Monday, October 17, 2011

tulisan saya, 171011


Agama: Jembatan Imani Spiritual atau Kerangkeng Politis Moral?

            Agama atau religion sudah tak dapat disangkal lagi telah menjadi salah satu kebutuhan dasar yang bahkan wajib ada dalam kehidupan manusia saat ini. Berbagai macam bentuknya agama yang memiliki nama-nama tersendiri, dilengkapi dengan berbagai ajaran dan praktek-prakteknya. Perkembangannya pun kian hari kian pesat, berbagai nilai-nilai baru seringkali semakin ditambahkan untuk membuatnya semakin make sense.
            Tapi lalu hal-hal inilah yang kemudian membuat agama semakin bergeser dari hakikatnya. Agama yang dasarnya adalah suatu sarana untuk memenuhi kebutuhan jiwa manusia akan perasaan damai dan aman di dunia, sarana untuk menjembatani hubungan spiritual manusia dengan Penciptanya, mulai melenceng dari tujuan-tujuan dasarnya itu. Agama semakin dipolitisasi, untuk memberikan kungkungan pada hal-hal mana yang boleh dilakukan manusia dan yang tidak, atas nama moral, tetapi kini tidak lagi murni semata untuk menjaga manusia dari moralitas yang bobrok, melainkan “sekalian” untuk memenuhi harapan oknum-oknum tertentu.
            Anda boleh bilang saya pesimistis, sinis, atau skeptis. Tapi ini bukanlah hasil pemikiran yang imaginer, ini adalah hasil pembelajaran—yang walau mungkin bodoh—tapi memiliki justifikasi yang nyata. Saya pun sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, yang mengusung tinggi nilai ke-Tuhan-an yang Maha Esa, memiliki agama. Tapi toh semakin saya mengamati, semakin saya membuka mata telinga dan hati, semakin saya mencoba berempati dengan banyak peristiwa ber-isu keagamaan yang muncul, semakin pula saya menyadari bahwa agama bukanlah lagi menjadi “sesuatu” yang murni dalam pemaknaan yang sesungguhnya.
            Toh kalau saja Anda berusaha mengakui yang satu ini, bahwa agama—dengan segala nilai dan ajarannya—adalah juga buatan manusia yang sama seperti Anda. Bahwa agama bukanlah sesuatu yang telah ada mendahului manusia. Setiap doktrin dan dogma yang terkandung di dalam pengajaran-pengajarannya, terlepas atas dasar apa kesemuanya itu diciptakan, adalah hasil modifikasi dan pengembangan yang dilakukan oleh manusia-manusia. Coba Anda pikirkan, jika saja Anda terlahir jauh lebih awal sebelum masa ini—masa di mana agama sudah menjamur dalam kehidupan manusia--bukankah tidak mustahil bahwa Anda menjadi seseorang seperti Marthin Luther? Bukankah tidak mustahil pula jika ajaran-ajaran yang ada saat ini, yang diikuti oleh para pemeluk agama sedunia, merupakan hasil pemikiran Anda?
            Maka dari itu sangat memprihatinkan bila kemudian manusia bisa “dibodohi” oleh manusia lainnya. Dalam hal ini karena terlebih saya melihat semakin kemari semakin banyak doktrin-doktrin baru yang bermunculan mengenai berbagai agama yang ada.
Analoginya seperti ini. Jika Anda melihat seorang anak menangis sendirian di tepi jalan, hal yang mungkin Anda pikirkan adalah bahwa anak itu tersesat, kehilangan orangtuanya, atau terluka. Walau hal-hal yang Anda pikirkan adalah yang bersifat umum, tapi tetap saja berbeda-beda. Itu baru Anda sebagai satu individu. Belum lagi pikiran individu-individu lain. Sama halnya dengan agama, walaupun sumbernya tetap satu misalnya saja Kitab Suci, bukankah setiap individu (dalam hal ini mereka-mereka yang mempunyai wewenang) dengan masing-masing pemikiran dan latar belakang yang berbeda, akan tetap memiliki penafsiran yang berbeda--terlepas dari keberadaan prinsip-prinsip umum di belakangnya?
