Thursday, February 9, 2012

tulisan saya, 090212

Belajar: Sebuah Kontinuitas Proses, bukan Pemberhentian Akhir

            Banyak orang berkata bahwa belajar merupakan sesuatu yang dijalani seseorang seumur hidupnya. Belajar adalah proses yang tidak pernah berhenti, yang hanya akan berakhir ketika manusia menemui ajalnya. Walaupun pandangan tersebut terdengar begitu konservatif dan kuno, tetapi toh buat saya kita tidak bisa memungkiri kebenarannya.
            Setiap anak manusia tidak bisa tidak mengalami proses belajar, bahkan sejak pertama kali kehadirannya di dalam dunia ini. Manusia belajar mengenali lingkungannya, belajar kemampuan motorik, belajar kemampuan verbal, sebelum pada akhirnya anak manusia ini masuk ke dalam institusi-institusi pendidikan pada tingkatan usia tertentu.
            Bicara mengenai institusi pendidikan, kita semua tau bahwa betapa pesatnya kemajuan yang dialami institusi pendidikan tanah air dalam kurun waktu belakangan ini. Dunia pendidikan dengan cepat melebarkan sayapnya, menjangkau berbagai kalangan masyarakat dari berbagai tingkatan usia. Bahkan anak-anak yang pada mulanya pertama belajar di Taman Kanak-kanak (TK) pada usia sekitar 4 tahun, kini sudah bisa mengenyam pendidikan yang sangat dasar di Kelompok Bermain (KB) atau Play Group, atau bahkan di institusi pendidikan yang mulai menjamur kurun waktu belakangan ini yaitu PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini sejak usia sekitar 2 tahun.
            Tetapi sayangnya dalam pengamatan saya, perkembangan yang terjadi di dalam dunia pendidikan ini tidak serta merta selalu mampu memproduksi moral dan mentalitas yang baik. Orientasi dunia pendidikan masa-masa ini mulai banyak menyimpang dari orientasi yang semestinya. Terlepas dari begitu banyaknya institusi pendidikan yang dijadikan sebagai media komersialisasi dan atau politisasi oleh berbagai pihak, saya memandang bahwa terjadi banyak disorientasi di dalam institusi-institusi ini yang disumbang oleh elemen-elemen yang menjadi bagian daripadanya.
            Salah satu kesalahan besar yang saya dapati adalah bahwa dalam kurun waktu belakangan ini, seiring dengan begitu pesatnya perkembangan yang terjadi di berbagai bidang kehidupan manusia, belajar yang merupakan jantung dari setiap insititusi pendidikan yang ada mengalami perubahan dalam pemaknanannya. Belajar kini tidak lagi dipandang sebagai suatu proses berkesinambungan yang memang semestinya ada dalam setiap tahap kehidupan manusia, tetapi adalah sebagai suatu kewajiban yang terlebih dulu dilakukan sebelum mendapatkan hak berupa rentetan nilai-nilai yang harus dimiliki setiap pesertanya. Belajar kini tidak lagi diukur dari seberapa banyak yang Anda terima dan mampu aplikasikan, tetapi dari seberapa tinggi nilai dan pencapaian Anda di akhir.
            Sebenarnya hal tersebut tidak sepenuhnya keliru, hanya saja menurut saya kekeliruan akan muncul jika angka, nilai, atau penghargaan di akhir kemudian dijadikan tolok ukur Anda untuk berhenti. Jelas salah. Bukan hanya angka yang menjadi inti dari proses ini, bukankah angka kini banyak diperjualbelikan? Bukan hanya penghargaan yang menjadi tujuan Anda dalam belajar, bukankah penghargaan kini pun bisa dipalsukan?
            Jika pola pikir seperti ini tidak berubah, saya khawatir institusi pendidikan kita akan mencetak banyak individu yang “kopong”, karena hanya kerangka saja yang dipertebal dengan pencapaian dan angka-angka. Tidak heran jika di sekitar saya saja begitu banyak orang yang mengabaikan pertemanan, lingkungan sosial, dan bahkan kemanusiaannya hanya demi nilai. Lalu untuk apa nilai itu? Cerdas yang sesungguhnya dalam kacamata saya adalah bukan yang demikian. Begitu menyedihkannya jika semua orang kemudian berlomba-lomba mencapai titik akhir tanpa menikmati proses dan mencerna setiap pembelajaran, sekecil apapun itu, yang tidak mungkin tidak ada di dalam belajar yang paling singkat sekalipun. Ketika orientasi terhadap hasil akhir tidak bisa diubah, saya tidak bisa mendeskripsikan seperti apa produk-produk institusi pendidikan nantinya.
