annual
Review of Anthropology vol. 33 hal. 297-317.
Yamamiya, Yuko, dkk.
2005 “Women’s Exposure to Thin-and-beautiful Media Images: Body
Image Effects of Media-ideal Internalization and Impact-reduction Interventions.” Brief Research Report. Dipublikasikan oleh Proquest.