Sunday, February 20, 2011

inspiratif IV


ADA APA DENGAN CINTA?
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 13 Februari 2011

“Tak ada apa-apanya. yang apa-apa itu kamu. Yaa… kamu.” Begitu selesai menuliskan judul seperti yang Anda baca di atas, nurani saya langsung bersuara mengeluarkan kalimat menuding itu. Padahal, saya lagi bersemangat menuliskan soal cinta, apalagi esok manusia sejagad raya merayakan hari kasih sayang.
Hormati
Di twitter ada yang bilang begini. “Mas nulis soal cinta dong. Mas paling bisa tu kalau udah nulis yang satu ini.” Saya bingung. Jam terbang yang tinggi dalam soal cinta itu tak selalu membuat seseorang menjadi ahli.
            Menulis itu bisa dimanipulasi. Bisadibuat sebaik mungkin, bisa dibuat supaya penulisnya seperti seorang ahli, atau seprovokatif mungkin. Tergantung apa yang dikehendaki. Tapi pada kenyataannya, belum tentu seperti yang dituliskan. Jadi saya ini cumanya bisa ngeritik melulu, tapi disuruh menjalani nanti dulu.
            Beberapa hari setelah itu, saya diwawancarai sebuah stasiun tivi dan bicara soal cinta. Wawancara itu akan ditayangkan pada program yang membidik penonton laki-laki. Saya katakan, hari kasih sayang itu kalau mau disambut dengan pakai baju pink, terus makan romantis, yaa… enggak masalah. Tapi buat saya yang lebih penting, hari itu dijadikan sebuah momen untuk membuktikan bahwa kasih sayang itu harus diwujudkan secara nyata dengan memberi penghormatan kepada pasangan.
            Karena program tivi di atas untuk laki-laki, yaaa… perayaan hari istimewa itu harusnya digunakan sebagai wake-up call, apakah laki-laki sudah menghormati wanita sebagai pasangan dan akan menghormatinya setelah berlalunya hari kasih sayang itu? Kemudian saya bicara lagi, kalau laki-laki itu suka mukul karena memang punya bakat, mbok jangan pasangannya yang jadi sasarannya. Benahi diri dulu, baru memulai sebuah hubungan.
            Saya ini kalau mau menjalin sebuah hubungan, ogah diperlakukan sama dengan balai keselamatan dan menolong supaya pasangan saya sembuh. Saya mau memulai hubungan dengan situasi yang sehat. Itu bukan karena saya pengecut tak mau menanggung risiko. Saya mau menanggung risiko setelah berhubungn, bukan menanggung risiko sebelum berhubungan.
            Laki-laki itu seyogianya menghormati wanita dalam keadaan apa pun. Karena tak pernah ada berita kalau laki-laki bisa lahir dari laki-laki. Jadi kalau tidak ada wanita di dunia ini, dan kalau pun ada wanita, tetapi wanitanya mengatakan saya tak mau melahirkan, yaaa… maaf-maaf saja, tak ada laki-laki di dunia ini.
Ingusan
            Setelah dua kejadian di atas, seorang muda belia datang pada saya dan menyatakan ia ingin menjadi pasangan yang abadi dengan saya. Saya tertawa terpingkal-pingkal. Bukan karena saya tak menghormatinya, saya hanya mikir, la wong masih umur dua puluhan kok berani mati menawarkan hidup abadi sama manusia yang kesetiaannya saja masih perlu diuji ulang.
            Saya ceritakan kepada teman-teman soal ini. Mereka bukan hanya tertawa, tetapi juga berkomentar, “Hare geneeee mau setiaaa….jedukin kepala sana.” Saya yang jadi berpikir, benarkah hari begini kesetiaan itu memang makin luntur dan tak perlu diperjuangkan? Apakah menjadi ciri sebuah gaya hidup masa kini dan hidup yang terdepan kalau menyerah di tengah jalan dengan alasan: “Abis kalau enggak cinta lagi mau ngapain?”
            Sebuah leluconkah kalau di tengah kelunturan itu masih ada cinta yang mau ditawarkan dengan kondisi yang begitu menarik dan seperti mimpi? Saya malah menertawai sebuah cinta yang sejati hanya karena kondisi sekarang ini lebih enak tak setia, tidak menghargai pasangan, tak tahan mengarungi laut duka atau suka. Sehingga saya malah berpikir untuk mencurigai yang bisa setia itu. Menilai bahwa itu tak punya bobot. Aneh, bukan?
            Maka benarlah lingkungan di mana saya berada, menjadikan siapa saya ini. Karena kebanyakan melihat yang tidak setia, maka yang setia saya anggap keliru dan membuang energi. Jadi, ada apa dengan cinta?
            Benar kata nurani saya. Cinta mah tak ada apa-apanya kalau enggak diapa-apakan. Masalahnya saya yang senangnya mengobok-obok cinta itu, termasuk mau mati seperti cerita Mbak Juliet dan Mas Romeo. Saya bertanya kemudian. Bagaimana rasa cinta bisa memberi ide untuk membunuh? Bagaimana mungkin?
            Ternyata mungkin. Sama seperti saya selalu menyatakan cinta pada Sang Pencipta, tetapi pada waktu bersamaan saya melukain-Nya. Sebagai manusia manipulatif, saya langsung membela diri: “Itu mengapa saya disebut manusia. Bisa melukai karena mencintai.”