Tanpa bermaksud sok tau atau menghakimi, saya hanya merasa prihatin pada beberapa kasus yang saya temui di media massa.
Seperti ketika musim ujian akhir sekolah, begitu banyak sekolah yang menggelar acara-acara keagamaan bersama dengan memohonkan kelulusan pada Yang Kuasa. Tidak salah memang. Saya pun merasa hal seperti ini tetap perlu. Tetapi menjadi salah karena Tuhan kemudian seolah-olah dijadikan sebagai momok yang menakutkan, yang bisa saja tidak memberikan kelulusan pada seseorang; Tuhan dipandang sebagai Yang Jahat ketika ada seseorang yang tidak lulus setelah melakukan serangkaian ibadah demi memohonkan doanya. Tuhan dijadikan sebagai sosok yang absurd, yang diciptakan oleh para guru dan orang tua. Begitukah semestinya? Sedikitpun tidak. Benarlah ibadah menjelang ujian adalah perlu, sebagai upaya memberikan ketenangan batiniah tapi, bukan keragu-raguan kalau-kalau Tuhan tidak hendak mengabulkan doa. Tetapi institusi pendidikan macam apa pula yang menggelar ibadah semalaman suntuk untuk memanjatkan doa, di mana waktu yang ada semestinya bisa dimanfaatkan pesertanya untuk istirahat atau menikmati proses belajar yang memang sangat perlu diperhatikan dalam masa-masa seperti demikian. Tuhan bukan yang pihak yang memberikan kelulusan pada Anda, tetapi Dia yang memberikan penyertaan dan kekuatan, setidaknya itu dalam kacamata saya.
Belum lagi, dalam masa ujian akhir sekolah juga, jual beli kunci jawaban dan kerja sama pada saat ujian menjadi problema yang seolah-olah terus menghantui institusi pendidikan kita dari tahun ke tahun. Tidak pernah ada yang tau bagaimana menyelesaikannya hingga tuntas. Problema ini kemudian menjadi menggantung, tanpa jalan keluar apapun. Sebenarnya dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan para peserta didik dan atau menudingnya tidak bermoral baik. Bukan itu inti permasalahannya. Mereka ini sudah terlanjur termakan pengajaran untuk mengejar hasil akhir, bahwa hasil akhir adalah bagian terpenting dari belajar; bukan prosesnya, apalagi mentalitas dan moralitas yang benar daripadanya.
Tetapi sekali lagi hendaknya kita tidak mempersalahkan atau menuding pihak manapun terhadap berkembangnya disorientasi dalam institusi pendidikan terkait pemahaman konsep belajar ini. Introspeksi diri tetap adalah yang terbaik. Apakah Anda adalah salah satu dari yang memahami konsep yang salah ini? Jika ya, tetap Anda tidak bisa menyalahkan pihak-pihak manapun yang ikut terlibat dalam memberikan Anda suatu sudut pandang yang salah.
Semuanya, sekali lagi, seperti juga yang telah saya kemukakan pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, adalah kembali pada masing-masing individu. Kita tetap harus menyaring setiap hal baik berupa informasi atau pengajaran apapun yang diberikan, tidak bisa hanya menerima dengan melakukan pemilahan apapun. Kita memiliki pengetahuan dasar, akal budi, dan hati nurani yang dapat dipakai sebagai penuntun dalam mencaritau kebenaran yang sesungguhnya, agar kita tidak mudah disesatkan.
Kemudian di sinilah kita bisa melihat betapa sebuah proses dalam belajar itu begitu penting. Pengetahuan dasar bukan diperoleh begitu saja, begitu pula kemampuan akal budi dan kepekaan hati nurani. Semua adalah diperoleh melalui proses. Tidak ada hasil akhir yang baik bila tidak benar-benar mengikuti sebuah proses secara utuh dan menyeluruh dengan seksama. Benarlah bahwa belajar adalah proses seumur hidup yang tak pernah berhenti; sebuah kontinuitas proses dan bukan sekedar pemberhentian akhir.

