Saturday, March 5, 2011

inspiratif VI


MENUAI BADAI
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 27 Februari 2011

Di suatu pagi saya menerima sebuah berita kalau seorang teman sedang sekarat menghadapi ajal karena penyakit yang mematikan. Saya membalas berita itu dengan kalimat singkat. “Kok bisa sih?” Teman yang mengirim pesan itu membalas kembali. “Kasihan ya. Yaaa…elo tahulah perjalanan hidupnya.” Saya diam. Sejujurnya saya tak kasihan. Saya lebih tertarik pada kalimat kedua, “Ya elo tahulah perjalanan hidupnya.”
1, 2, 3
            Saat saya gagal ginjal, saya protes ke Atas. Tetapi di titik terendah, saya menyadari Tuhan memang Pencipta, sayalah yang bertanggungjawab atas apa yang diciptakan-Nya untuk saya. Jadi, kalau musibah menimpa, maka berteriak dan menyesal di menit pertama adalah sebuah kekeliruan. Yang benar adalah bertanya pada diri sendiri. Mengapa ini terjadi? Apakah yang selama ini saya tabur sehingga bisa sampai seperti ini? “Di dunia ini selalu akan ada harga yang harus saya bayar.”
            Sebuah perjalanan selalu dimulai dengan babak awal. Langkah menuju garis akhir itu ditentukan sejak awal. Bukan baru mau berakhir berpikir cara melangkah. Kadang bisa jadi demikian karena baru mendapat pencerahan di akhir maut. Tetapi mendapat pencerahan atau katakan kesempatan kedua atau tidak, bukan saya yang menentukannya. Karena kesempatan kedua belum tentu datang.
            Dulu saya berpikir bahwa kalau saya mati pasti masuk surga. Karena saya punya pemikiran seperti ini. Pertama, saya yang menentukan hidup. Saya pikir nyawa saya itu bisa saya pegang selamanya, bahkan saya yang menentukan nyawa.
            Kedua, saya pikir bahwa kesempatan kedua itu berbanding lurus dengan bertambahnya usia dan tingginya pendidikan. Saya lupa kesempatan itu bukan saya yang memberikannya. Ketiga, bahwa sistem tabur tuai itu tak selalu demikian. Saya berpikir kalau saya menabur yang kotor dan enggak karu-karuan, maka yang saya tuai belum tentu tak karu-karuan.
4, 5, 6
            Keempat, saya berpikir bahwa Tuhan yang saya percayai itu selalu setuju dengan perbuatan saya itu karena Tuhan itu Maha Mengerti, Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang. Saya memastikan diri sendiri kalau Ia mengerti mengapa tak henti-hentinya saya mabuk dan tak sadarkan diri seminggu sekali.
            Tak sadarkan diri menjadi sesutau yang lazim dan saya malah balik bertanya: “Apakah memalukan itu? Apakah bermoral itu?” Karena di dunia ini, seru itu kalau semua dalam keadaan limbung. Sehat itu tak seru. Punya kehidupan yang benar itu tak seru. Seperti sayur tanpa garam. Saya memasukkan garam terlalu banyak, dan dunia bersorak-sorai dan makin membuat saya lupa daratan.
            Kelima, saya membandingkan kehidupan yang saya pilih dengan mereka yang juga di dunia gelap. Membandingkan itu adalah salah satu cara agar kegelapan yang saya alami tak terlalu kelihatan gelap karena masih ada yang lebih gelap dibandingkan saya.
            Keenam. Saya acapkali dan mudah terpengaruh dengan cara pandang dunia yang belum tentu benar itu. Ini salah satunya. Saya punya prinsip manusia itu memiliki hak untuk mengacaukan hidupnya dan memperbaikinya. Mau narkoba tak masalah, bunuh diri juga gak papa, mau soleh hayu aja.
            Saya melihat itu sebagai hak manusia. Saya mengaminkannya karena waktut di kegelapan itu saya pikir bermoral atau tidak, itu karena saya dibuatkan SOP untuk bermoral dan SOP tidak bermoral. Keluar dari SOP, maka yang mematuhi SOP mulai bernyanyi dengan suaranya yang mngalahkan suara Maria Callas ditambah Iron Maiden.
            Maka lama sekali saya berada dan malas beranjak dari kegelapan itu. Dan ketika lampu dinyalakan melalui peristiwa mematikan, saya terjaga dan sudah di tepi jurang. Sendiri. Di ujung hidup, mereka yang bersorak karena garam saya banyak dan disebut seru karena limbung tak pernah muncul di rumah sakit.
            Perlukah Anda mengasihani manusia seperti saya? Kalau saya tidak. Mengapa saya harus mengasihani kalau seseorang sudah menentukan hidup yang dimauinya sejak awal? Jantan itu adalah berani bertanggungjawab atas apa yang telah ditentukan dirinya sendiri, baik secara emosional atau tidak. Jantan itu tak pernah mengirimkan BBM atau SMS berbunyi: “Kasihan ya?”
            Kasihan itu adalah berani melanggar ajaran-Nya di awal dan selama perjalanan hidup, dan tidak malu memohon pertolongan-Nya di akhir maut.

inspiratif V


BELAJAR BERBICARA
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 23 Januari 2010