Ketika agama mulai dipolitisasi untuk kepentingan para penguasa (dalam hal ini saya mendapatkan pencerahan tambahan dari kuliah Etnografi Indonesia oleh Iwan Meulia Pirous, dosen Antropologi FISIP UI), maka yang terjadi adalah pembodohan massal. Kita dituntun untuk berbuat baik dengan iming-iming orientasi kepada Sang Pencipta, tetapi yang ada kemudian adalah untuk memudahkan kontrol oleh institusi dan superstruktur. Kita dituntun memegang “prinsip” multikulturalisme dalam beragama, tapi yang terjadi kemudian semuanya itu terhenti di “multikulturalisme semu”. Ketika orang-orang menyuarakan “ayo bertoleransi satu dengan yang lain”, yang sesungguhnya terproyeksikan adalah “toleransilah kepada saya”.
Sekali lagi, agama adalah hasil kreasi manusia dengan masing-masing pemikiran, yang ditafsirkan lagi oleh tiap-tiap pemukanya berdasarkan latar belakang dan pemahaman masing-masing. Menurut Feuerbach, agama adalah proyeksi yang diciptakan manusia tentang surga karena ia lari dari dunia yang penuh dengan kepahitan. Konsep ini kemudian memiliki benang merah dari hasil perbincangan dan sharing saya dengan Saudari Rizki Rianda Silva, mengenai hasil kegiatan yang diikutinya dalam kajian agama: bahwa sekarang manusia terkonstruksi untuk berbuat baik dengan berorientasi pada Surga dan pahala, bukan lagi kepada Tuhan-nya. Menarik, dan memang demikian bukan? Tidak perlu dijawab, renungkan saja.
Saya sendiri adalah pribadi yang sejak lama dibangun dalam nilai-nilai Kristiani. Tapi saya tidak mau membahas lebih lanjut mengenai betapa banyaknya penafsiran yang kontradiktif antara satu pemuka agama dengan yang lainnya, mengenai betapa banyak yang kontradiktif pula dari perkataan yang begitu menggebu-gebu di mimbar dengan kehidupan nyata. Bahwa institusi agama seperti gereja sering mengecewakan—dengan segala aturan dan kungkungan aturan-aturan yang non-sense--adalah iya.
Yang saya pelajari adalah bahwa Yesus Kristus sendiri tidak pernah membawa atau mengajarkan agama tertentu, orientasiNya adalah pada ajaran kasih, bahwa bukan perbutan baik—yang lalu membuat kita nampak hebat diantara manusia yang lain—yang menyelamatkan kita, melainkan bahwa semuanya hanya berdasarkan kasih. Bahwa perbuatan baik tanpa kasihbadalah sia-sia, bahwa jika kita ingin melakukan perbuatan baik hendaknya kita melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk keselamatan atau surga—karena surga itu sebenarnya adalah milik semua orang yang percaya. (Kisah ini saya gunakan atas dasar latar belakang saya sebagai kristiani.)
 Lalu bukankah memprihatinkan jika orang-orang yang menjadi pengikutNya kemudian membuat seolah-olah Ia yang meminta manusia menjadi Kristen dengan berbagai justifikasi mengenai ini, mengkonstruksikan bahwa kemudian Kristen adalah satu-satunya jalan yang benar dan dalam hal ini menjadi superior sifatnya. Menyedihkan karena Tuhan dan agama kemudian seolah-olah dijadikan tameng dan pembenaran terhadap segala hal, dan ini terjadi di hampir setiap agama.
Saya menuturkan semua ini bukan karena saya atheis. Saya menuturkan ini justru karena saya monotheis kepada Yesus Kristus. Tetapi saya kemudian tidak lagi mau berpegang pada dogma agama--yang notabene adalah human-made, sementara human adalah buatan Sang Pencipta juga; mereka sama seperti saya. Saya hanya ingin berpedoman langsung pada ajaran Sang Pencipta yang mencipta kami. Sekali lagi, semua penuturan ini hanya karena saya prihatin atas fakta-fakta miris keagamaan yang terjadi, hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam benak untuk dibagikan, tanpa maksud provokatif apapun.