Tuesday, February 7, 2012

tulisan saya, 070212

Bab II tentang Iman

            Seorang teman secara tiba-tiba meminjamkan saya sebuah buku karya Shusaku Endo. Sebuah buku berjudul “Silence” yang menceritakan perjalanan seorang misionaris Eropa di Jepang pada masa-masa pembantaian terhadap orang-orang Kristen di sana. Perjalanan yang penuh penderitaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Hingga akhirnya memunculkan pertanyaan mengenai eksistensi Tuhan sendiri. Pertanyaan mengenai mengapa Tuhan hanya berdiam diri menyaksikan semua penderitaan yang dialami oleh para pengikutnya, bahkan para penyebar kabar baik mengenai keberadaanNya. Pertanyaan mengenaik keheningan, kebungkaman Tuhan.
            Dalam kacamata saya sendiri, di samping seperti juga tersiratkan dalam bagian terakhir dari buku ini, saya melihat bahwa sesungguhnya Tuhan tidak bungkam. Saya percaya akan eksistensi Tuhan, mengenai keberadaanNya. Saya percaya bahwa Dia tidak sekedar diam, tetapi dengan caraNya sendiri, melakukan segala sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia.
            Tuhan selalu menjadi Tuhan yang berbicara, bicara dalam bentuk apapun, sekalipun dalam bentuk penderitaan. Hanya saja manusia yang seringkali menjadi tuli atau pura-pura tidak mendengar ketika jawaban yang diberikan Tuhan tidak sesuai harapan atau permintaan mereka. Manusia sulit memahami bahwa tidak selamanya Tuhan itu sejalan dengan mereka.
            Misalnya saja, ketika jawaban yang diberikanNya adalah “nanti”, atau barangkali “tidak”, bukankah manusia sering menafsirkan bahwa Tuhan belum memberikan jawaban. Manusia menyangkal jawaban yang sudah diberikan, entah untuk sekedar menghibur diri sendiri atau hanya sekedar penyangkalan untuk menutupi kelemahan dan ketidaksanggupannya menerima jawaban yang tidak diharapkan. Padahal ketika jawaban itu sudah diberikan, manusia seharusnya bisa bergerak memanfaatkan waktu untuk merancang hal-hal lain, yang barangkali sesuai dengan jalanNya, untuk kembali diajukan sebagai permohonan berkat dan tidak stagnan di satu titik yang sebenarnya sudah jelas-jelas ada jawabannya.
Tidak ada yang dinamakan takdir menurut saya. Manusia hanya perlu berusaha: berusaha dengan kerja sambil memohon, berusaha peka dengan jawaban apapun yang diberikanNya, berusaha bergerak mencari kerja lain bila yang lain jelas-jelas sudah tidak diberi jalan. Tuhan mencipta, proses dilimpahkan ke dalam tangan manusia.
Yang harus dipahami sebenarnya adalah satu. Bahwa “nanti”, “bukan”, atau “tidak” sebenarnya adalah juga jawabanNya. Tinggal sebesar dan sedalam apa iman manusia untuk mau menerimanya.

