“Go Green”: Demi
Lingkungan atau Keuntungan?
Sebuah refleksi
“Go Green”, sebuah
frasa yang singkat, namun menjanjikan. Menjanjikan usaha-usaha positif bagi
lingkungan, serta menjanjikan hasil akhir yang nampaknya menggembirakan di
tengah kemerosotan daya dukung lingkungan bumi akhir-akhir ini. Permasalahannya
kemudian adalah, benarkah “go green”
yang digembar-gemborkan di mana-mana dalam segala lini kehidupan manusia
benar-benar ditujukan untuk lingkungan sebagai tempat di mana manusia hidup
sehari-harinya? Atau justru “go green”
ini digunakan oleh pihak-pihak tertentu yang justru ingin menarik keuntungan
daripadanya? Sebagaimana dikemukakan oleh Kath Weston dalam tulisannya The Political Ecology of the Precarious,
penggunaan wacana-wacana positif mengenai lingkungan termasuk slogan-slogan
seperti “go green” ini seringkali
adalah lebih untuk kepentingan para pembuat wacana ini. Terutama di era
globalisasi dan neo-liberalisme di mana produktivitas digenjot sedemikian rupa
demi ideologi profit-oriented yang
dianut oleh hampir semua pihak kapitalis, rasanya terlalu naif apabila kita
benar-benar menganggap wacana “go green”
tadi adalah murni ditujukan untuk kepentingan lingkungan. Yang terjadi adalah
bahwa “go green” justru digunakan
untuk menutupi eksploitasi yang mereka lakukan terhadap alam, baik dalam bentuk
eksploitasi bahan mentah maupun dalam proses produksi mereka yang tidak mungkin
tidak menimbulkan kerugian bagi lingkungan. “Go green” seolah menjadi salah satu bentuk pengalihan isu yang
dilakukan oleh para pembuatnya.
Sebagai contoh yang saya temui adalah slogan “go green” yang dipakai oleh hampir semua
pasar swalayan di kota-kota besar di Indonesia. Sebut saja “go green” yang mereka klaim melalui
penggunaan kantong-kantong plastik belanja yang katanya ramah lingkungan, yang
cepat hancur dalam jangka waktu tertentu atau yang sering diberi label “degradable”. Mengenai benar atau
tidaknya, saya sendiri belum membuktikan. Tetapi bukankah ini menjadi menarik?
Dengan itu seolah-olah swalayan mereka adalah swalayan yang ramah lingkungan,
sehingga tidak peduli berapa banyak orang berbelanja di sana dengan jumlah
kantong plastik yang banyak, orang-orang itu tetap menjadi orang yang ramah
lingkungan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya ini menjadi salah satu
penarik hati para konsumen yang merasa harus bertanggungjawab dengan penggunaan
kantong plastik mereka, sehingga berbelanja di swalayan yang memiliki kantong
plastik degradable seolah-olah
menunjukkan bentuk tanggung jawab mereka. Semakin menarik kalimat yang
digunakan untuk menyatakan bahwa kantong plastik mereka ramah lingkungan,
semakin banyak juga yang percaya. Tadinya pun saya tidak mempermasalahkan hal
ini. Tetapi lagi-lagi, perspektif antropologi membuat saya begitu kritis dan
tersadar bahwa selama ini saya begitu terpengaruh dengan kalimat-kalimat
menarik tentang bagaimana sebuah swalayan menjadi pihak yang ‘ramah
lingkungan’.
Yang lebih menarik ketika swalayan-swalayan itu kemudian
menjual tas-tas kain yang diklaim sebagai ‘tas belanja’, dengan berbagai promo
yang mengikat dan potongan harga di setiap pembeliannya. Mereka mempromosikan
bahwa menggunakan tas kain untuk membawa barang belanjaan akan membuat kita
menjadi sangat ramah terhadap lingkungan karena mengurangi penggunaan kantong
plastik. Tentu saja tidak sedikit yang “tertipu”. Dengan potongan harga yang
dibuat sedemikian rupa sehingga tas-tas ini terlihat murah, orang-orang menjadi
tidak keberatan membeli. Yang menjadi pertanyaan: seberapa banyak dari mereka
yang membeli kemudian membawanya kembali ketika berbelanja untuk membawa
barang-barangnya? Seberapa efektif tas kain yang rata-rata ukurannya hanya
sebesar satu kantong plastik ukuran sedang untuk membawa barang belanjaan
orang-orang di kemudian hari?
Saya memiliki tas kain seperti ini. Pada waktu itu, saya
mendapatkannya bersamaan promo keanggotaan sebuah swalayan sehingga saya hanya
membayar keanggotaannya saja dan tas itu diklaim ‘gratis’. Saya tidak
memikirkan apa-apa dan setuju saja. Tapi terus terang, sampai saat ini toh tas
itu hanya tergeletak di lemari. Jangankan untuk membawanya berbelanja, ingat
bahwa saya pernah memilikinya pun bisa dihitung dengan jari. Dan lagipula
setelah saya pikir-pikir lagi, menjual tas-tas yang sebenarnya tidak bagus itu
justru membawa keuntungan bagi pihak swalayan. Tas-tas murah yang sebenarnya
tidak memiliki kelebihan selain label-label “go green” yang menarik, yang ditaruh besar-besar di depannya. Dan
bilapun ada pembeli yang kemudian membawanya ketika berbelanja, bukankah hal
ini turut menguntungkan pihak swalayan karena tidak perlu memberikan kantong
plastik—yang notabene ongkos/biaya
nya sudah dihitung dalam setiap pembelanjaan yang dilakukan oleh setiap
pembeli? Tidak menggunakan kantong plastik sebenarnya menguntungkan pihak
swalayan, mengurangi ongkos produksi mereka; sementara pihak pembeli yang
sebenarnya dirugikan—terlepas dari betapa kecilnya kerugian sehingga tidak
terasa—kemudian merasa terhibur dan bahkan disanjung-sanjung sebagai mereka
yang ramah lingkungan, yang membantu mengurangi efek pemanasan global dari
penggunaan kantong plastik.
Jadi, “go green”
itu demi lingkungan atau demi keuntungan?
Jawabannya boleh Anda renungkan sendiri.
Poin utamanya adalah:
jadilah subjek yang kritis, jangan biarkan
diri Anda diobjektivikasi!
No comments:
Post a Comment