Sunday, October 16, 2011

tulisan saya, 070711


Sisi Lain Masyarakat: Potret dari Jendela Kereta Api

Pernahkah Anda naik KRL AC Jabodetabek pada jam-jam sibuk? Saya menyarankan bagi Anda yang belum pernah untuk mencobanya.

Bukan, saya tidak sedang mempromosikan salah satu moda transportasi umum yang beberapa waktu lalu sempat menjadi headline news di berbagai media. Tapi saya di sini sedang mempromosikan betapa “kaya”nya negeri kita.

Tidak perlu jauh-jauh ke daerah terpencil untuk menyaksikan keadaan masyarakat kita dengan beragam budayanya. (Dalam hal ini saya sedikit menyinggung pembelajaran budaya, sebagai mahasiswa antropologi.) Bahkan hanya dari balik kaca KRL saja, siapapun dapat menyaksikannya.

Tentunya ini tidak berlaku bagi Anda yang selalu berebut agar dapat tempat duduk. Tidak berlaku pula bagi Anda yang selalu sibuk dengan “blackberry”, “i-phone”, atau komputer tablet di tangan Anda. Juga tidak berlaku bagi Anda yang sibuk dengan teman atau diri Anda sendiri selama perjalanan.

Ini berlaku khususnya bagi Anda, orang-orang yang sendirian, pasrah berdiri jika tidak dapat tempat duduk, malas bicara, gadget pas-pasan, atau tidak banyak pikiran sehingga ada waktu untuk mengamati hal-hal yang “tidak dilihat”. Dan sepertinya saya ada dalam kriteria orang-orang tadi.

Lucu. Kesan pertama saya ketika mendapati pandangan di depan saya. Betapa “kaya”nya negeri kita ini. Benar kata orang-orang yang selama ini saya dengar lewat TV atau baca di majalah dan bahan-bahan kuliah: kaya akan perbedaan, keragaman; tapi tetap satu yang utuh.

Di depan mata saya yang agak sipit, sehingga tidak perlu menyipitkan mata lagi tentunya untuk bisa melihat dengan jelas, terpampang dengan jelas keanekaragaman itu. Inikah yang disebut sebagai “kekayaan”?
Pemandangan yang kontras:
  1. Di sebelah luar ibu-ibu mengais tumpukan sampah mencari barang bekas yang dapat dijual lagi; sementara di sebelah dalam mereka yang menyebut dirinya sebagai “wanita karier” harus mencari tiket KRL yang tertimbun di antara alat-alat kosmetik ketika dimintai petugas.
  2. Di sebelah luar banyak anak lari-lari di antara rel dan bebatuannya; sementara di sebelah dalam para pelajar dengan seragam lengkap malah tenggelam dalam percakapan BBM, musik MP3, atau game di i-pad dalam genggaman dua tangan.
Oalah, sungguh, benarlah kata orang tentang kekayaan negeri itu kemudian!

Buktinya, hanya berbatas kaca dan jarak kurang dari 3 meter saja, sudah didapati pula keragaman itu.
Tapi kemudian benar juga semboyan bahwa “biar berbeda tapi tetap satu” itu.

Misalnya saja yang masih sering dilakukan: tindakan anarkis, atau yang dalam bahasa sederhanya saya sebut “kekerasan kampungan”, yang dilakuan masyarakat dari dua lapisan berbeda hasil bentukan keragaman itu. Sama-sama kasar, sama-sama tidak mau mengalah, sama-sama mengusung prinsip “ke-saya-an”: harus saya yang enak. Yang di sana memang orang kampung, tapi yang di sinilah sebenarnya yang lebih layak disebut “kampungan”.

Bedanya yang di sana berebut antrian dan saling dorong untuk jatah raskin, yang di sini dulu-duluan masuk kereta untuk tempat duduk dan posisi nyaman. Bedanya yang di sini bajunya rapi dan keren, yang di sana masih bisa pakai baju pun sudah bersyukur. Yang di sini bau harum parfum dan pewangi pakaian, yang di sana bau apak keringat bercampur matahari. Bedanya lagi yang di sana untuk menyambung hidup, yang di sini mungkin untuk menyambung harga diri.

Maka benarlah kemudian: satu dari yang berbeda-beda.

