Antropologi Gender dan Seksualitas
reaction paper
Citra Seksualitas
Perempuan Jawa; Representasi dan Candi, Mitologi, dan Wayang (B.J.D.
Gayatri)
Konsep dan
pemahaman manusia mengenai seksualitas, dalam hal ini khususnya dalam masyarakat
Jawa, telah ada dan dimulai sejak masa lalu. Hal ini bisa ditelusuri dari
peninggalan-peninggalan sejarah yang ada seperti misalnya bangunan-bangunan
candi dan cerita-cerita mitologi yang berkembang di masyarakat. Pada masa itu,
seksualitas dikaitkan dengan permasalahan kesuburan yang memainkan peran cukup
signifikan pada masyarakat Jawa ini sendiri.
Pembicaraan dan hal-hal yang terkait
dengan seksualiltas manusia begitu gamblang ditampilkan pada masa lalu. Hal ini
bisa dilihat dari lingga dan yoni sebagai hiasan pada candi-candi
Hindu yang menggambarkan alat kelamin laki-laki dan perempuan. Candi yang pada
dasarnya merupakan tempat manusia melakukan pemujaan dan bersifat sakral justru
menampilkan hal-hal ini karena kesuburan menjadi topik penting pada masyarakat
masa itu yang merupakan masyarakat agraris dan memerlukan banyak
anggota-anggota baru untuk melanjutkan pertanian mereka.
Namun yang kemudian menjadi
pertanyaannya adalah bahwa mengapa pembicaraan mengenai seksualitas pada masa
yang dianggap lebih “modern” saat ini justru seringkali dianggap sebagai suatu
hal yang tabu. Pembicaraan mengenai seksualitas manusia bukan hanya tidak lagi
dikemukakan secara terbuka seperti masa lalu, bahkan cenderung dihindari dengan
alasan moralitas. Hal-hal mengenai seksualitas yang begitu terbuka pada masa
lampau bahkan kini sering dikaitkan dengan kehidupan manusia masa lalu yang
masih bar-bar, tidak berpendidikan,
dan karenanya tidak bermoral.
Saya sendiri melihat di sini bahwa
hal ini disebabkan oleh masuknya agama-agama besar dalam kehidupan masyarakat
seperti Kristen (Katolik) dan Islam. Agama-agama besar ini dalam kitab sucinya
masing-masing begitu tegas memberikan batasan-batasan kepada umatnya dalam hal
seksualitas mereka. Berbagai aturan tertulis untuk mengatur permasalahan
seksualitas mereka. Berbagai konsep justru cenderung mengemukakan hal-hal buruk
terkait seksualitas manusia seperti “cabul” dan “zinah”, bukan lagi dikaitkan
dengan permasalahan kesuburan seperti pada masa sebelumnya. Alih-alih membuat
kehidupan manusia menjadi lebih teratur dan bermoral, yang terjadi kemudian
adalah bahwa pembicaraan mengenai seksualitas manusia justru dianggap sebagai
sesuatu tabu dan patut dihindari akibat ketakutan manusia akan dosa.
Masyarakat Jawa juga mengenal
Srikandi sebagai salah satu tokoh wayang wanita. Srikandi ini memiliki banyak
versi yang menceritakan tentang kehidupan seksualitas dan peran gendernya.
Sebagian menceritakan bahwa Srikandi adalah tokoh yang melakukan prosesi
transeksual dari perempuan menjadi laki-laki, sementara ada pula yang
menceritakan bahwa Srikandi adalah homoseksual.
Terlepas
dari mana versi yang benar mengenainya, lagi-lagi di sini permasalahan
seksualitas manusia diceritakan secara gamblang dan terbuka. Berbeda dengan masa
sekarang ini di mana permasalahan-permasalahan “penyimpangan” seperti itu
justru sangat ditutup-tutupi oleh masyarakat. Srikandi sendiri dikenal sebagai
tokoh yang baik, bahkan cenderung heroik, terlepas dari penyimpangan yang
dilakukannya itu. Hal ini rasanya sulit terjadi pada masyarakat modern saat ini
yang justru akan menghindari dan memberikan cap-cap buruk pada pelaku
transeksual seperti Srikandi, tanpa melihat atau mempertimbangkan hal-hal baik
yang ada pada diri si pelaku “penyimpangan” ini.
Sungguh
ironis sebenarnya bahwa masyarakat yang dianggap lebih maju dan modern seperti
saat ini justru menutup dirinya dari permasalahan-permasalahan sosial terkait
seksualitas manusia. Alih-alih menjadi lebih kritis, manusia justru menjadi
lebih menutup diri dari hal-hal terkait seksualitas karena menganggapnya tabu
dan tidak layak untuk diperbincangkan. Keterbukaan terhadap perubahan dan
perbedaan yang semestinya semakin berkembang pada masyarakat yang lebih maju
justru semakin menipis karena pemahaman yang terlalu sempit mengenai moralitas.
Referensi
Gayatri, B.J.D.
2005. ‘Citra Seksualitas Perempuan Jawa’, Jurnal Perempuan no.41: 81-88.
No comments:
Post a Comment