inspiratif III


TEMAN DEKAT
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 6 Februari 2011

Sekitar dua minggu lalu, saya berkumpul dengan teman-teman lama semasa masih bekerja di sebuah majalah wanita. Sekitar dua puluh tahun lalu, masa yang cukup panjang untuk menguji sebuah pertemanan. Pertemuan itu juga dihadiri pemimpin redaksi yang dahulu menjadi atasan sekarang menjadi teman. Kami berkumpul melupakan sejenak aktivitas kantoran, rumahan, dan aktivitas lainnya.
Muda dan kemudian tua
            Tak bisa dimungkiri kami semakin tua. Kerut wajah yang tak bisa diabaikan, perut yang makin membuncit, meski satu di antara kami yang kurus dan langsingnya masih bisa dipertahankan setelah puluhan tahun lalu. Teman kami yang satu ini saat hamil pun tak mengalami perubahan berat badan yang berarti. Bahkan, setelah melahirkan, tubuhnya kembali seperti sediakala.
            Pertemuan sore itu merupakan pertemuan yang setelah sekian lama dijanjikan baru dapat terlaksana. Kami duduk berenam di sebuah rumah makan bermenu makan Bali dengan pemandangan kota Jakarta sore yang padat merayap. Kami memesan menu tanpa ada yang berteriak saya sedang diet, meski dari enam manusia yang melepas rindu itu, hanya dua yang memesan nasi karena alasan kalau malam tak makan nasi, perut keroncongan dan tak bisa tidur.
            Sejuta cerita keluar dari mulut kami masing-masing. Pertemuan itu membuat saya seperti sedang melihat film lawas perjalanan hidup manusia. Sangat menyenangkan melihat kalau kami semua bisa dikatakan sukses di perjalanan yang sekian puluh tahun itu, baik dalam pekerjaan, perkawinan, mendidik anak, maupun kelajangan.
            Pertemuan itu adalah sesi curhat tanpa suami, istri, dan anak. Pada saat itu saya pikir, kalaupun saya mempunyai pasangan hidup yang mencintai, anak yang tumbuh sehat, dan sejuta teman, pertemanan yang mirip saudara itu sungguh memberi nilai tersendiri. Curhat dengan manusia yang mengenal saya puluhan tahun, bahkan lebih lama daripada usia perkawinan, berbeda rasanya.
            Pertemuan yang dipenuhi gelak tawa juga kadang ditimpali wajah serius saat mendengar cerita saat salah satu teman kami yang terkena kanker payudara. Saya bisa membayangkan perasaan itu, mirip saat saya harus menerima bahwa ginjal saya gagal berfungsi dan harus menanggung risiko yang sejuta banyaknya.
Pertemanan = Perkawinan
            Setelah mengobrol nyaris dua jam lamanya, dan setelah menghadiri acara pembukaan sebuah rumah makan yang dihadiri setelah acara reuni itu, saya pulang ke rumah dengan hati yang bergembira. Saya merasa terhibur sebagai lajang. Pertemuan seperti itu membuat saaya seperti tak sendiri. Maka, di saat itulah saya mengerti arti dari sebuah pertemanan.
            Bukan hanya karena sayamerasa terhibur karena saya tak sendiri, tapi belajar untuk menerima setiap orang dengan apa adanya. Itu salah satu rahasia yang membuat tali pertemanan itu tak pernah luntur dan kemudian putus di tengah jalan. Kami memang tak sering bertemu, tapi malam itu kami sepakat untuk selalu hadir dan menyediakan waktu untuk bertemu satu bulan sekali.
            Mengapa pertemuan macam ini diperlukan? Bukan sekadar mau menggosip, bukan hanya ingin mencari peluang bisnis, atau hanya sekadar mau melepas rindu, tetapi belajar melatih menjadi manusia yang lebih toleran. Menyediakan waktu, misalnya. Saya sampai bertanya sudah berapa lama saya tak bisa menyediakan waktu untuk orang lain, untuk orang yang tidak memberi saya apa-apa? Karena selama ini, saya selalu menyediakan waktu bagi mereka yang bisa membuat pemasukan saya makin besar.
            Kapan terakhir saya memberi telinga yang diberikan Sang Pencipta untuk mendengar cerita riang gembira atau yang membuat dahi berkerut dan jantung berdetak kencang sehingga seseorang bisa merasa kalau perasaan hatinya bisa tersalurkan? Kapan terakhir lubang telinga saya bisa berfungsi dengan baik sehingga seseorang mampu melepaskan tekanan batinnya meski sejenak saja?
            Malam itu saya belajar, saya tak bisa menjadi begitu egoisnya untuk tidak bisa hadir atau tidak menyediakan waktu yang hanya satu bulan sekali itu. Kalau saya menjadi begitu bahagia, itu karena mereka memutuskan menyediakan waktu di tengah Jakarta yang begitu macetnya, di tengah sejuta tetek bengek yang mereka hadapi. Maka, giliran saya untuk berpikir memasukkan jadwal pertemuan bulan depan ke dalam agenda. Tak ada alasan apa pun, kecuali saya game over.
            Pertemanan itu adalah sebuah pusat pelatihan untuk mengerti sesama manusia, sebagai pusat kesabaran untuk melatih mendengar, dan pusat kebugaran jiwa karena selain bisa tertawa terbahak dengan kekasih hati, saya bisa tertawa tergelak dengan teman yang jauh lebih dahulu mengenal saya sebelum mengenal kekasih hati.
            Maka, hidup itu akan selalu menjadi begitu menyenangkan kalau saya memiliki teman, terutama teman yang seperti sebuah perjanjian pernikahan. Setia sampai mati. Bersama berduka, bersama bersuka.

