Antropologi Psikiatri
sebuah perspektif
PERANAN ANTROPOLOGI
DALAM MEMBANTU
MASYARAKAT
YANG “DIHANTUI” KECEMASAN
Gangguan kecemasan (anxietas/anxiety) merupakan sebuah gangguan yang diklasifikasikan sebagai
salah satu gangguan jiwa. Gangguan kecemasan ini sendiri merupakan bagian dari
gangguan jiwa yang diklasifikasikan ke dalam golongan gangguan neurotik, gangguan somatoform, dan gangguan yang berkaitan dengan stres. Gangguan kecemasan ini kemudian
diklasifikasikan lagi ke dalam beberapa golongan yang lebih khusus seperti
anxietas fobik yang mencakup fobia-fobia pada hal-hal yang spesifik seperti
pada hewan, ketinggian, atau keberadaan di ruang terbuka.
Kelompok gangguan jiwa yang berada pada golongan gangguan neurotik, somatoform, dan yang berkaitan dengan stres ini
memiliki gejala umum seperti adanya gagasan, gangguan pikiran, dan impuls/dorongan yang timbul dalam pikiran
secara berulang serta dirasakan
mengganggu oleh individu yang menderita namun tidak dapat dihilangkan. Gejala-gejala ini pada umumnya disebabkan
oleh faktor-faktor yang sifatnya sangat luas di masyarakat di mana individu itu
tinggal. Pada umumnya disebabkan oleh keberadaan hal-hal atau situasi buruk
seperti penyakit endemik yang menyerang suatu wilayah dan menyebar dengan
cepat, situasi konflik, atau bahkan hanya berupa perspektif-perspektif spesifik
yang dipahami masyarakat dan kemudian menjadi suatu hal yang diterima sebagai
kebenaran.
Masyarakat, “Kebenaran”,
dan Kecemasan
Masyarakat manusia akhir-akhir
ini hidup dalam sebuah dunia di mana batas-batas yang jelas antara berbagai hal
sudah tidak lagi ada, sebuah dunia yang dikuasai oleh era globalisasi.
Perkembangan yang sedemikian pesat dalam sistem teknologi informasi dunia
menyebabkan informasi bergerak sedemikian cepat tanpa mengenal batas ruang dan
waktu lagi. Sayangnya, informasi yang dibawa oleh jaringan-jaringan nirkabel ini tidak selalu membawa dampak
positif bagi kehidupan masyarakat. Jika tidak hati-hati, berbagai informasi
yang ada—yang banyak diantaranya membawa kabar buruk—seringkali menyesatkan dan
bahkan menimbulkan berbagai kecemasan baru dalam kehidupan masyarakat.
Informasi-informasi
menakutkan mengenai bagaimana dunia yang kita tinggali saat ini dapat diakses
dengan mudah oleh setiap orang. Informasi-informasi ini kemudian tersebar dan
seringkali diterima begitu saja tanpa dilakukan konfirmasi mengenai
kebenarannya. Informasi dibaca, didengar, lalu diterima sebagai kebenaran yang
sebenarnya kita sendiri tidak tahu validasinya.
Informasi-informasi
mengenai bakteri atau virus penyakit yang menyebar ke seantero belahan dunia
akibat perubahan iklim, atau mengenai konflik-konflik yang terjadi dan membawa
dampak krisis dalam berbagai bidang di wilayah lainnya menyebarkan ketakutan
dan kecemasan bagi siapa saja. Belum lagi mengenai ide-ide baru, misalnya
mengenai standar-standar tertentu yang dianggap sebagai yang benar dengan angka-angka
pasti, yang kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran yang harus diikuti,
menimbulkan kecemasan bagi masyarakat: bagaimana apabila mereka tidak bisa
mengikutinya, bagaimana jika mereka salah dan menyimpang dari padanya itu?
Semuanya karena informasi-informasi tadi diterima begitu saja sebagai sebuah
kebenaran.
