Monday, July 8, 2013

tulisan saya, 040313

Antropologi Gender dan Seksualitas
reaction paper


Citra Seksualitas Perempuan Jawa; Representasi dan Candi, Mitologi, dan Wayang (B.J.D. Gayatri)



Konsep dan pemahaman manusia mengenai seksualitas, dalam hal ini khususnya dalam masyarakat Jawa, telah ada dan dimulai sejak masa lalu. Hal ini bisa ditelusuri dari peninggalan-peninggalan sejarah yang ada seperti misalnya bangunan-bangunan candi dan cerita-cerita mitologi yang berkembang di masyarakat. Pada masa itu, seksualitas dikaitkan dengan permasalahan kesuburan yang memainkan peran cukup signifikan pada masyarakat Jawa ini sendiri.
            Pembicaraan dan hal-hal yang terkait dengan seksualiltas manusia begitu gamblang ditampilkan pada masa lalu. Hal ini bisa dilihat dari lingga dan yoni sebagai hiasan pada candi-candi Hindu yang menggambarkan alat kelamin laki-laki dan perempuan. Candi yang pada dasarnya merupakan tempat manusia melakukan pemujaan dan bersifat sakral justru menampilkan hal-hal ini karena kesuburan menjadi topik penting pada masyarakat masa itu yang merupakan masyarakat agraris dan memerlukan banyak anggota-anggota baru untuk melanjutkan pertanian mereka.
            Namun yang kemudian menjadi pertanyaannya adalah bahwa mengapa pembicaraan mengenai seksualitas pada masa yang dianggap lebih “modern” saat ini justru seringkali dianggap sebagai suatu hal yang tabu. Pembicaraan mengenai seksualitas manusia bukan hanya tidak lagi dikemukakan secara terbuka seperti masa lalu, bahkan cenderung dihindari dengan alasan moralitas. Hal-hal mengenai seksualitas yang begitu terbuka pada masa lampau bahkan kini sering dikaitkan dengan kehidupan manusia masa lalu yang masih bar-bar, tidak berpendidikan, dan karenanya tidak bermoral.
            Saya sendiri melihat di sini bahwa hal ini disebabkan oleh masuknya agama-agama besar dalam kehidupan masyarakat seperti Kristen (Katolik) dan Islam. Agama-agama besar ini dalam kitab sucinya masing-masing begitu tegas memberikan batasan-batasan kepada umatnya dalam hal seksualitas mereka. Berbagai aturan tertulis untuk mengatur permasalahan seksualitas mereka. Berbagai konsep justru cenderung mengemukakan hal-hal buruk terkait seksualitas manusia seperti “cabul” dan “zinah”, bukan lagi dikaitkan dengan permasalahan kesuburan seperti pada masa sebelumnya. Alih-alih membuat kehidupan manusia menjadi lebih teratur dan bermoral, yang terjadi kemudian adalah bahwa pembicaraan mengenai seksualitas manusia justru dianggap sebagai sesuatu tabu dan patut dihindari akibat ketakutan manusia akan dosa.
            Masyarakat Jawa juga mengenal Srikandi sebagai salah satu tokoh wayang wanita. Srikandi ini memiliki banyak versi yang menceritakan tentang kehidupan seksualitas dan peran gendernya. Sebagian menceritakan bahwa Srikandi adalah tokoh yang melakukan prosesi transeksual dari perempuan menjadi laki-laki, sementara ada pula yang menceritakan bahwa Srikandi adalah homoseksual.
Terlepas dari mana versi yang benar mengenainya, lagi-lagi di sini permasalahan seksualitas manusia diceritakan secara gamblang dan terbuka. Berbeda dengan masa sekarang ini di mana permasalahan-permasalahan “penyimpangan” seperti itu justru sangat ditutup-tutupi oleh masyarakat. Srikandi sendiri dikenal sebagai tokoh yang baik, bahkan cenderung heroik, terlepas dari penyimpangan yang dilakukannya itu. Hal ini rasanya sulit terjadi pada masyarakat modern saat ini yang justru akan menghindari dan memberikan cap-cap buruk pada pelaku transeksual seperti Srikandi, tanpa melihat atau mempertimbangkan hal-hal baik yang ada pada diri si pelaku “penyimpangan” ini.
Sungguh ironis sebenarnya bahwa masyarakat yang dianggap lebih maju dan modern seperti saat ini justru menutup dirinya dari permasalahan-permasalahan sosial terkait seksualitas manusia. Alih-alih menjadi lebih kritis, manusia justru menjadi lebih menutup diri dari hal-hal terkait seksualitas karena menganggapnya tabu dan tidak layak untuk diperbincangkan. Keterbukaan terhadap perubahan dan perbedaan yang semestinya semakin berkembang pada masyarakat yang lebih maju justru semakin menipis karena pemahaman yang terlalu sempit mengenai moralitas.

Referensi
Gayatri, B.J.D.
2005. ‘Citra Seksualitas Perempuan Jawa’, Jurnal Perempuan no.41: 81-88.

No comments:

Post a Comment