Tuesday, February 15, 2011

inspiratif II


NEGATIF
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 9 Januari 2011

Baru dua minggu saya dan Anda menjalani tahun baru, menikmati hari-hari baru, setelah menerima sejuta ucapan yang begitu positifnya, begitu cliche-nya, begitu samanya setiap tahun.
            Semoga ini dan semoga itu. Supaya hidup penuh dengankebahagiaan ini dan itu, pokoknya de-es-be, de-es-be. Nah, mungkin Anda jadi kaget kok ujuk-ujuk judul parodi ini malah mengajak untuk memulai tahun dengan berpikir negatif?
Dan bukan atau
            Sebelum tahun baru tiba, saya menulis di status Facebook dengan kalimat seperti ini: Manusia itu adalah tempat bertemu bukan bersatunya yang hitam dan yang putih. Kalau demikian mengapa manusia itu senang sekali menasehati untuk mengentaskan yang negatif? Bukankah menasihati orang lain untuk tidak negatif adalah justru yang paling negatif?
            Maka, status semacam begini menuai komentar seperti tsunami. Dua di antaranya berbunyi begini: Yang pertama, “Lha, itu yang Mas Sam lakukan tiap Minggu! Ha-ha-ha” Yang kedua, “Jadi parodi mau diganti?”
            Membaca dua komentar itu saya kemudian berkaca. Benar juga tampaknya kalai kolom ini justru yang paling negatif karena mengajak orang menghilangkan yang hitam dari sisi putih mereka. Saya sampai malu sekali kalau kalimat di status itu malah menjadi bumerang buat mulut saya yang selalu masuk sekolah, tetapi tak pernah lulus itu.
            Suatu hari saya akan berpikir untuk datang ke depan altar agar mulut saya itu didoakan dan bisa lulus. Karena selam ini masalah yang didoakan adalah agar sembuh dari sakit, minta pasangan untuk menghindari kesepian, supaya tambah kaya, supaya tidak berselingkuh lagi, dan supaya mendapat pekerjaan.
            Saya belum penah berdoa agar tangan si pendoa yang berdosa itu membekap mulut saya dan mulai mendoakan agar bagian dari raga saya yang satu ini, dan yang paling berbahaya dari semuanya, bisa naik kelas.
            Nah, kalau saya sendiri saja tak bisa menghilangkan yang negatif itu, mengapa setiap minggu saya merayu orang untuk yang menghiangkan yang negatif itu? Saya berpikir adalah sebuah kesalahan besar bahwa rubrik parodi ini merupakan rubrik yang mencerminkan kesempurnaan manusia. Salah. Seharusnya bacaan ini mencerminkan yang sempurna itu. Sempurna itu adalah negatif dan positif. DAN, bukan ATAU. Sempurna itu adalah dua-duanya.
Menjadi bijak
            Saya mengajar di kelas-kelas calon menejer sebuah institusi keuangan agar menjadi pemimpin bisa dijadikan panutan. Padahal, saya lupa kalau jadi panutan yaa… harusnya lengkap. Yang negatif juga, yang positif apalagi. Karena selama mau memanut manusia, yaa… enggak bisa mengambil satu bagian saja.
            Bukankah orang yang disebut bijak itu adalah yang bergaul erat dengan keduanya sehingga melakoni hidup dengan tenang tanpa bercita-cita untuk menghilangkan yang negatif? Sering saya dinasihati untuk belajar dari kesalahan orang lain dan kesalahan saya sendiri. Saya juga diajari untuk merasa berbahagia kalau jatuh dalam berbagai pencobaan, katanya itu sebuah ujian iman yang nantinya akan menelurkan ketekunan dan bla-bla-bla.
            Nah, kalau begitu adanya, mengapa saya selalu memaksa agar orang selalu benar kalau sebuah kesalahan bisa menjadi sebuah pelajaran? Kalau yang negatif bisa berdampak begitu positifnya?
            Karena kebiasaan memanut satu sisi itulah, saya sering kecewa melihat orang. Apalagi kalau seseorang yang saya panuti bisa begitu negatifnya dan mengecewakan. Maka, secepat kilat mulut saya bernyanyi tanpa diminta. “Kamu tidak bermoral. Dasar tak bisa dipercaya.” Gobloknya saya, sering lupa kalau manusia adalah makhluk yang paling susah dipercaya. Itu mengapa sejak kecil, saya diajarkan hanya untuk memercayai yang Maha Pencipta itu.
            Saya bukan deodoran yang bisa setia di setiap saat. Saya tak bisa diharapkan untuk menghilangkan kenegatifan. Kalau saya berteriak karena kesal, kalau saya merasa terancam ada manusia baru di kantor, kalau saya jadi bos yang menyakitkan, kalau saya  iri, takut, sok suci, sok tahu, mudah melihat borok orang dan susah melihat borok sendiri, tidak percaya diri, suka bohong, melempar batu sembunyi tangan, tidak menjadi pendengar yang baik dan hanya mau didengarkan saja, kalau saya mengancam orang, kalau saya flirting, kalau saya merasa hidup itu tak adil, kalau saya tak bisa berprestasi sepanjang tahun 2011, itu adalah sisi minus saya.
            Seorang teman pernah berkomentar. “Gak pa-pa-lah itu wajar kok punya sisi minus. Namanya juga manusia.” Benarkah demikian? Kalau seandainya itu wajar, mengapa saya selalu menghakimi dan menganggap tidak benar yang katanya wajar itu? Jadi, manakah yang wajar? Selalu benar, selalu salah, atau kadang benar kadang salah?
            Kalau Sang Khalik saja disebut Maha Pengampun saya mengartikannya karena Ia mengerti ciptaaannya yang sempurna itu. Saya sebagai ciptaannya malah berniat untuk menjadikannya tidak sempurna.

