Monday, July 8, 2013

tulisan saya, 240313

Antropologi Gender dan Seksualitas
reaction paper


The Domestic Sphere of Women, and the Public World of Men: The Strengths and Limitations of an Anthropological Dichotomy (Louise Lamphere)

Pada awal perkembangannya, pembelajaran antropologi mengenai gender diawali dengan sebuah dikotomi antara ranah domestik dan publik dalam kaitannya dengan hubungan perempuan dan laki-laki. Perempuan selalu diasosiasikan dengan ranah domestik, sementara laki-laki pada ranah publik. Dikotomi ini kemudian dilihat sebagai suatu hal yang sifatnya tidak lagi berorientasi pada kondisi biologis laki-laki dan perempuan, melainkan telah mengarah pada konstruksi struktural dan budaya mengenai peranan laki-laki dan perempuan yang kemudian menjadi pedoman dalam setiap masyarakat. Laki-laki dianggap sebagai kaum yang lebih memiliki kekuasaan dan otoritas, sementara perempuan pada ranah domestiknya adalah kaum yang tersubordinasikan.
Namun kemudian dalam perkembangannya, dikotomi antara yang publik dan yang domestik itu sendiri menjadi bias. Pembedaan antara keduanya masih belum jelas, bahwa apakah dikotomi ini harus dilihat sebagai spatial metaphor atau sebagai functional metaphor. Dikotomi yang pada awalnya begitu simpel ternyata kemudian menjadi begitu kompleks. Bahkan pada beberapa masyarakat, dikotomi antara yang domestik dan yang publik ini menjadi tidak masuk akal karena produksi rumah tangga (domestik) juga bersifat ekonomis dan politis (publik) sekaligus. Dikotomi antara keduanya, termasuk realitas dominasi dan subordinasi dalam kehidupan perempuan, sangat berlapis dan kontekstual. Konsep antara yang domestik dan publik ini juga tidak bisa dilepaskan dari latar belakang sejarahnya yang berawal dari budaya barat di era Viktorian dan masa kolonialisasi, sehingga bias-bias sangat mungkin terjadi karena begitu beragamnya masyarakat manusia dengan masing-masing latar belakang budaya yang berbeda.
Secara keseluruhan, apa yang disampaikan oleh Lamphere dan beberapa ahli antropologi lainnya mengenai permasalahan domestik dan publik dalam tulisan ini begitu menarik. Kenyataan bahwa dikotomi seperti ini memang terjadi tidak dapat dihapuskan dari sejarah umat manusia. Bahkan, dalam masyarakat yang bisa dibilang sudah modern saja, paradigma semacam ini masih sering diangkat dalam kehidupan sehari-hari.
Adalah benar bahwa dalam memandang fenomena dikotomi domestik-publik ini, kita harus selalu kembali melihat pada latar belakangnya. Ibu saya sering berkata bahwa pada masa lalu ia seringkali diberitahu oleh neneknya bahwa tugas perempuan adalah dapur-sumur-kasur, semua pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang seolah-olah sama sekali tidak memberi celah untuk perempuan berada di ranah publik dan hubungan sosial masyarakat. Hal ini terus menerus disampaikan, dikonstruksikan, serta kemudian dipercayai dan dilakukan oleh kebanyakan perempuan pada masa itu.
Sepertinya perkembangan jaman mulai membuka peluang-peluang pada perempuan untuk berada di ranah publik, baik dalam konteks spatial dan functional. Kini ibu saya seringkali mengingatkan pada saya untuk belajar sebaik-baiknya agar mampu bersaing dengan orang-orang (terutama laki-laki) dalam dunia yang lebih luas nantinya. Ia juga sering mengingatkan agar saya menjadi perempuan yang mandiri dan tidak harus bergantung pada laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Bagian yang menariknya adalah bahwa ia selalu menambahkan “sampai menikah” pada setiap akhir kalimatnya.
Menjadi pertanyaan lagi bagi saya bahwa apakah dikotomi domestik-publik yang telah dikonstruksikan dengan sedemikian rupa pada masyarakat kita memang tidak bisa terhapus dengan tuntas. Peranan-peranan perempuan yang menikah, bahkan pada kebanyakan masyarakat modern sekalipun, seolah-olah tetap dibatasi pada wilayah dan fungsi domestik. “Kalo mau kerja setelah nikah ya dari rumah aja, sambil ngawas anak dan ngurus rumah tangga,” kata ibu saya selalu.
Meski tidak serta merta hilang begitu saja, tidak bisa disanggah bahwa dikotomi antara domestik dan publik pada masa-masa ini mulai mencair. Dikotomi antara domestik dan publik tidak lagi menjadi suatu hal yang kaku dan dijadikan pedoman oleh setiap masyarakat. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat manusia, serta seiring dengan bertambah kompleksnya pula berbagai macam problematikanya, hal ini mulai direproduksi dan diinterpretasi ulang oleh masing-masing masyarakat. Dikotomi antara domestik dan publik terus menerus berusaha disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang bersangkutan. Terlebih lagi, ranah domestik dan publik antara perempuan dan laki-laki kini tidak lagi dipandang sebagai dua sisi yang berlawanan, melainkan lebih kepada hubungan yang terjalin antara keduanya dalam sebuah relasi gender.
Namun kemudian yang perlu dipertanyakan dari tulisan ini secara keseluruhan adalah, apakah penyesuaian-penyesuaian yang cair dalam paradigma mengenai yang domestik dan yang publik benar-benar terjadi dalam setiap masyarakat? Serta bagaimanakah pula peranan para ahli dalam membantu memberikan pemahaman bagi masyarakat dengan paradigma domestik-publik yang masih dikotomis agar bisa menerima penyesuaian-penyesuaian, mengingat paradigma seperti ini tidak jarang menimbulkan diskriminasi kepada kaum perempuan. Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kritik secara keseluruhan dari tulisan Lamphere, agar di samping memberikan deskripsi juga mampu menawarkan solusi terhadap permasalahan yang dimunculkan seperti diskriminasi itu sendiri.

We now treat women more historically, viewing them as social actors, and examining variability among women’s situation within one culture and in their relationship to men.” (Lamphere, 1993)

 
Referensi
 Lamphere, L.
1993.              ‘The Domestic Sphere of Women and the Public World of Men: The Strengths and Limitations of an Anthropological Dichotomy’, dalam Gender in Cross-Cultural Perspective, C.B. Brettell dan C.F. Sargent (ed.). New Jersey: Engiewood Cliffs.
 

No comments:

Post a Comment