Saturday, April 9, 2011

catatan 1


MENGAPA SALING KECEWA?
oleh Kristi Poerwandari
Psikologi, ‘Kompas’ Minggu, 20 Maret 2011 (dengan perubahan)

Perkawinan, hubungan kerja, atau relasi pertemanan yang sehat dan menyenangkan memerlukan “kesalingan”: saling paham mengenai kebutuhan dan peran masing-masing, saling menghormati, dan saling mendukung.
            Selalu ada timbal-balik dalam hubugan. Bila kita kecewa, pasangan, teman kerja, atasan, bahkan organisasi kerja juga memiliki alasannya sendiri untuk dapat kecewa pada kita. Satu hal sangat penting untuk dapat mempertahankan hubungan baik adalah “empati”, yakni kemampuan menempatkan diri dalam posisi orang lain, kemampuan memahami perspektif pihak lain.
            Cara termudah adalah dengan mencoba membuang sejauh-jauhnya prasangka serta kepentingan diri sendiri, lalu membayangkan diri menjadi orang yang ingin kita pahami.
            Kita perlu berbesar hati untuk sungguh-sungguh mendengarkan kebutuhan dan harapan pihak lain agar menemukan konsep bersama yang nyaman untuk semua.
            Kadang manusia kecewa pada diri sendiri, tetapi yang keluar adalah kemarahan dan sikap berkonfrontasi. Kita perlu banyak menemukan sisi positif diri dan kehidupan secara umum agar dapat bersikap lebih lembut pada diri sendiri dan orang lain. Bagaimanapun, pihak lain akan merasa kurang nyaman bila kita berkomunikasi dengan sikap sinis dan merendahkan.

Monday, April 4, 2011

inspiratif IX


GALAU LAGI GALAU LAGI
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 3 April 2011 (dengan perubahan)

It always has to be dark for the stars to appear. Itu kalimat yang say abaca dan mampu menggugah nurani saya untuk mengajak berdiskusi dan berpikir panjang. Padahal, saya sedang menikmati makan malam yang terdiri dari ikan, ikan, dan ikan dan ingin bebas sejenak dari kelelahan berpikir. Apalagi hari itu, saya telah diporakporandakan oleh kehidupan, yang membuat batin dan raga lelahnya setengah mati.
Gelap yang terang
            Sambil menyantap makan malam, timbul pertanyaa. Kalau kecemerlangan bintang dapat terlihat karena ada kegelapan sebagai latar belakangnya, apakah benar kegelapan itu tidak baik? Sama seperti kalau seseorang sedang memamerkan berlian atau jam tangan, umumnya dipakai beludru hitam sebagai latar belakang agar benda mati itu bisa tampak jreng-jreng. Di dunia mode, sudah lama terbukti kalau hitam adalah warna penyelamat. Warna hitam yang mampu menutupi banyak ”dosa” pemakainya. Lemak di sekitar perut, misalnya. Atau malah perut yang membuncit. Katanya juga, warna gelap ini punya efek bisa melangsingkan dalam sekejap. Katanya.
            Nah, kalau begitu adanya, mengapa saya senantiasa dicekoki soal ketidakpantasan sebuah sisi gelap? Malam itu, saat selesai membaca kalimat dalam bahasa Inggris di atas, saya malah jadi bingung, betapa mulianya sisi yang katanya tidak terang itu. Yang senantiasa dianggap tidak baik.
            Di kehidupan yang nyata, bukankah karena ada musuh, maka ada istilah pahlawan. Bukankah karena ada maling dan koruptor, lantas ada yang bisa disebut pahlawan? Bukankah karena ada pelacur, kemudian mereka yang mengaku wakil Tuhan di dunia bisa jadi tampak begitu suci dan mulianya, dan menjadi pahlawan karena mampu mengembalikan mereka dari jalan yang tidak benar ke jalan yang benar? Bukankah karena ada gelap, maka putih kelihatan begitu sucinya?