inspiratif


KOMITMEN
oleh Samuel Mulia
Parodi, ‘Kompas’ Minggu, 26 Desember 2010

Seorang pendeta muda yang tampan berjanji untuk menjadi pengkhotbah di satu akhir pekan beberapa bulan lalu di sebuah persekutuan doa. Saya bukan mau menulis soal ketampanan fisiknya, tetapi betapa tidak tampan isi jiwanya, Ups… Anda pasti langsung mau menasihati untuk tidak menghakimi, bukan? Tak masalah. Silakan.
            Panitia sudah memberitahunya sejak beberapa minggu sebelum acara berlangsung dan ia mengatakan bersedia memenuhi undangan itu. Namun sayang seribu sayang, pada menit-menit terakhit ia membatalkannya karena terbang ke kota lain untuk memenuhi undangan yang persis sama dengan cerita di atas. Waktu saya diberi tahu salah satu anggota persekutuan doa itu, saya bertanya kepada diri sendiri. Memang kalau pendeta itu enggak perlu punya agenda kerja, ya?
“Dry Clean”
            Kasus berikutnya. Persekutuan doa di atas berencana mengadakan acara Natalan, dengan mengundang paduan suara anak-anak untuk beraksi dalam acara itu. Mereka menyanggupi dan sudah diinformasikan jauh sebelum acara tahunan ini berlangsung. Sekali lagi, sayang seribu sayang, paduan suara itu membatalkannya empat puluh delapan jam sebelum acara yang awalnya sudah disanggupi mereka untuk dipenuhi. Alasannya? Karena ada donatur yang mengajak mereka dah-nek, dah-nek di dunia fantasi.
            Pemberitahuan itu disebarkan di BBM group persekutuan doa itu, dan yang pertama nyolot siapa lagi kalau bukan saya. Maka, saya menulis begini. Kecil-kecil saja sudah tak punya komitmen, gimana besarnya?
            Satu anggota membalas. “Itu bukan anaknya, Mas, pasti pengurusnya yang mau dah-nek, dah-nek.” Satu pesan muncul lagi dari salah satu anggota lainnya. “Udah gue balesin kok dan gue bilang gini aja. Kok mendadak banget sih. Yaa… kalau cuma segitu profesionalisme yang bisa dintujukkan, yaa… saya mau apalagi.” Teman saya cuma mikir, kalau tampil di acara malam Natalan, kan, bisa menumbuhkan kepercayaan diri. Ini, kok, malah diajak mainan dan diajarkan tidak memilikikomitmen.
            Saya selalu dicekoki untuk menjadi manusia yang profesional. Setelah melihat dua kejadian di atas, profesionalime hanya bisa diwujudkan kalau punya komitmen. Dan komitmen tak bisa diwujudkan kalau kebersihan jiwanya juga tak pernah dilakukan. Bagaimana cara membersihkannya? Secara dry clean untuk melepaskan kotoran jiwa juga tak pernah ada di dunia ini. Nurani saya berteriak. “Gue gue gue… Elo  mesti sering-sering deket-deket gue, jadi elo pada bisa bersih.”
            Saya sendiri acap kali bertanya, apakah pelacur, koruptor, pembunuh, atau penyelingkuh itu tak pernah di suatu hari merasa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kekeliruan? Nurani saya langsung nunjuk. “Eh… sana enggak usah liat orang lain… coba tanya ama diri elo sendiri.”.
Ganteng aja dulu
            Pada saat saya berselingkuh, nurani saya bereaksi dalam bentuk rasa resah karena saya tahu persis apa yang saya lakukan adalah sebuah kesalahan. Resah itu karena nurani bergetar dan getaran itu adalah reaksi dari pertemuan dua hal yang berbeda secara ekstrem. Benar dan tidak benar.
            Tetapi masalahnya, saya kesepian dan tidak laku bertahun lamanya. Saya berpikir ini sebuah kesempatan emas yang tak bisa disia-siakan. Maka nurani saya yang awalnya berfungsi sebagai tanda peringatan dengan bunyi ngoeng-ngoeng-nya, lama-lama menjadi tak terdengar lagi hanya gara-gara memanfaatkan kesempatan yang kata dunia tak akan datang dua kali itu. Jadi, untuk menghilangkan ngoeng, saya harus pandai mencari alasan yang bnar-benar mantap.
