Antropologi Gender dan Seksualitas
reaction paper
The Domestic Sphere of
Women, and the Public World of Men: The Strengths and Limitations of an
Anthropological Dichotomy (Louise Lamphere)
Pada
awal perkembangannya, pembelajaran antropologi mengenai gender diawali dengan
sebuah dikotomi antara ranah domestik dan publik dalam kaitannya dengan
hubungan perempuan dan laki-laki. Perempuan selalu diasosiasikan dengan ranah
domestik, sementara laki-laki pada ranah publik. Dikotomi ini kemudian dilihat
sebagai suatu hal yang sifatnya tidak lagi berorientasi pada kondisi biologis
laki-laki dan perempuan, melainkan telah mengarah pada konstruksi struktural
dan budaya mengenai peranan laki-laki dan perempuan yang kemudian menjadi
pedoman dalam setiap masyarakat. Laki-laki dianggap sebagai kaum yang lebih
memiliki kekuasaan dan otoritas, sementara perempuan pada ranah domestiknya
adalah kaum yang tersubordinasikan.
Namun
kemudian dalam perkembangannya, dikotomi antara yang publik dan yang domestik
itu sendiri menjadi bias. Pembedaan antara keduanya masih belum jelas, bahwa
apakah dikotomi ini harus dilihat sebagai spatial
metaphor atau sebagai functional
metaphor. Dikotomi yang pada awalnya begitu simpel ternyata kemudian
menjadi begitu kompleks. Bahkan pada beberapa masyarakat, dikotomi antara yang
domestik dan yang publik ini menjadi tidak masuk akal karena produksi rumah
tangga (domestik) juga bersifat ekonomis dan politis (publik) sekaligus. Dikotomi
antara keduanya, termasuk realitas dominasi dan subordinasi dalam kehidupan
perempuan, sangat berlapis dan kontekstual. Konsep antara yang domestik dan
publik ini juga tidak bisa dilepaskan dari latar belakang sejarahnya yang
berawal dari budaya barat di era Viktorian dan masa kolonialisasi, sehingga
bias-bias sangat mungkin terjadi karena begitu beragamnya masyarakat manusia
dengan masing-masing latar belakang budaya yang berbeda.
Secara
keseluruhan, apa yang disampaikan oleh Lamphere dan beberapa ahli antropologi
lainnya mengenai permasalahan domestik dan publik dalam tulisan ini begitu
menarik. Kenyataan bahwa dikotomi seperti ini memang terjadi tidak dapat
dihapuskan dari sejarah umat manusia. Bahkan, dalam masyarakat yang bisa
dibilang sudah modern saja, paradigma semacam ini masih sering diangkat dalam
kehidupan sehari-hari.
Adalah
benar bahwa dalam memandang fenomena dikotomi domestik-publik ini, kita harus
selalu kembali melihat pada latar belakangnya. Ibu saya sering berkata bahwa
pada masa lalu ia seringkali diberitahu oleh neneknya bahwa tugas perempuan
adalah dapur-sumur-kasur, semua pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang
seolah-olah sama sekali tidak memberi celah untuk perempuan berada di ranah
publik dan hubungan sosial masyarakat. Hal ini terus menerus disampaikan,
dikonstruksikan, serta kemudian dipercayai dan dilakukan oleh kebanyakan
perempuan pada masa itu.
Sepertinya
perkembangan jaman mulai membuka peluang-peluang pada perempuan untuk berada di
ranah publik, baik dalam konteks spatial
dan functional. Kini ibu saya
seringkali mengingatkan pada saya untuk belajar sebaik-baiknya agar mampu
bersaing dengan orang-orang (terutama laki-laki) dalam dunia yang lebih luas
nantinya. Ia juga sering mengingatkan agar saya menjadi perempuan yang mandiri dan
tidak harus bergantung pada laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Bagian
yang menariknya adalah bahwa ia selalu menambahkan “sampai menikah” pada setiap
akhir kalimatnya.
Menjadi
pertanyaan lagi bagi saya bahwa apakah dikotomi domestik-publik yang telah
dikonstruksikan dengan sedemikian rupa pada masyarakat kita memang tidak bisa
terhapus dengan tuntas. Peranan-peranan perempuan yang menikah, bahkan pada
kebanyakan masyarakat modern sekalipun, seolah-olah tetap dibatasi pada wilayah
dan fungsi domestik. “Kalo mau kerja setelah nikah ya dari rumah aja, sambil
ngawas anak dan ngurus rumah tangga,” kata ibu saya selalu.
Meski
tidak serta merta hilang begitu saja, tidak bisa disanggah bahwa dikotomi
antara domestik dan publik pada masa-masa ini mulai mencair. Dikotomi antara
domestik dan publik tidak lagi menjadi suatu hal yang kaku dan dijadikan
pedoman oleh setiap masyarakat. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat
manusia, serta seiring dengan bertambah kompleksnya pula berbagai macam
problematikanya, hal ini mulai direproduksi dan diinterpretasi ulang oleh
masing-masing masyarakat. Dikotomi antara domestik dan publik terus menerus
berusaha disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang bersangkutan.
Terlebih lagi, ranah domestik dan publik antara perempuan dan laki-laki kini
tidak lagi dipandang sebagai dua sisi yang berlawanan, melainkan lebih kepada
hubungan yang terjalin antara keduanya dalam sebuah relasi gender.
Namun
kemudian yang perlu dipertanyakan dari tulisan ini secara keseluruhan adalah,
apakah penyesuaian-penyesuaian yang cair dalam paradigma mengenai yang domestik
dan yang publik benar-benar terjadi dalam setiap masyarakat? Serta bagaimanakah
pula peranan para ahli dalam membantu memberikan pemahaman bagi masyarakat
dengan paradigma domestik-publik yang masih dikotomis agar bisa menerima
penyesuaian-penyesuaian, mengingat paradigma seperti ini tidak jarang
menimbulkan diskriminasi kepada kaum perempuan. Mungkin pertanyaan-pertanyaan
ini menjadi kritik secara keseluruhan dari tulisan Lamphere, agar di samping
memberikan deskripsi juga mampu menawarkan solusi terhadap permasalahan yang
dimunculkan seperti diskriminasi itu sendiri.
“We now treat women more historically,
viewing them as social actors, and examining variability among women’s
situation within one culture and in their relationship to men.” (Lamphere,
1993)
Referensi
Lamphere, L.
1993. ‘The
Domestic Sphere of Women and the Public World of Men: The Strengths and Limitations of
an Anthropological
Dichotomy’,
dalam Gender in Cross-Cultural Perspective, C.B. Brettell dan C.F. Sargent
(ed.). New Jersey: Engiewood Cliffs.
No comments:
Post a Comment