Syair Pagi
apabila berkas bening cahya mentari
menghangatkan kaca jendela yang dingin
saat itulah cemburuku tercatat
pada sisa rembulan yang pucat
aku akan membukakan pintu
bagi embun yang mengepul di permukaan batu
dan mengajaknya mencicipi kopi
sebelum angin berkesiur pergi
apakah kita akan ngobrol tentang prenjak
atau derit batang nyiur yang nyaris patah?
sebelum rembulan pucat itu beranjak
ia jatuh berdebum di kebun sebelah
: daun-daunnya memang telah cokelat
dan embun, engkau pun akan segera pamit
untuk menitipkan cerita persinggahan semalam
ke kantung ingatan di kubah langit
: ah, rahasiaku
bukankah itu
yang telah kau genggam?
kautinggalkan aku termangu
Syair Siang
ingin aku menyeka peluh di alismu, kekasih
ketika angin menebarkan bebiji ilalang
di ladang yang berkeringat
kita mesti tekun bercocok tanam
karena tanah tak lagi ramah
sejak Tuhan marah
kepada Bapa Adam dan Ibu Hawa
musim pun menghukum
dengan air bah yang gemuruh
dengan debu yang kerontang
ganti-berganti
dengan anak yang membiak
ingin aku menyeka peluh di alismu, kekasih
tapi, kau hanya tersenyum
sambil menggerigiti bebiji jagung
dan membiarkan bekas arangnya
tersapu pada punggung lengan
: bolehkah aku menciummu
dengan bibir yang tertusuk ingin?
Syair Petang
Tuhan, Engkau pelukis yang cemas:
langit-Mu malih serba bergegas
tak sempat aku menjeratnya
pada permukaan air di cawan bening
sebentar aku hendak mereguknya
dengan tenggorokan yang ingin
menyudahi hari di perjamuan yang hening
mari kita duduk
di selasar yang lapuk
menafsir warna, mengeja waktu
: dengan manna dan darah-Mu
Syair Malam
saat engkau memejamkan mata, kekasih
jangan kau tutup tingkap mimpimu
sebab aku akan menaburkan bebungaan
dan meniupkan wewangian dari langit
aku akan turun dari rembulan
meniti cahayanya yang hening
dan apabila gerai rambutmu berdesir
akan kusematkan jejeak di punggung bukit
kita sepakat mencari mata air, bukan?
kita akan menampung: embun demi embun
di bilah rumput yang menggigil
kita akan masuk ke dalam hutan
dan menggeliat
karena bau lumut yang memabukkan
engkau mendesakku menjejak di bukit
aku membujukmu membubung ke langit
: ketika fajar pecah, kita berdarah-darah
dan seandainya engkau terjaga, kekasih
temukan gairahku
di berkas bening cahya mentari!
No comments:
Post a Comment