            Perselingkuhan itu adalah sebuah tanda yang sangat nyata kalau membungkam nurani itu ternyata bisa dilakukan. Dan kalau dilatih terus-menerus, aktivitas macam itu bisa berlangsung lama dan selamanya. Saya bisa bertahan dua tahun tanpa merasa bersalah, tanpa merasa kikuk dan tak ada satu hari pun di mana saya merasa apa yang saya perbuat sudah mencelakakan semua orang, dan membuat satu orang yang awalnya tidak berbohong menjadi tukang bohong. hanya untuk pemuasan diri, nurani sendiri saya bungkam, orang lain saya jadikan sasaran kesengsaraan.
            Saya berterima kasih kepada si pengkhotbah tampan dan paduan suara anak-anak dan panitianya bahwa mereka melakukan tindakan itu sehingga saya bisa belajar dari mereka dan moga-moga saya naik kelas dan tidak mati saat sedang melanggar komitmen.
            Dan saya berdoa semoga anak-anak kecil itu tak dibiasakan membungkam nurani sehingga pada suatu hari kalau ada yang menjadi pejabat, mereka tak menambha daftar koruptor di negeri ini. Dan soal pendeta tampan itu? Saya tak tahu mau ngomong apa. Saya mengharap ia tetap ganteng sehingga teman-teman di persekutuan doa banyak yang datang. Menyelamatkan jiwa tanpa komitmen, tetapi dengan ketampanan fisik. Menarik juga dan benar-benar out of the box.

Thursday, February 10, 2011

tulisan saya, 090211

SEBERAPA KORUPTORKAH KAMU?

            Mahasiswa yang digembar-gemborkan sebagai agen perubahan tidak pernah berhenti menyuarakan pemberantasan korupsi. Berbagai bentuk demo yang mengusung nama ‘gerakan anti korupsi’ pun terus menerus dilakukan di berbagai wilayah dengan cara yang beragam pula. Tapi apakah mahasiswa adalah elemen masyarakat yang benar-benar bebas korupsi? Pernahkah Anda merefleksikan keberadaan indicator-indikator sang koruptor dalam diri Anda?
Korupsi tidak melulu selalu harus dikaitkan dengan problematika yang kompleks dalam ruang linkup makro. Sesederhana dan sekecil apapun bentuknya, korupsi tetaplah korupsi. Bukankah segala sesuatu yang besar bermula dari yang kecil? Kalau uang saja sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit, maka korupsi pun sama: kecil-kecil lama-lama bagi hasil.
Sebagai mahasiswa yang notabene adalah kaum terpelajar, jangan serta merta melakukan penghakiman terhadap orang lain yang diduga-duga adalah koruptor. Mungkin ada baiknya bila berkaca lebih dulu, seberapa koruptorkah saya?
Sengaja datang terlambat ke kelas karena 1001 alasan, titip absen, atau balas message sembunyi-sembunyi di kelas yang dosennya anti-HP merupakan bentuk-bentuk korupsi yang tak kasat mata, bahkan dianggap hal yang biasa karena sudah ‘membudaya’. Begitu pula di jalan raya, bentuk-bentuk pelanggaran kecil seperti menerobos lampu merah dan tidak menggunakan helm atau sabuk pengaman juga dapat diidentifikasikan sebagai bentuk awal korupsi. Apakah ada di antara Anda yang tidak pernah melakukannya?
Tindak korupsi bukan hanya berarti penggelapan uang negara untuk kepentingan pribadi seperti yang selama ini terus menerus muncul kasusnya serta menjadi sorotan media dan konsumsi publik. Korupsi waktu seperti sengaja terlambat masuk kelas atau tidak mengenakan helm saat berkendara tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri dan orang lain yang dapat dilihat sebagai bentuk korupsi tanggung jawab, walau dalam hal ringan, namun toh tetap saja memiliki ‘label’ korupsi.
Sadar atau tidak, korupsi menjadi nilai yang bahkan sudah bergaul akrab dengan individu sejak dini. Misalnya saja ketika seorang anak mengambil es krim bagiannya lebih banyak dari seharusnya semata-mata karena dia menyukainya. Budaya korupsi tumbuh dan menjamur di mana-mana dewasa ini. Tapi, apakah Anda mau disamakan –disebut sebagai manusia yang tidak pernah dewasa, yang menutup mata terhadap tindak korupsi dan beranggapan bahwa hal-hal semacam itu adalah hal biasa yang sah-sah saja?
Jadi, sudahkah Anda menjadi mahasiswa yang tidak hanya bicara, tapi juga membuktikan bahwa bebas korupsi itu mungkin?

