Thursday, February 10, 2011

syair, Kompas Minggu 2008


Syair Pagi

apabila berkas bening cahya mentari
menghangatkan kaca jendela yang dingin
saat itulah cemburuku tercatat
pada sisa rembulan yang pucat

aku akan membukakan pintu
bagi embun yang mengepul di permukaan batu
dan mengajaknya mencicipi kopi
sebelum angin berkesiur pergi

apakah kita akan ngobrol tentang prenjak
atau derit batang nyiur yang nyaris patah?
sebelum rembulan pucat itu beranjak
ia jatuh berdebum di kebun sebelah
: daun-daunnya memang telah cokelat

dan embun, engkau pun akan segera pamit
untuk menitipkan cerita persinggahan semalam
ke kantung ingatan di kubah langit

: ah, rahasiaku
bukankah itu
yang telah kau genggam?

kautinggalkan aku termangu

Syair Siang

ingin aku menyeka peluh di alismu, kekasih
ketika angin menebarkan bebiji ilalang
di ladang yang berkeringat

kita mesti tekun bercocok tanam
karena tanah tak lagi ramah
sejak Tuhan marah
kepada Bapa Adam dan Ibu Hawa

musim pun menghukum
dengan air bah yang gemuruh
dengan debu yang kerontang
ganti-berganti
dengan anak yang membiak

ingin aku menyeka peluh di alismu, kekasih
tapi, kau hanya tersenyum
sambil menggerigiti bebiji jagung
dan membiarkan bekas arangnya
tersapu pada punggung lengan

: bolehkah aku menciummu
dengan bibir yang tertusuk ingin?

Syair Petang

Tuhan, Engkau pelukis yang cemas:
langit-Mu malih serba bergegas
tak sempat aku menjeratnya
pada permukaan air di cawan bening

sebentar aku hendak mereguknya
dengan tenggorokan yang ingin
menyudahi hari di perjamuan yang hening

mari kita duduk
di selasar yang lapuk
menafsir warna, mengeja waktu
: dengan manna dan darah-Mu

Syair Malam

saat engkau memejamkan mata, kekasih
jangan kau tutup tingkap mimpimu
sebab aku akan menaburkan bebungaan
dan meniupkan wewangian dari langit

aku akan turun dari rembulan
meniti cahayanya yang hening

dan apabila gerai rambutmu berdesir
akan kusematkan jejeak di punggung bukit

kita sepakat mencari mata air, bukan?
kita akan menampung: embun demi embun
di bilah rumput yang menggigil

kita akan masuk ke dalam hutan
dan menggeliat
karena bau lumut yang memabukkan

engkau mendesakku menjejak di bukit
aku membujukmu membubung ke langit

: ketika fajar pecah, kita berdarah-darah

dan seandainya engkau terjaga, kekasih
temukan gairahku
di berkas bening cahya mentari!

No comments:

Post a Comment