Kehadiran
teknologi kemudian tidak semata-mata memberikan akses yang mudah terhadap dunia
asing, tidak pula semata-mata membantu masyarakat memperoleh informasi.
Terlebih dari itu, kehadiran teknologi seringkali malah mengalienasikan manusia
dari sekitarnya. Manusia seolah-olah mengisolasi dirinya dari sekitar, menjadi
semakin jarang berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya secara
langsung, yang mana menurut saya sesungguhnya diperlukan dalam rangka menjaga
kewarasannya.
Dengan
semakin minimalnya komunikasi langsung manusia dengan manusia lain di
sekelilingnya, kecemasan-kecemasan semakin menjadi-jadi. Mereka yang seharusnya
bisa mendiskusikan mengenai berbagai informasi yang diterimanya secara langsung
kemudian mencernanya sendiri. Jikapun dilakukan diskusi yang lagi-lagi melalui
perantaraan media teknologi, menurut saya tetap tidak bisa menyamai diskusi
secara langsung yang menghadirkan suasana berbeda di mana manusia bisa saling
menenangkan satu dengan yang lain. Terlebih lagi jika informasi-informasi yang
diterima tadi sungguh diterima untuk dirinya sendiri tanpa dipertanyakan atau
didiskusikan lebih lanjut, seringkali mereka menganggap bahwa itulah kebenaran
yang sesungguhnya, bahwa orang lain pun menganggapnya demikian, dan pada
akhirnya bahwa itulah yang harus diikuti agar mereka bisa tetap hidup dan survive di dalam masyarakat.
Kecemasan, sebuah
Perspektif
Latar
belakang di atas cukup jelas memaparkan problematika yang dihadapi masyarakat
manusia akhir-akhir ini. Permasalahan kecemasan tidak lagi menjadi masalah
gangguan jiwa yang semata-mata terkait dengan sistem biologis manusia yang
berada dalam ranah neurosis atau syaraf. Jelas bahwa faktor sosial dan budaya
turut memainkan peran yang besar dalam menyumbang sebab-sebab kecemasan yang
berkembang pada setiap individu penderitanya.
Bertolakbelakang
pada hal tersebut, maka dari itu proses penyembuhan atau terapi yang dilakukan
untuk para penderita gangguan anxietas ini tidak bisa semata-mata dilakukan
dari ranah medis modern yang mengandalkan pengobatan dari sisi biologis saja.
Kecemasan yang dialami oleh penderita gangguan anxietas seharusnya bisa mereka
pahami sebagai kondisi riil yang hidup dalam ranah perspektif mereka, bukan
diterima begitu saja sebagai kebenaran secara biologis yang bisa disembuhkan
dengan terapi dan pengobatan klinis.
Penderita anxietas harusnya
disadarkan atas apa yang sedang mereka alami dan bukan hanya “diobati” dari
luar. Ketika, misalnya, seseorang merasakan mengalami sakit tertentu namun sebenarnya
tidak mengalami sakit apa-apa, ia harus diberitahu yang sebenarnya bahwa itu
hanya berasal dari pikirannya sendiri yang cemas—akan perubahan iklim yang
disebut-sebut membawa berbagai bakteri dan virus penyakit berbahaya, atau akan
kontak yang dilakukannya dengan penderita penyakit tertentu tanpa diketahui
sebelumnya. Ia harus diberitahu bahwa ia tidak sedang menderita penyakit
apapun.
Sisipan: Placebo, sebuah
Contoh Kasus
Dewasa ini,
kajian mengenai kesehatan manusia semakin meluas. Berbagai sistem dan praktik
pengobatan pun semakin berkembang ke arah yang lebih modern dan maju. Namun,
seiring dengan berkembangnya kajian terhadap kesehatan manusia ini, para ahli
menemukan bahwa keadaan “sakit” yang seringkali didefinisikan seseorang tidak
melulu mengarah pada “sakit” secara fisik. Seringkali seseorang mengeluh atau
merasa sakit walaupun pada kenyataannya tidak ditemukan gangguan fisik apapun
di dalam dirinya.