tulisan saya, 090211

BERANDA INDONESIA YANG KUMUH

            Gemah ripah loh ji nawi, panggilan kebanggaan NKRI yang disebut-sebut sebagai negara kaya dengan sumber daya melimpah ruah. Negara kepulauan yang menyerupai bandul zamrud di tengah-tengah bentangan kalung khatulistiwa. Lalu ke manakah larinya semua kekayaan yang katanya tiada habis itu, jika masih banyak masyarakat dengan ‘cap’ WNI yang hidup terkatung-katung di wilayah perbatasan?
            Wilayah perbatasan negeri yang laksana beranda dari rumah tercinta Indonesia justru lebih sering tampak seperti gudang. Wilayah yang jauh dan terpencil karena ketiadaan sarana transportasi, gelap karena ketiadaan listrik, terisolir karena ketiadaan jaringan komunikasi, serta lusuh dan kumuh karena tak tersentuh pembangunan.. Alangkah lucunya bila pemerintah masih bisa menggembar-gemborkan semangat cinta tanah air pada masyarakat di sana, yang bahkan mungkin merasa dianggap keberadaannya saja tidak. Menjadi benarlah bila kemudian mereka mencemooh pemerintah sambil mengutip sebuah pernyataan ‘alangkah lucunya negeri ini’.
            Problematika wilayah perbatasan bukan merupakan merupakan isu kemarin sore. Tapi betapa ironisnya bila kemudian kasus video panas Ariel Peterpan lah yang sampai di prioritas teratas meja sidang legislatif. Memang sepertinya pemerintah negara ini tidak pernah belajar dari pengalaman. Setelah Sipadan dan Ligitan dicaplok tetangga, mau menunggu sampai seberapa ‘langsing’ wilayah negeri ini, bila permasalahan kompleks seperti wilayah perbatasan selalu dikesampingkan.
            Salah satu wilayah perbatasan negeri di Kalimantan Barat saja misalnya, kondisinya begitu memprihatinkan. Ketiadaan akses jalan membuat enam dusun di wilayah perbatasan dengan Malaysia itu mesti ditempuh selama 8 jam mengunakan sampan motor dengan ongkos 1,5 juta rupiah sekali jalan. Angka yang fantastis memang, tapi bahkan itu saja tidak mampu memperbaiki taraf hidup masyarakatnya yang luput dari pandangan pemerintah. Anak-anak dusun mesti 1 jam berjalan kaki menuju sekolah tua yang tidak layak dengan guru amat terbatas.
            Lalu masih layakkah wacana kenaikan gaji pejabat yang notabene sudah jauh di atas rata-rata pendapatan penduduk Indonesia, bila dibandingkan gaji guru di wilayah serba terbatas ini yang bahkan mencapai angka 1 juta pun tidak? “Kalau mempertimbangkan materi sih mending di sebelah (Malaysia), Mas; aksesnya gampang, fasilitas sekolah lengkap, kesejahteraan sebagai guru juga terjamin,”ujar salah satu staf pengajar kepada reporter salah satu stasiun televisi swasta saat diwawancarai. Dapat dibayangkan, betapa sukarnya bekerja dalam kondisi seperti itu dibandingkan dengan kebanyakan pejabat yang hanya bermodal kuasa tapi tak pernah berhenti minta naik gaji.
            Jika warga Jakarta dengan segala kelengkapan fasilitas saja masih teriak-teriak saat  jatah subsidi BBM dikurangi, lalu bagaimana dengan warga wilayah ini yang untuk mengoperasikan jasa sampan motor saja mesti modal hutang pinjam. Mereka yang makan hanya dengan mengandalkan hasil alam yang makin tidak bersahabat. Bahkan untuk sesekali makan bergizi saja mesti menunggu kiriman uang dari keluarga yang bekerja di negeri tetangga karena negeri sendiri nampaknya sudah tak mampu lagi menyediakan lapangan kerja, itu pun mereka mesti membeli makanan lagi di negeri tetangga.
            Tapi toh mereka masih punya kelebihan. Dibanding dengan Bang Gayus yang mesti repot-repot beli rambut palsu, kacamata hitam, dan urus paspor ratusan juta, mereka hanya perlu melambaikan tangan untuk sampai di luar negeri. Tapi jangan sampai di kemudian hari hal ini menjadi bumerang bagi Bangsa Indonesia karena mereka pada akhirnya lebih memilih menjadi warga negara tetangga yang notebene kehidupan perbatasannya jauh lebih baik. Mau sampai kapan kekumuhan beranda Indonesia diperpanjang, sementara Jakarta yang istilahnya hanya sebagai ruang tamu saja terus menerus dijejali pembangunan. Sangat menyedihkan bila pada akhirnya satu per satu teras kita diakui sebagai teras oleh tetangga yang tak putus-putus mengamati dari seberang.