Bersama seorang teman, saya menikmati sore hari dengan duduk-duduk sambil mengobrol di kedai kopi. Di mal tentunya. Salah satu obrolan itu begini. Teman saya kesal karena salah satu temannya kalau berbicara selalu terkesan show off . “Masak doi ngomong gini. Mobil BM gue lagi dipinjem saudara ke Bandung,” jelasnya. “Emang penting nyebutin merek mobil? Enggak bisa ya kalau bilang gini aja… mobil saya sedang dipinjam saudara ke Bandung. Mang gue peduli obil doi apa?” “Gue tahu sih doi mang kaya raya.”
Pohon dan buahnya
            Dalam hati saya terpingkal-pingkal. Mereka yang kaya cukup pantas berbicara seperti itu, laaa… saya ini kaya saja tidak, kalau bicara, yaaa… kayak gitu itu. Baru saja saya terpingkal, teman saya nyerocos lagi. “Mbok enggak usah show off. Kalau nanti ditanya saja baru menjelaskan. Kalau enggak ditanya, biasa aja napa? Emang susah ya kalau ngomong keluar kota aja, enggak usah ke luar negeri? Maksud gue, kalaupun elo ke luar negeri, emang beda rasanya kalau hanya mengucap keluar kota?
            Nurani saya langsung menyambar seperti biasa. “Ya iyalaaaahhhhh…” Tetapi begitulah kenyataan yang ada. Meski saya pikir tak semua orang kalau bicara punya niat show off. Pemikiran itu tak saya lontarkan kepada teman saya itu. Belum selesai menjelaskan, suaranya menyambar. “Gini ya, cong… kalau elo tu orangnya rendah hati, kalau niat elo dari lubuk hati yang terdalam emang enggak mau show off, yang keluar yaaa… enggak bakalan sesuatu yang show off. Ngerti?” Saya diam seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.
            “Liat elo aja. Waktu elo difoto salah satu majalah interior, elo bilang elo pakai kemeja dan kemben di atasnya. Menurut elo, niat elo apa? Pakai baju kayak gitu kalau enggak mau cari sensasi,” katanya lagi.
            Setelah redam emosinya, saya menjelaskan kalau saya itu tak mencari sensasi. Dia meragukan penjelasan itu. “Ra percoyo aku,” begitu jawabnya singkat. “Tidak ada pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak ada orang yang katanya punya niat tidak show off, menghasilkan kalimat-kalimat dan perilaku yang show off, “ lanjutnya lagi.
            Ia tak percaya, kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya percaya pada apa yang diucapkan tadi. Bahwa saya tak mencari sensasi? Kalau mau jujur, ada sekian persen memang mau cari sensasi saat saya memadukan kemeja pria dengan kemben. Saya bisa menggunakan alasan, saya manusia kreatif, mau berpikir out of the box. Tetapi nurani sendiri tentu tak bisa saya kibuli.
Mulut dan isinya
            Kadang ucapan yang sepertinya show off itu katanya bisa jadi menembuhkan kepercayaan orang lain atas diri kita. Seperti kalau punya satu toko, beda kesan atau respon yang diberikan kalau punya sekian toko. Secara finansial, mengurusi satu toko sangat tidak efektif dibandingkanpunya sekian toko. Ya, meski toko-tokonya itu masih dalam berutang dengan bank. Itu bukan yang hendak saya bicarakan.
            Mulut saya sudah lama dikenal dan dianggap jahat, bahkan sampai sekarang ini. Menusuk seperti belati. Kalimat-kalimat yang menghambur keluar dari mulut sayaitu seringkali tak senonoh. Tak dipikirkan terlebih dahulu. Sangat benar, saya ini sering kali nyerocos dulu baru kemudian berpikir akibatnya.
            Saya juga manusia yang kalau sudah berbicara susah berhenti, dan yang paling buruk dari semua itu, saya tidak memberi kesempatan orang memberi respons atau menjelaskan maksud dan isi kepalanya. Singkat cerita, saya ini tidak terlalu peduli dengan apa yang dibicarakan orang lain, yang penting tujuan saya tercapai.
            Saya menggunakan kalimat atau kata yang tepat, juga tak banyak saya pikirkan. Satu hal lagi yang harus saya latih dalam urusan belajar berbicara adalah bijak memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan. Bijak melihat situasi dan memedulikan kondisi orang lain. Saya tak bisa langsung nyerocos kapan saya berkehendak. Dulu saya pikir, orang itu memang kadang sepantasnya dicerocosi tak perlu melihat situasi.
            Saya salah besar. Menyerocosi itu bukan bertujuan memuaskan kekesalan dan merasa lega sendiri, tetapi membuat orang naik kelas, artinya ia tahu kesalahan dan diperbaiki. Sehingga kelegaan bisa dinikmati oleh dua belah pihak. Maka, katanya tak perlu membuang energi untuk berteriak dan meninggikan suara. Itu melelahkan. Katanya loh.
            Dan tentu di atas segala-galanya, isi yang maha penting. Saat mulut mulai “bernyanyi” itu tak hanya mencerminkan isi, tetapi mencerminkan siapa saya yang sesungguhnya. Yaaa.. latar belakang, tingkat kedewasaan, tingkat pendidikan, dan gaya hidup.
            Maka akan menjadi aneh bin ajaib kalau nama saya ada mulianya, sementara cara saya berbicara dan isi yang disampaikan jauh dari makna mulia.