Thursday, February 2, 2012

tulisan saya, 020212

Rasionalitas dan Kemanusiaan
bagian II dan yang lain dari "Negara, sebuah Cerita tentang Eksistensi"
...
--
Menyedihkan. Menyedihkan karena negara, Indonesia, yang dalam hal ini menjadi simbol kemudian semakin terpuruk. Menjadi simbol yang cacat, gagal. Menyedihkan karena semua yang terlibat di dalamnya inilah yang sebenarnya membuat negara semakin terpuruk dan kehilangan maknanya. Manusia semakin tidak rasional, bahkan seperti juga telah kehilangan kemanusiaannya hari demi hari.
            Tidak hanya menyalahkan presiden dan jajaran pemerintahan lainnya saja, rakyat sebagai elemen terbesar yang hidup di negara ini juga kerap memaki legislatif. Terlepas dari kebobrokan para pelakon-pelakon legislatif tersebut, yang dalam hal ini juga saya mengiyakannya, tapi kalau dipikir apa juga sih gunanya terus-terusan mencaci-maki mereka? Ya cukup tau-sama-tau aja. Memaki juga tidak mengubah mereka, tidak mengibakan hati para elit itu. Mengerti saja satu hal ini, bahwa semakin tinggi taraf kehidupan seseorang maka maunya pun juga akan semakin besar dengan kebutuhan yang tidak bisa disamakan dengan yang bertaraf kehidupan rendah, sudah hakekatnya manusia tidak pernah puas. Lalu, buat apa sih dipermasalahkan panjang-panjang? Sudah tidak didengar ya sudah.
            Rasionalitas semacam itu memang agaknya sulit ditemukan pada manusia-manusia saat ini yang mentalnya hanya mau menyalahkan saja. Orang salah sedikit langsung diteriaki, melenceng sedikit langsung dihakimi. Mental apa yang lebih bobrok dari ini kecuali mental tidak-dipikir-dulu, yang ternyata dikuasai pula oleh rakyat negara ini.
Buruh-buruh berdemo minta kenaikan upah yang terus-menerus, tapi tidak ada yang tau juga apa kinerja mereka meningkat sehingga layak menerima kenaikan upah. Malah berdemo: mematikan produktivitas, mengganggu perekonomian, menghambat transportasi, dan menghidupkan anarkisme; bentuk ibadah di tengah demo tidak menjamin apapun. Pembakaran rumah puluhan warga desa tetangga karena sengketa lahan, bukankah tindakan bodoh-tak-terkira? Sementara jutaan orang lain tinggal tanpa rumah yang layak, atau bahkan tanpa rumah sama sekali, yang ada malah dibakar sampai habis dan rata tanah karena persoalan yang harusnya bisa diselesaikan secara berpendidikan. Konflik karena penutupan wilayah tambang, ketika para demonstran ada yang meregang nyawa, aparat lah yang lagi-lagi dipersalahkan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab. Yang memulai anarkis siapa, yang dituding siapa. Aparat juga manusia, yang di samping mesti melaksanakan tugas dan kewajiban untuk melawan anarkisme, juga memiliki emosi yang sewaktu-waktu tidak bisa dikontrol; perbedaan cuma pada seragam yang menunjukan posisi, lalu kenapa sesama harus saling “menusuk” sih? Belum lagi ketika rumah kepala daerah bersangkutan dibakar habis, apa tidak ada cara lain yang lebih ngotak? Kalau marah ya ambil saja barang-barangnya, bisa dijual untuk setidaknya menghasilkan sesuatu, bukan dengan mengikuti naluri kebinatangan yang puas menciptakan dan melihat kehancuran. Binatang aja ngga gitu-gitu amat. Masalah kecelakaan di jalur transjakarta, ya jangan asal salahkan supir. Kadang yang mati itu juga mau nyebrang asal nyebrang, jembatan penyebrangan ada malah lewat bawah dan tidak lihat-lihat. Pohon tumbang menyalahkan pemerintah lagi, coba diingat ketika isu global warming membara, siapa juga yang dipaksa-paksa untuk melakukan penghijauan. Kecelakaan yang disebut-sebut sebagai kecelakaan maut, coba sebentar dipandang dari sisi lucu-nya: mbak Afriani itu sebenarnya sedang sial, kalau aja temannya yang nyupir pasti bukan dia yang diserang bertubi-tubi seperti ini. Bukannya tidak memahami perasaan keluarga korban, tapi mau berbuat apapun terhadap si supir juga tetap tidak bisa mengembalikan nyawa; ikhlas itu banyak jalannya. Di sini rasionalitas yang manusiawi bisa dilihat kemudian.
Rasional itu perlu. Itu yang membedakan manusia dengan binatang yang hanya mengikuti insting, atau dalam bahasa saya mungkin setara dengan “emosi” pada manusia. Tapi kalau dipikir-pikir, kadang semua ini juga tidak lepas dari pengaruh media. Akhir-akhir ini media kadang kurang mampu menunjukan wajahnya sebagaimana mestinya. Media yang seharusnya lebih edukatif dan persuasif secara positif, akhir-akhir ini malah kebanyakan lebih provokatif.
Tapi saya di sini tidak menyalahkan media. Sekali lagi mungkin yang mesti dipertanyakan adalah “Ke mana rasionalitas-rasionalitas manusia?”; karena pertanyaan “Di mana manusia-manusia yang rasional?” nampaknya terlalu mengangan-angan. Tidak peduli seberapa provokatifnya media, atau seberapa besarnya pengaruh informasi yang didapati sebagai input, rasionalitas harusnya tetap menjadi dasar utama. Ibarat membaca buku, mbok ya jangan semuanya ditelan mentah-mentah. Otak sudah diberi sepaket dengan kemampuan, bukan hanya sekedar menerima input, tetapi juga mengolahnya dengan pengetahuan dasar yang sudah menjadi “bekal” pada masing-masing individu. Mbok ya segala sesuatunya dipikir dengan pertimbangan sendiri, dilihat dari kacamata sendiri, dirasakan dengan hati sendiri. Bukannya asal terima lalu ikut. Ini adalah tahapan menuju rasional, setidaknya dalam pemahaman saya sendiri yang saya dapat dari perenungan dan pemikiran sendiri juga. Mereka yang mampu menjadi rasional akan mampu pula menunjukkan kemanusiaannya. Rasionalitas dan kemanusiaan berbanding lurus.