sajak, someplace 2010

Mitologi Hujan –(Asnan Asphani)

            Ketika hutan bertanya tentang laut maka hujan bercerita tentang ikan-ikan dan ketika laut bertanya tentang hutan maka hujan pun bercerita tentang burung dan hewan-hewan lalu ketika bumi bertanya tentang langit hujan bercerita tentang awan dan angin dan ketika langit bertanya tentang bumi maka hujan pun bercerita tentang sungai dan batu begitulah karena karena hutan laut langit dan bumi tak pernah berhenti bertanya maka hujan pun tak pernah berhenti turun di hutan menguap di laut mengalir di sungai dan mengawan di langit dan dia lupa unuk bercerita tentang dirinya sendiri sebab memang hutan laut sungai dan langit tak pernah bertanya padanya tentang kabar dirinya.

puisi, Kompas Minggu 2009 (II)

Hujan Bergemerincing Seperti Pecahan Kaca Pintu –(Alois A. Nugroho)

malam tak bisa kausebut bisu bila buram terus membebankan hujan kepada kaca pintu yang seperti takkan pernah berhenti terharu hingga menghanyutkan semua yang selama ini kauanggap sebagai milikmu

bisu tak bisa kausebut sebagai milikmu bila malam terus membebani huajn dengan rasa haru dan hujan menghanyutkan semua kaca pintu yang masih memperdengarkan jerit gemerincing sebelum lemas dan terempas pada batu-batu

kausebut sebagai apa hujan yang tidak mampu memilah mana malam dan mana kaca pintu dan mengempaskan pada batu-batu apa saja yang selama ini kauanggap sebagai milikmu

kausebut sebagai apa malam yang tidak mampu memilah apa saja yang selama ini kauanggap sebagai milikmu dan membiarkan hujan bergemerincing seperti pecahn kaca pintu

Kuharap Kau Menemukan Bulan –(Alois A. Nugroho)

kuharap kau menemukan bulan yang membungkus malam dengan ngiau kucing, kaleng bekas dan tali sepatu dan sepanjang jalan menebar rindu pada ranting-ranting pinus dan sisa-sisa salju ketika seluruh kota berubah menjadi cerobong-cerobong asap yang tak pernah berhenti mengepul

kuharap kau juga menemukan malam yang membungkus bulan dengan ranting-ranting pinus dan sisa-sisa salju dan sepanjang jalan menebar ngiau kucing pada kaleng bekas dan tali sepatu ketika lokomotif tua yang juga tak pernah bosan mengepulkan asap memasuki gerbang kota dan menarik gerbong-gerbong yang tak berselimut

kuharap kau juga menemukan ranting-ranting pinus dan sisa-sisa salju ketika gerbong-gerbong yang tak berselimut tak pernah bosan mengepulkan ngiau kucing, kaleng bekas dan tali sepatu dan seluruh kota berubah menjadi lokomotif tua yang tak pernah berhenti mengabarkan rindu

Pantai Eretan pada Bulan Januari –(Alois A. Nugroho)

sudah lama perahu-perahu hidup dalam belenggu dan berharap laut akan datang dari seberang dan memutus tali-tali yang tertambat pada tonggak-tonggak bambu yang senantiasa basah namun tak pernah sedetik pun lengah

tapi kenapa ombak selalu harus datang menghentak bagai serdadu yang siap mati hanya untuk lepas kendali dan hanyut dalam haru biru sunyi?

sudah lama perahu-perahu mendendangkan luka semacam lagu yang dapat dilukiskan dengan pelangi yang terus menerus menari seakan-akan tak terbakar oleh terik matahari

sedang kau hanya seekor burung gagak yang kian lama kian tampak sebagai sebuah titik yang melambung tinggi diombang-ambingkan gelombang sepi

dan sudah lama perahu-perahu itu diam-diam melihatmu kadang-kadang dengan iba hati kadang-kadang dengan rasa iri

puisi, Kompas Minggu 2009 (I)