            Sama seperti kehadiran orang bodoh bisa membuat orang pandai terasa pandainya. Jadi, benarkah yang gelap itu tak senonoh? Kalau bintang bisa terlihat kerlipnya karena kegelapan, siapakah yang pantas disebut pahlawan? Yang bisa disebut the most important part? Sering kali saya diceramahi kalau saya tak boleh menyesali hidup karena hidup saya yang lama, (padahal kenapa tidak jika) yang gelap itu, adalah sebuah pelajaran yang mematangkan dan membuat saya naik kelas?
Gempor
            Sambil menyantap makan malam dengan mata ikan yang menatap ke muka, saya semakin galau. Belakangan saya makin dibuat linglung dengan banyak kalimat yang menggugah batin. Seperti contoh yang baru saja saya terima di BBM. Sebuah lagu anak-anak lawas yang legendaris. “Bintang kecil di langit yang biru”.
            Saya ditanya balik, benarkah bintang ada di langit yang biru? Kemudian saya mencari di Google syair selengkapnya. Ada yang menulis di langit yang biru dan kebanyakan menulis di langit yang tinggi. Birukah langit di malam hari? Kemudian saya berpikir lagi, kalau latar belakangnya biru atau terang, kerlip si bintang tak akan muncul, tak akan terlihat. Jadi, apakah terang ditambah terang akan jadi lebih bagus?
            Apakah saya hanya akan bagus kalau saya bergaul dengan mereka yang tak bernoda? Bukankah kalau sama terangnya, atau sama gelapnya, tak ada yang stand out, dan kemudian menjadi begitu biasa, begitu datar, dan tak ada geregetnya? Kata seorang teman wanita yang juga seorang pemimpin redaksi, “Average is boring.
            Nurani saya kemudian mengingatkan pada sebuah peribahasa berbunyi: malu bertanya sesat di jalan. Benarkah saya malu kemudian saya tersesat? Saya pikir lagi dengan IQ jongkok. Kalau saya mau menanyakan nama seseorang, saya bisa minta tolong lewat teman. Masalahnya, akan lebih lama menerima hasilnya ketimbang kalau saya tanya langsung kepada yang bersangkutan.
            Jadi, malu hanya memperlambat sampainya informasi. Yang membuat saya tersesat adalah menanyakan pada sumber atau alamat yang salah. Kalau saya menanyakan IHSG kepada orang gila, saya akan tersesat. Saya tanya kepada manusia yang pengetahuannya seimprit-imprit, saya bakal tersesat. Sudah seimprit, dimanipulasi pula. Maka saya makin tersesat.
            Tersesat itu karena yang ditanya bisa jadi mulai berpikir, jawaban apakah yang bisa menguntungkan saya tanpa memedulikan kerugian yang bakal diterima oleh si penunggu jawaban. Jadi, malu bertanya tak akan sesat di jalan, tetapi menanyakan kepada manusia yang pengetahuan dan kondisi jiwanya tidak sehat yang akan menyesatkan.
            Setelah malam itu, saya membaca tulisan begini di social media. Orang tua marah itu hanya atas dasar demi kebaikan kita. Saya kesetrum dan berpikir secara sederhana karena kemampuan otaknya yaa…juga sederhana. Marah itu tidak baik. Titik. Mau itu dilakukan oleh orang tua kek, setengah tua kek, setengah muda kek, marah adalah perilaku yang tidak baik. Mengapa kalau orang tua marah selalu dikonotasikan baik?
            Masih banyak hal yang belakangan menggalaukan hati. Minggu depan saya mau melanjutkan kegalauan ini setelah membaca buku cara menjadi sukses. Saya mau istirahat saja dulu. Ternyata lelah batin itu lebih parah efeknya dari hanya sekedar badan yang gempor.