Dari sanalah
awal mula berkembangnya placebo yang
saat ini menjadi salah satu metode pengobatan dalam sistem medis modern. Placebo sendiri merupakan obat yang
sebenarnya tidak memiliki efek apapun dari segi klinis. Placebo seringkali berupa pil gula biasa yang tidak memiliki
khasiat untuk menyembuhkan suatu penyakit tertentu, bisa juga berupa operasi
yang pura-pura (Deyn dan D'Hooge, 1996). Placebo
ini diberikan dokter atau tenaga medis lainnya kepada pasien yang mereka
ketahui sebenarnya tidak memiliki sakit apapun secara fisik, namun seringkali
datang berobat dengan berbagai macam keluhan. Placebo yang tidak memiliki efek apapun itu sebenarnya hanya
merupakan pengobatan yang berasal dari harapan pasien terhadap pengobatan itu
sendiri (Janzen, 1987).
Sesungguhnya,
Placebo sendiri bukan merupakan suatu
kesalahan. Placebo bahkan diklaim
sebagai temuan baru dalam dunia medis modern yang memiliki peranan penting.
Namun demikian, menurut saya sistem medis inilah yang tetap harus dikritisi:
mengapa membohongi pasien alih-alih memberitahukan kebenaran? Mengapa
memperkuat asumsi pasien bahwa mereka sakit dan bukannya menjelaskan bahwa
semua yang dialaminya hanya merupakan akibat dari kecemasan yang dimilikinya
secara emosional? Mengapa tidak mencoba menyembuhkan penderita secara
menyeluruh—baik fisik maupun psikis—dan malah seolah-olah “mendukung” tumbuh
kembangnya kecemasan di dalam diri si penderita?
Anxietas dan
Antropologi
Berangkat dari semua permasalahan
yang terjadi dalam dunia medis modern sebagaimana halnya dengan contoh kasus placebo di atas, dalam hal inilah
sesungguhnya peranan ahli antropologi diperlukan. Antropolog harusnya mampu
menyumbangkan keahliannya dalam melakukan analisa terhadap faktor sosial yang
mungkin saja melatarbelakangi hal-hal terkait penderita anxietas tersebut. Ahli
antropologi harus dapat menganalisa latar belakang sosial budaya si penderita
untuk mencari tahu apa yang sebenarnya diderita.
Analisa mengenai kondisi sosial
masyarakat di mana si penderita tinggal pada masa yang sedang berjalan juga
menjadi penting untuk dilakukan, seperti misalnya yang telah dipaparkan di
bagian awal tulisan ini mengenai masa globalisasi yang turut menjadi faktor
penyumbang kecemasan dalam masyarakat. Jika saja hal-hal seperti ini bisa
dipahami dengan baik oleh para ahli yang kemudian berperan dalam proses terapi
dan pengobatan si penderita, diharapkan prosesnya akan berjalan dengan lebih
mudah dan juga kondusif bagi si penderita. Pemahaman mengenai kondisi si
penderita gangguan anxietas ini secara sosial menjadikan proses terapi dan
pengobatan yang dilakukan berjalan dua arah.
Bekerja sama dengan para ahli
medis dan terapis lainnya, para ahli antropologi ini juga seharusnya bisa
menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan hal-hal terkait kebenaran
kondisinya kepada si penderita. Komunikasi yang baik antara si penderita
gangguan anxietas dengan para ahli yang membantu proses pengobatan harus
dibangun sedemikian rupa agar prosesnya bisa berjalan dengan baik, baik dari
awal mula analisa latar belakang atau penyebab terjadinya gangguan, maupun
hingga pada proses terapi atau pengobatan di akhir.