Pada Setiap Kata –(Ook Nugroho)
Pada setiap kata
Menjulur lorong
Masuk dan temukan
Jalanan sederhana
Menuntunmu mungkin
Pada keluasan
Pantai dan benua
Jika mujur arahmu
Gerbang salam membuka
Laut surut menyerah
Gunung mendekam
Langit pun merendah
Seakan bisa kaujamah
Sanubari semesta
Hatimu yang pemurah
Sekonyong meluap
Tak tertampung lagi
Sungguh sudah masak
Agaknya bebij pohon rindu
Yang semusim lamanya
Susah payah kau tabor

Sesaat –(Ook Nugroho)
Keindahan tidak membuka
Sekaligus. Hanya bagi hati yang
Penyabar rahasia dibagikan
Sedikit demi sedikit. Sehari
Demi sehari. Kelopak
Demi kelopak terkuak
Sempurna. Sebagai bunga
Mekar di ujung kata. Memijar
Biar hanyalah sesaat terasa
Begitu sarat. Meluap tak termuat
Dalam beribu ayat

Di Ruang Ini –(Ook Nugroho)
Di ruang ini lelaki itu pernah duduk
Mungkin pernah ditulisnya surat sepucuk
Pada sebuah petang yang agak tak biasa
Mungkin ada disebutnya juga namamu
Tanpa setahumu, pada ujung paragrap
Dibisikkannya yang urung tertulis
Yang lantas dijemput angin yang lewat
Yang sehabis menyapa jendela
Membawanya pada kemungkinan lain
Pada alamat lain yang tak pernah
Dipikirkan lelaki itu sebelumnya
Lelaki itu mungkin saja aku adanya
Barangkali saja kaulah lelaki itu
Di ruang ini kau duduk suatu kali
Takzim kautuliskan surat sepucuk
Pada sebuah petang sedikit suram
Kau sebut namaku berulang kali tapi
Pada ujung baris itu entah kenapa
Kau ragu-ragu dan batal kautuliskan
Jejak gerimis yang sampai di halaman
Padahal begitu lama sudah aku bersabar
Di ruang ini duduk menantikan
Rahasia hujan genap tersampaikan

syair, Kompas Minggu 2008


Syair Pagi

apabila berkas bening cahya mentari
menghangatkan kaca jendela yang dingin
saat itulah cemburuku tercatat
pada sisa rembulan yang pucat

aku akan membukakan pintu
bagi embun yang mengepul di permukaan batu
dan mengajaknya mencicipi kopi
sebelum angin berkesiur pergi

apakah kita akan ngobrol tentang prenjak
atau derit batang nyiur yang nyaris patah?
sebelum rembulan pucat itu beranjak
ia jatuh berdebum di kebun sebelah
: daun-daunnya memang telah cokelat

dan embun, engkau pun akan segera pamit
untuk menitipkan cerita persinggahan semalam
ke kantung ingatan di kubah langit

: ah, rahasiaku
bukankah itu
yang telah kau genggam?

kautinggalkan aku termangu

Syair Siang

ingin aku menyeka peluh di alismu, kekasih
ketika angin menebarkan bebiji ilalang
di ladang yang berkeringat

kita mesti tekun bercocok tanam
karena tanah tak lagi ramah
sejak Tuhan marah
kepada Bapa Adam dan Ibu Hawa

musim pun menghukum
dengan air bah yang gemuruh
dengan debu yang kerontang
ganti-berganti
dengan anak yang membiak

ingin aku menyeka peluh di alismu, kekasih
tapi, kau hanya tersenyum
sambil menggerigiti bebiji jagung
dan membiarkan bekas arangnya
tersapu pada punggung lengan

: bolehkah aku menciummu
dengan bibir yang tertusuk ingin?

Syair Petang

Tuhan, Engkau pelukis yang cemas:
langit-Mu malih serba bergegas
tak sempat aku menjeratnya
pada permukaan air di cawan bening

sebentar aku hendak mereguknya
dengan tenggorokan yang ingin
menyudahi hari di perjamuan yang hening

mari kita duduk
di selasar yang lapuk
menafsir warna, mengeja waktu
: dengan manna dan darah-Mu

Syair Malam

saat engkau memejamkan mata, kekasih
jangan kau tutup tingkap mimpimu
sebab aku akan menaburkan bebungaan
dan meniupkan wewangian dari langit

aku akan turun dari rembulan
meniti cahayanya yang hening

dan apabila gerai rambutmu berdesir
akan kusematkan jejeak di punggung bukit

kita sepakat mencari mata air, bukan?
kita akan menampung: embun demi embun
di bilah rumput yang menggigil

kita akan masuk ke dalam hutan
dan menggeliat
karena bau lumut yang memabukkan

engkau mendesakku menjejak di bukit
aku membujukmu membubung ke langit

: ketika fajar pecah, kita berdarah-darah

dan seandainya engkau terjaga, kekasih
temukan gairahku
di berkas bening cahya mentari!