inspiratif VIII


HEBAT DAN TIDAK HEBAT
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 27 Maret 2011

Saya mebaca sebuah pesan di media sosial begini. “Suami saya jarang memberikan komplimen. Sekalinya dia memuji, itu berarti apa yang saya lakukan itu hebat banget.” Kalimat itu membuat saya berpikir selama satu minggu.
            Begitu banyak sudut pandang yang bisa diceritakan kalau hanya sekadar membaca kalimat yang buat saya pertama berkesan, kurang ajar banget nih suami.
Kompor
            Tetapi kemudian saya mendiamkannya. Selama satu minggu. Memang benar kadang emosi itu diperlukan, tetapi kalau mudah meledak, juga gak ada baiknya. Emosi yang meledak itu tak membawa manusia ke sebuah situasi yang nyaman.
            Setelah berusia nyaris lima puluh tahun sebagai kompor yang mudah meledak, baru belakangan, saya baru bisa mengurangi pembeledukan itu. La wong rekan usaha saya suka bilang gini, “Gue mau bacain SMS ini ya. Cuma elo nggak boleh emosi.” Kalimat itu selalu diucapkannya sampai hari ini.
            Setelah satu minggu, saya mulai berpikir, apa sih hebat dan tidak hebat itu? Kalau sekarang saya yang disuruh menjelaskan, dari kacamata manusia yang IQ-nya standar banget, yaa… hebat itu kalau dari nol bisa menjadi nol koma lima, tak perlu sampai satu atau satu miliar. Pertumbuhan dari nol menjadi tidak nol lagi, atau dari tidak tahu menjadi tahu sedikit dulu, buat saya itulah yang namanya hebat.
            Lagian saya punya pengalaman begini. Orang marah terhadap saya karena mereka memiliki IQ yang lebih tinggi dan mengajar saya yang IQ-nya serendah dingklik. Maka, nggak ketemulah dua dunia yang berbeda secara ekstrem itu. Kemudian timbul friksi dalam wujud suara berbunyi seperti ini, “Tolol kamu.” Anda tahu pastinya, IQ mana yang “bernyanyi” seperti itu, bukan?
            Yang dilahirkan hebat, kebiasaan menjadi hebat. Mereka senantiasa melihat dengan IQ yang setinggi langit. Mereka tak terbiasa menjadi bodoh. Itu bukan salah mereka, megapa mereka pandai. Meski dunia senantiasa menyalahkan yang bodoh, padahal saya sama seperti yang hebat, itu bukan salah yang tidak hebat kalau punya IQ serendah dingklik. Tapi, umumnya, yang hebat biasanya tak mau tahu.
            Saya punya teman yang punya bos. Teman saya bilang begini, “Bos gue itu nggak galak, tapi gak suka sama bawahan yang cuma bisa bilang, proyek ini gak bisa dijalankan. Bos gue tu mau tau, kalau nggak bisa, cari solusi supaya bisa.”
            Begitulah kalau yang hebat ketemu yang nggak hebat. Yang hebat bisa memilih langkah sejuta, yang biasa-biasa mau melangkah saja deg-degan. Anehnya, yang hebat menaruh harapan pada yang deg-degan itu.
Kecoak
            Kadang saya juga heran, apa gunanya ada orang yang tidak hebat dan orang yang hebat? Sama seperti saya berpikir, apa gunanya kecoak diciptakan? Kalau harimau, kan gagah. Dibantau masih bisa dijadikan hiasan dinding yang menggambarkan pemilik rumahnya hebat dan gagah perkasa. Kecoak? Kan gak mungkin dijadikan hiasan dinding.
            Yang tidak hebat bisa mengontrol yang hebat supaya mereka melatih kesabaran. Karena hebat dan kesabaran tidak berbanding lurus. Sama seperti kecoak, untuk memberi tanda bahwa rumah si hebat dan yang tidak hebat kotornya luar biasa. Artinya, sebodoh apa pun manusia itu, pasti ada sisi di mana ia masih berguna di dunia ini.
            Karena yang hebat bisa jadi bodoh di sisi lain. Yang bodoh bisa jadi pandai di sisi yang lain. Maka, orang disebut hebat kalau ia peka menemukan sisi pandai orang yang tidak hebat, dan bukan mengeluh betapa tidak hebatnya si tidak hebat itu.
            Kembali pada kalimat di atas. Kalau sang istri mengatakan suaminya jarang memberikan komplimen dan hanya memberikan pujian kalau ia melakukan sesuatu yang hebat, itu bisa diartikan macam-macam.
            Pertama, bisa jadi suaminya takut menjadi kalah hebat dan meleceh dalam waktu yang bersamaan. Kedua, bisa jadi, sang suami susah mengekspresikan perasaan. Dengan IQ yang tidak hebat, saya berpikir, manusia di mana pun kok rasanya lebih suka menerima pujian dibandingkan caci maki.
            Komplimen itu menyemangati hidup dan bentuk sebuah penghargaan. Nah, menerima pasangan dengan segala sifatnya tidak diartikan untuk tidak mau berubah. Kalau susah mengekspresikan perasaan, belajar. Jangan orang disuruh menerima semata.

