Saturday, February 9, 2013

tulisan saya, 251212


“Go Green”: Demi Lingkungan atau Keuntungan?
Sebuah refleksi


“Go Green”, sebuah frasa yang singkat, namun menjanjikan. Menjanjikan usaha-usaha positif bagi lingkungan, serta menjanjikan hasil akhir yang nampaknya menggembirakan di tengah kemerosotan daya dukung lingkungan bumi akhir-akhir ini. Permasalahannya kemudian adalah, benarkah “go green” yang digembar-gemborkan di mana-mana dalam segala lini kehidupan manusia benar-benar ditujukan untuk lingkungan sebagai tempat di mana manusia hidup sehari-harinya? Atau justru “go green” ini digunakan oleh pihak-pihak tertentu yang justru ingin menarik keuntungan daripadanya? Sebagaimana dikemukakan oleh Kath Weston dalam tulisannya The Political Ecology of the Precarious, penggunaan wacana-wacana positif mengenai lingkungan termasuk slogan-slogan seperti “go green” ini seringkali adalah lebih untuk kepentingan para pembuat wacana ini. Terutama di era globalisasi dan neo-liberalisme di mana produktivitas digenjot sedemikian rupa demi ideologi profit-oriented yang dianut oleh hampir semua pihak kapitalis, rasanya terlalu naif apabila kita benar-benar menganggap wacana “go green” tadi adalah murni ditujukan untuk kepentingan lingkungan. Yang terjadi adalah bahwa “go green” justru digunakan untuk menutupi eksploitasi yang mereka lakukan terhadap alam, baik dalam bentuk eksploitasi bahan mentah maupun dalam proses produksi mereka yang tidak mungkin tidak menimbulkan kerugian bagi lingkungan. “Go green” seolah menjadi salah satu bentuk pengalihan isu yang dilakukan oleh para pembuatnya.

Sebagai contoh yang saya temui adalah slogan “go green” yang dipakai oleh hampir semua pasar swalayan di kota-kota besar di Indonesia. Sebut saja “go green” yang mereka klaim melalui penggunaan kantong-kantong plastik belanja yang katanya ramah lingkungan, yang cepat hancur dalam jangka waktu tertentu atau yang sering diberi label “degradable”. Mengenai benar atau tidaknya, saya sendiri belum membuktikan. Tetapi bukankah ini menjadi menarik? Dengan itu seolah-olah swalayan mereka adalah swalayan yang ramah lingkungan, sehingga tidak peduli berapa banyak orang berbelanja di sana dengan jumlah kantong plastik yang banyak, orang-orang itu tetap menjadi orang yang ramah lingkungan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya ini menjadi salah satu penarik hati para konsumen yang merasa harus bertanggungjawab dengan penggunaan kantong plastik mereka, sehingga berbelanja di swalayan yang memiliki kantong plastik degradable seolah-olah menunjukkan bentuk tanggung jawab mereka. Semakin menarik kalimat yang digunakan untuk menyatakan bahwa kantong plastik mereka ramah lingkungan, semakin banyak juga yang percaya. Tadinya pun saya tidak mempermasalahkan hal ini. Tetapi lagi-lagi, perspektif antropologi membuat saya begitu kritis dan tersadar bahwa selama ini saya begitu terpengaruh dengan kalimat-kalimat menarik tentang bagaimana sebuah swalayan menjadi pihak yang ‘ramah lingkungan’.

Yang lebih menarik ketika swalayan-swalayan itu kemudian menjual tas-tas kain yang diklaim sebagai ‘tas belanja’, dengan berbagai promo yang mengikat dan potongan harga di setiap pembeliannya. Mereka mempromosikan bahwa menggunakan tas kain untuk membawa barang belanjaan akan membuat kita menjadi sangat ramah terhadap lingkungan karena mengurangi penggunaan kantong plastik. Tentu saja tidak sedikit yang “tertipu”. Dengan potongan harga yang dibuat sedemikian rupa sehingga tas-tas ini terlihat murah, orang-orang menjadi tidak keberatan membeli. Yang menjadi pertanyaan: seberapa banyak dari mereka yang membeli kemudian membawanya kembali ketika berbelanja untuk membawa barang-barangnya? Seberapa efektif tas kain yang rata-rata ukurannya hanya sebesar satu kantong plastik ukuran sedang untuk membawa barang belanjaan orang-orang di kemudian hari?

Saya memiliki tas kain seperti ini. Pada waktu itu, saya mendapatkannya bersamaan promo keanggotaan sebuah swalayan sehingga saya hanya membayar keanggotaannya saja dan tas itu diklaim ‘gratis’. Saya tidak memikirkan apa-apa dan setuju saja. Tapi terus terang, sampai saat ini toh tas itu hanya tergeletak di lemari. Jangankan untuk membawanya berbelanja, ingat bahwa saya pernah memilikinya pun bisa dihitung dengan jari. Dan lagipula setelah saya pikir-pikir lagi, menjual tas-tas yang sebenarnya tidak bagus itu justru membawa keuntungan bagi pihak swalayan. Tas-tas murah yang sebenarnya tidak memiliki kelebihan selain label-label “go green” yang menarik, yang ditaruh besar-besar di depannya. Dan bilapun ada pembeli yang kemudian membawanya ketika berbelanja, bukankah hal ini turut menguntungkan pihak swalayan karena tidak perlu memberikan kantong plastik—yang notabene ongkos/biaya nya sudah dihitung dalam setiap pembelanjaan yang dilakukan oleh setiap pembeli? Tidak menggunakan kantong plastik sebenarnya menguntungkan pihak swalayan, mengurangi ongkos produksi mereka; sementara pihak pembeli yang sebenarnya dirugikan—terlepas dari betapa kecilnya kerugian sehingga tidak terasa—kemudian merasa terhibur dan bahkan disanjung-sanjung sebagai mereka yang ramah lingkungan, yang membantu mengurangi efek pemanasan global dari penggunaan kantong plastik.

Jadi, “go green” itu demi lingkungan atau demi keuntungan?
Jawabannya boleh Anda renungkan sendiri.

Poin utamanya adalah:
jadilah subjek yang kritis, jangan biarkan diri Anda diobjektivikasi!

No comments:

Post a Comment