MENUAI BADAI
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 27 Februari 2011
Di suatu pagi saya menerima sebuah berita kalau seorang teman sedang sekarat menghadapi ajal karena penyakit yang mematikan. Saya membalas berita itu dengan kalimat singkat. “Kok bisa sih?” Teman yang mengirim pesan itu membalas kembali. “Kasihan ya. Yaaa…elo tahulah perjalanan hidupnya.” Saya diam. Sejujurnya saya tak kasihan. Saya lebih tertarik pada kalimat kedua, “Ya elo tahulah perjalanan hidupnya.”
1, 2, 3
Saat saya gagal ginjal, saya protes ke Atas. Tetapi di titik terendah, saya menyadari Tuhan memang Pencipta, sayalah yang bertanggungjawab atas apa yang diciptakan-Nya untuk saya. Jadi, kalau musibah menimpa, maka berteriak dan menyesal di menit pertama adalah sebuah kekeliruan. Yang benar adalah bertanya pada diri sendiri. Mengapa ini terjadi? Apakah yang selama ini saya tabur sehingga bisa sampai seperti ini? “Di dunia ini selalu akan ada harga yang harus saya bayar.”
Sebuah perjalanan selalu dimulai dengan babak awal. Langkah menuju garis akhir itu ditentukan sejak awal. Bukan baru mau berakhir berpikir cara melangkah. Kadang bisa jadi demikian karena baru mendapat pencerahan di akhir maut. Tetapi mendapat pencerahan atau katakan kesempatan kedua atau tidak, bukan saya yang menentukannya. Karena kesempatan kedua belum tentu datang.
Dulu saya berpikir bahwa kalau saya mati pasti masuk surga. Karena saya punya pemikiran seperti ini. Pertama, saya yang menentukan hidup. Saya pikir nyawa saya itu bisa saya pegang selamanya, bahkan saya yang menentukan nyawa.
Kedua, saya pikir bahwa kesempatan kedua itu berbanding lurus dengan bertambahnya usia dan tingginya pendidikan. Saya lupa kesempatan itu bukan saya yang memberikannya. Ketiga, bahwa sistem tabur tuai itu tak selalu demikian. Saya berpikir kalau saya menabur yang kotor dan enggak karu-karuan, maka yang saya tuai belum tentu tak karu-karuan.
4, 5, 6
Keempat, saya berpikir bahwa Tuhan yang saya percayai itu selalu setuju dengan perbuatan saya itu karena Tuhan itu Maha Mengerti, Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang. Saya memastikan diri sendiri kalau Ia mengerti mengapa tak henti-hentinya saya mabuk dan tak sadarkan diri seminggu sekali.
Tak sadarkan diri menjadi sesutau yang lazim dan saya malah balik bertanya: “Apakah memalukan itu? Apakah bermoral itu?” Karena di dunia ini, seru itu kalau semua dalam keadaan limbung. Sehat itu tak seru. Punya kehidupan yang benar itu tak seru. Seperti sayur tanpa garam. Saya memasukkan garam terlalu banyak, dan dunia bersorak-sorai dan makin membuat saya lupa daratan.
Kelima, saya membandingkan kehidupan yang saya pilih dengan mereka yang juga di dunia gelap. Membandingkan itu adalah salah satu cara agar kegelapan yang saya alami tak terlalu kelihatan gelap karena masih ada yang lebih gelap dibandingkan saya.
Keenam. Saya acapkali dan mudah terpengaruh dengan cara pandang dunia yang belum tentu benar itu. Ini salah satunya. Saya punya prinsip manusia itu memiliki hak untuk mengacaukan hidupnya dan memperbaikinya. Mau narkoba tak masalah, bunuh diri juga gak papa, mau soleh hayu aja.
Saya melihat itu sebagai hak manusia. Saya mengaminkannya karena waktut di kegelapan itu saya pikir bermoral atau tidak, itu karena saya dibuatkan SOP untuk bermoral dan SOP tidak bermoral. Keluar dari SOP, maka yang mematuhi SOP mulai bernyanyi dengan suaranya yang mngalahkan suara Maria Callas ditambah Iron Maiden.
Maka lama sekali saya berada dan malas beranjak dari kegelapan itu. Dan ketika lampu dinyalakan melalui peristiwa mematikan, saya terjaga dan sudah di tepi jurang. Sendiri. Di ujung hidup, mereka yang bersorak karena garam saya banyak dan disebut seru karena limbung tak pernah muncul di rumah sakit.
Perlukah Anda mengasihani manusia seperti saya? Kalau saya tidak. Mengapa saya harus mengasihani kalau seseorang sudah menentukan hidup yang dimauinya sejak awal? Jantan itu adalah berani bertanggungjawab atas apa yang telah ditentukan dirinya sendiri, baik secara emosional atau tidak. Jantan itu tak pernah mengirimkan BBM atau SMS berbunyi: “Kasihan ya?”
Kasihan itu adalah berani melanggar ajaran-Nya di awal dan selama perjalanan hidup, dan tidak malu memohon pertolongan-Nya di akhir maut.