inspiratif VII


DUTA BESAR
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 20 Maret 2011

Ketika sedang memerhatikan kartu tanda penduduk yang sebentar lagi habis masa berlakunya, nurani saya menghadapkan sebuah pertanyaan. Sebenarnya, KTP saya yang sesungguhnya itu yang mana? Apakah benar seperti benda yang sedang saya perhatikan ini, dengan masa kaluwarsa yang sudah ditentukan?
            Saya membalas dalam hati, kalau soal KTP, yaaa…. mau yang mana lagi. Paling juga ada yang namanya paspor. Nurani itu bersuara lagi. “Coba dipikir lagi. Pelan saja, tak usah terburu-buru.” Maka saya berpikir makin keras dan tak menemukan jawaban.
KTP 1
            Kemudian suara itu menghilang. Saya ditinggal sendiri dalam kegalauan dan bertanya apakah memang selain KTP, saya masih punya “KTP” lain? Beberapa minggu setelah pertanyaan yang tak bisa saya jawab itu, teman saya mem-BBM saya. “Sabtu malam elo katanya joget-joget di atas meja, ya? Ada yang foto tuhdah kumat lagi?” pesan itu berlanjut. “Sadar, Mas. Sadar. Katanya kamu sekarang sudah tobat. Tunjukkan, Mas, KTP barumu itu.”
            Membaca pesan itu, saya marah. Dalam hati saya protes, tobat kan tidak sama dengan bebas 100 persen dari kekurangan. Kalaupun saya tobat, kan, saya enggak jadi malaikat. Saya benar-benar sakit hati setelah membacanya. Saya tak terima bahwa tobat itu disamakan dengan suci. Saya tak pernah suci, bahkan ketika bertobat sekalipun. Hari itu saya benar panas hati. Saya tak suka dihakimi.
KTP 2
            Beberapa hari setelah hati panas dan kepala sudah dingin, saya mulai mengerti dengan pertanyaan nurani saya di atas. Biasa, kalau sudah panas sampai puncak, langsung mendingin dan malu denagn sendirinya. Nah, saat suhu mulai turun, saya menyadari selain punya KTP yang harus diperbaharui itu, saya masih punya KTP yang kedua, yaitu tabiat saya.
            Perilaku keseharian, cara saya mengambil keputusan, cara saya mengisi SPT, apa yang hendak saya isi dalam SPT itu, berapa besar angka yang akan saya tulis. Termasuk bagaimana saya berpakaian, semuanya menunjukkan siapa saya.
            Kalau saya ini memercayai Yang Maha, mengapa saya punya perilaku yang tak Maha? Artinyamenjadi mudah tersinggung, naik pitam, mudah tak percaya diri, dan mudah tak mengontrol diri. Kalau saya ini tak bisa suci, itu berarti mengurangi ketidakbenaran bukan mengaminkan bahwa saya bisa melakukan ketidakbenaran kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja.
Tidak suci juga tak berarti karena saya manusia yang punya kelemahan untuk menjadi suci, terus saja membiarkan diri lemah, tak mencoba melatih untuk kuat sekali-sekali. Karena yang sekali-sekali kalau terus dikali sekali-sekali menjadi berkali-kali, dan lama kemudian menjadi kebiasaan. Sama seperti sekali-sekali menipu, lama-lama berkali-kali dan menjadi kebiasaan. Dan di stadium terminal, berakhir menjadi bebal, bahkan bisa balik bertanya. “Emang gue nipu?”
Dengan suhu yang semakin turun, terlintas pikiran seperti ini. Kalau Presiden RI menunjuk saya sebagai Duta Besar Perancis, misalnya, apakah artinya itu? Artinya saya harus mampu menceritakan negeri ini di negeri anggur itu. tentu citra yang baik. Bagaimana saya berkomunikasi, misalnya. Ini contohnya. Teman saya seorang PR mengajarkan saya begini. “Kamu itu bukan korban dari gagal ginjal, kamu itu survivor.”
Mau mengatakan contoh di atas adalah ucapan munafik atau bersifat manipulatif, atau sebuah tips cara yang benar dalam sebuah komunikasi, itu urusan Anda dan saya. Nah, kalau sebagai duta saja saya tidak mencitrakan negeri ini, apalah gunanya saya dijadikan duta? Apalagi duta yang besar.
Selama ini cara berpikir saya keliru. Kalau saya ada di dunia ini, lahir dari seorang manusia dunia, saya berpikir saya adalah warga dunia. Saya keliru besar. Bahwa saya lahir itu adalah anugerah Ilahi, bukan hanya sekadar pertemuan sel telur dan sperma orangtua.
Jadi, eksistensi saya adalah anugerah Ilahi. Maka, keberadaaan saya ini bukan untuk saya, tetapi untuk yang memberi anugerah itu. Artinya, saya ini “duta besar” Sang Pencipta di dunia. Nah, kalau saya jadi duta besar negeri ini berusaha keras mencitrakan yang baik, kok saya bisa tenang-tenang mencitrakan yang buruk sebagai “duta besar” Sang Pencipta?
Nurani saya nyamber pada saat-saat yang tepat seperti itu. “Saya mngerti bahwa sampeyan itu memang otak sama nuraninya kalau loading leletnya setengah mati. Lamaaaa… untuk bisa mengerti.”