Pada Setiap Kata –(Ook Nugroho)
Pada setiap kata
Menjulur lorong
Masuk dan temukan
Jalanan sederhana
Menuntunmu mungkin
Pada keluasan
Pantai dan benua
Jika mujur arahmu
Gerbang salam membuka
Laut surut menyerah
Gunung mendekam
Langit pun merendah
Seakan bisa kaujamah
Sanubari semesta
Hatimu yang pemurah
Sekonyong meluap
Tak tertampung lagi
Sungguh sudah masak
Agaknya bebij pohon rindu
Yang semusim lamanya
Susah payah kau tabor
Sesaat –(Ook Nugroho)
Keindahan tidak membuka
Sekaligus. Hanya bagi hati yang
Penyabar rahasia dibagikan
Sedikit demi sedikit. Sehari
Demi sehari. Kelopak
Demi kelopak terkuak
Sempurna. Sebagai bunga
Mekar di ujung kata. Memijar
Biar hanyalah sesaat terasa
Begitu sarat. Meluap tak termuat
Dalam beribu ayat
Di Ruang Ini –(Ook Nugroho)
Di ruang ini lelaki itu pernah duduk
Mungkin pernah ditulisnya surat sepucuk
Pada sebuah petang yang agak tak biasa
Mungkin ada disebutnya juga namamu
Tanpa setahumu, pada ujung paragrap
Dibisikkannya yang urung tertulis
Yang lantas dijemput angin yang lewat
Yang sehabis menyapa jendela
Membawanya pada kemungkinan lain
Pada alamat lain yang tak pernah
Dipikirkan lelaki itu sebelumnya
Lelaki itu mungkin saja aku adanya
Barangkali saja kaulah lelaki itu
Di ruang ini kau duduk suatu kali
Takzim kautuliskan surat sepucuk
Pada sebuah petang sedikit suram
Kau sebut namaku berulang kali tapi
Pada ujung baris itu entah kenapa
Kau ragu-ragu dan batal kautuliskan
Jejak gerimis yang sampai di halaman
Padahal begitu lama sudah aku bersabar
Di ruang ini duduk menantikan
Rahasia hujan genap tersampaikan
No comments:
Post a Comment