Menjadi penting dan tidak boleh
diabaikan oleh para ahli antropologi adalah kemampuannya dalam menggunakan
perspektif emik, sebuah perspektif yang memandang sebuah permasalahan dari
sudut pandang masyarakat yang menjadi subjek dalam proses penelitian awalnya.
Kemampuan ini harus tetap dipergunakan, malah tidak boleh ditinggalkan agar
komunikasi yang berjalan tidak mendapatkan banyak hambatan berarti. Ini jugalah
yang menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki antropologi untuk kemudian
mampu menggagas sebuah solusi yang baik. Sudut pandang emik ini juga menjadi
penting digunakan untuk menjaga komunikasi dua arah dengan penderita gangguan
anxietas agar mereka dapat memahami hal-hal yang ingin disampaikan.
Hal yang tidak boleh dilupakan juga
adalah bahwa kebenaran tetap harus disampaikan kepada penderita gangguan
anxietas. Penderita harus mengetahui apa yang sebenarnya mereka alami, dan
bukannya malah dibohongi dengan pengobatan “palsu” sebagaimana yang terjadi
dalam contoh kasus placebo tadi. Penyampaian
kebenaran ini adalah juga merupakan salah satu bentuk terapi agar penderita
memahami keadaannya sendiri dengan baik karena biar bagaimanapun kesembuhan
secara emosional harus dibantu dari dalam si penderita itu sendiri.
Antropolog sebagai pihak ahli
juga diharapkan mampu memberikan konfirmasi dan atau klarifikasi atas hal-hal
yang menjadi penyebab kecemasan penderita anxietas ini. Misalnya jika ada
pemahaman-pemahaman yang salah mengenai suatu keadaan di masyarakat yang
kemudian malah bersifat menekan dan menyebabkan kecemasan pada masyarakat
tersebut, maka pemahaman yang benar harus diberikan agar kecemasan yang ada
tidak berkembang ke arah yang lebih buruk dan menyebar ke lebih banyak individu
dalam masyarakat tadi.
Mungkin ada baiknya jika
masyarakat diberikan pula pemahaman mengenai konsep relativitas dalam
aspek-aspek sosial dan budaya agar mereka mengerti bahwa sesungguhnya tidak ada
satu pihak pun yang berhak menentukan standar yang bersifat universal dalam
kehidupan masyarakat manusia. Hal yang benar di suatu kelompok masyarakat belum
tentu juga menjadi benar pada kelompok masyarakat lainnya. Karena itu
seharusnya masyarakat tidak menjadi tertekan dan cemas bila tidak bisa menyamai
standar-standar yang ada.
Para ahli antropologi lah, yang
memiliki pemahaman lebih dalam mengenai relativisme budaya ini, yang kemudian
memegang peranan penting dalam menyampaikan pemahaman mengenai hal-hal seperti
ini. Mungkin ini juga lah yang ingin disampaikan oleh seorang ahli antropologi
psikiatri, C. Helman (), mengenai konsep transcultural
psychiatry yang merupakan studi tentang perbandingan mengenai perwujudan dan
konsep dan gangguan jiwa dalam kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Dengan adanya pemahaman mengenai
relativitas masyarakat ini, juga melalui proses pengobatan dengan pola
komunikasi dua arah, diharapkan para penderita anxietas pada akhirnya dapat
memperoleh jalan keluar terbaik untuk mengatasi kecemasan-kecemasan yang
menghantuinya.
Referensi
Helman, C.
1985 Culture, Health, and
Illness. Bristol: John Wright.
Janzen, John M.
1987 ‘Therapy Management: Concept, Reality, Process’ dalam Medical
Anthropology Quarterly 1:68-84.
P. P. De Deyn
dan R. D'Hooge
1996 ‘Placebos in Clinical Practice and
Research’ dalam Journal of Medical Ethics
vol. 22 3:140-146.
No comments:
Post a Comment