Tuesday, February 15, 2011

inspiratif


KOMITMEN
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 26 Desember 2010

Seorang pendeta muda yang tampan berjanji untuk menjadi pengkhotbah di satu akhir pekan beberapa bulan lalu di sebuah persekutuan doa. Saya bukan mau menulis soal ketampanan fisiknya, tetapi betapa tidak tampan isi jiwanya, Ups… Anda pasti langsung mau menasihati untuk tidak menghakimi, bukan? Tak masalah. Silakan.
            Panitia sudah memberitahunya sejak beberapa minggu sebelum acara berlangsung dan ia mengatakan bersedia memenuhi undangan itu. Namun sayang seribu sayang, pada menit-menit terakhit ia membatalkannya karena terbang ke kota lain untuk memenuhi undangan yang persis sama dengan cerita di atas. Waktu saya diberi tahu salah satu anggota persekutuan doa itu, saya bertanya kepada diri sendiri. Memang kalau pendeta itu enggak perlu punya agenda kerja, ya?
“Dry Clean”
            Kasus berikutnya. Persekutuan doa di atas berencana mengadakan acara Natalan, dengan mengundang paduan suara anak-anak untuk beraksi dalam acara itu. Mereka menyanggupi dan sudah diinformasikan jauh sebelum acara tahunan ini berlangsung. Sekali lagi, sayang seribu sayang, paduan suara itu membatalkannya empat puluh delapan jam sebelum acara yang awalnya sudah disanggupi mereka untuk dipenuhi. Alasannya? Karena ada donatur yang mengajak mereka dah-nek, dah-nek di dunia fantasi.
            Pemberitahuan itu disebarkan di BBM group persekutuan doa itu, dan yang pertama nyolot siapa lagi kalau bukan saya. Maka, saya menulis begini. Kecil-kecil saja sudah tak punya komitmen, gimana besarnya?
            Satu anggota membalas. “Itu bukan anaknya, Mas, pasti pengurusnya yang mau dah-nek, dah-nek.” Satu pesan muncul lagi dari salah satu anggota lainnya. “Udah gue balesin kok dan gue bilang gini aja. Kok mendadak banget sih. Yaa… kalau cuma segitu profesionalisme yang bisa dintujukkan, yaa… saya mau apalagi.” Teman saya cuma mikir, kalau tampil di acara malam Natalan, kan, bisa menumbuhkan kepercayaan diri. Ini, kok, malah diajak mainan dan diajarkan tidak memilikikomitmen.
            Saya selalu dicekoki untuk menjadi manusia yang profesional. Setelah melihat dua kejadian di atas, profesionalime hanya bisa diwujudkan kalau punya komitmen. Dan komitmen tak bisa diwujudkan kalau kebersihan jiwanya juga tak pernah dilakukan. Bagaimana cara membersihkannya? Secara dry clean untuk melepaskan kotoran jiwa juga tak pernah ada di dunia ini. Nurani saya berteriak. “Gue gue gue… Elo  mesti sering-sering deket-deket gue, jadi elo pada bisa bersih.”
            Saya sendiri acap kali bertanya, apakah pelacur, koruptor, pembunuh, atau penyelingkuh itu tak pernah di suatu hari merasa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kekeliruan? Nurani saya langsung nunjuk. “Eh… sana enggak usah liat orang lain… coba tanya ama diri elo sendiri.”.
Ganteng aja dulu
            Pada saat saya berselingkuh, nurani saya bereaksi dalam bentuk rasa resah karena saya tahu persis apa yang saya lakukan adalah sebuah kesalahan. Resah itu karena nurani bergetar dan getaran itu adalah reaksi dari pertemuan dua hal yang berbeda secara ekstrem. Benar dan tidak benar.
            Tetapi masalahnya, saya kesepian dan tidak laku bertahun lamanya. Saya berpikir ini sebuah kesempatan emas yang tak bisa disia-siakan. Maka nurani saya yang awalnya berfungsi sebagai tanda peringatan dengan bunyi ngoeng-ngoeng-nya, lama-lama menjadi tak terdengar lagi hanya gara-gara memanfaatkan kesempatan yang kata dunia tak akan datang dua kali itu. Jadi, untuk menghilangkan ngoeng, saya harus pandai mencari alasan yang bnar-benar mantap.
            Perselingkuhan itu adalah sebuah tanda yang sangat nyata kalau membungkam nurani itu ternyata bisa dilakukan. Dan kalau dilatih terus-menerus, aktivitas macam itu bisa berlangsung lama dan selamanya. Saya bisa bertahan dua tahun tanpa merasa bersalah, tanpa merasa kikuk dan tak ada satu hari pun di mana saya merasa apa yang saya perbuat sudah mencelakakan semua orang, dan membuat satu orang yang awalnya tidak berbohong menjadi tukang bohong. hanya untuk pemuasan diri, nurani sendiri saya bungkam, orang lain saya jadikan sasaran kesengsaraan.
            Saya berterima kasih kepada si pengkhotbah tampan dan paduan suara anak-anak dan panitianya bahwa mereka melakukan tindakan itu sehingga saya bisa belajar dari mereka dan moga-moga saya naik kelas dan tidak mati saat sedang melanggar komitmen.
            Dan saya berdoa semoga anak-anak kecil itu tak dibiasakan membungkam nurani sehingga pada suatu hari kalau ada yang menjadi pejabat, mereka tak menambha daftar koruptor di negeri ini. Dan soal pendeta tampan itu? Saya tak tahu mau ngomong apa. Saya mengharap ia tetap ganteng sehingga teman-teman di persekutuan doa banyak yang datang. Menyelamatkan jiwa tanpa komitmen, tetapi dengan ketampanan fisik. Menarik juga dan benar-benar out of the box.

No comments:

Post a Comment