Wednesday, February 1, 2012

tulisan saya, 010212

Negara, Sebuah Cerita tentang Eksistensi

“Negara itu harus ada,” kata ibu saya ketika saya bertanya, buat apa sih ada negara?, yang lebih cenderung saya tujukan kepada diri saya sendiri. Ketika saya kembali bertanya buat apa?, beliau menjawab “Yaa, untuk lambang. Bahwa Indonesia itu ada, lambang budaya kita.” Saya diam. Iya, lambang. Simbol. Tapi, bisakah lebih? Nampaknya tidak. Setidaknya menurut saya.
            Lalu, kalo cuma sebagai simbol, untuk apa negara itu ada. Di mata rakyat kebanyakan, toh negara sudah tidak punya arti yang jelas, maknanya semakin kabur. Mana ada rakyat yang bisa menjelaskan definisi negara secara terperinci tanpa merasa bingung dalam memilih kata-kata. Mana ada pula yang mampu menceritakan apa tujuan Indonesia dengan gamblang.
Negara, dalam kacamata saya, saat ini menjadi penjelmaan dari pikiran-pikiran para pemikir konsepnya seperti yang dipelajari dalam studi kewarganegaraan di sekolah-sekolah menengah seperti Rosseuau atau Montesquieu. Indonesia, setidaknya untuk beberapa dekade terakhir ini, menjadi sebuah abstraksi yang ditata dalam strata-strata yang hanya bisa dibayangkan oleh sekelompok orang. Sebuah angan-angan dari kalangan para elit, angan-angan yang entah dapat dipahami atau tidak oleh rakyat kebanyakan, yang memiliki angan-angannya sendiri tentang kehidupan.
Sekali lagi ini menurut saya, daripada setiap lapisan dan pihak-pihak yang hidup di dalamnya tidak pernah berhenti berkonflik dan saling menyalahkan satu sama lain, mending bubarkan saja negara. Toh, sebagai simbol saja negara bisa dibilang gagal, menjadi simbol yang cacad dengan “luka” di sana-sini yang juga digores oleh mereka yang merasa memiliki negara ini. Konflik dipicu di mana-mana, hal-hal seperti sengketa lahan atau penutupan tambang yang menjadi mata pencaharian warga dijadikan justifikasi untuk melakukan tindakan-tindakan anarkis. Tapi, dalam perspektif saya, isu utama adalah tetap mengenai eksistensi negara yang tidak kelihatan.
Semua saling menyalahkan. Pemerintah, dalam hal ini terutama adalah sang presiden, dan aparat-aparatnya adalah yang paling sering kena sasaran. Semua orang menuding-nuding pemerintah sebagai penyebab kesengsaraan rakyat, penyebab kemelaratan negara. Tidak ada lagi hal-hal dari kepala mereka yang dipandang sebagai hal yang baik. Bahkan, program yang ditujukan untuk memberikan sedikit perbaikan pada kehidupan rakyat dituding sebagai program pencitraan menuju pemilihan umum. Legislatif seringkali menjadi dalang dari provokasi seperti ini, dalam pandangan saya mungkin untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari serangkaian hal-hal kontroversial yang mereka sendiri lakukan. Menyedihkan.
Menyedihkan. Menyedihkan karena negara, Indonesia, yang dalam hal ini menjadi simbol kemudian semakin terpuruk. Menjadi simbol yang cacat, gagal. Menyedihkan karena semua yang terlibat di dalamnya inilah yang sebenarnya membuat negara semakin terpuruk dan kehilangan maknanya. Manusia semakin tidak rasional, bahkan seperti juga telah kehilangan kemanusiaannya hari demi hari.
--
...