Monday, July 8, 2013

tulisan saya, 060613

Antropologi Psikiatri
sebuah perspektif


PERANAN ANTROPOLOGI

DALAM MEMBANTU MASYARAKAT
YANG “DIHANTUI” KECEMASAN
 
Gangguan kecemasan (anxietas/anxiety) merupakan sebuah gangguan yang diklasifikasikan sebagai salah satu gangguan jiwa. Gangguan kecemasan ini sendiri merupakan bagian dari gangguan jiwa yang diklasifikasikan ke dalam golongan gangguan neurotik, gangguan somatoform, dan gangguan yang berkaitan dengan stres. Gangguan kecemasan ini kemudian diklasifikasikan lagi ke dalam beberapa golongan yang lebih khusus seperti anxietas fobik yang mencakup fobia-fobia pada hal-hal yang spesifik seperti pada hewan, ketinggian, atau keberadaan di ruang terbuka.
Kelompok gangguan jiwa yang berada pada golongan gangguan neurotik, somatoform, dan yang berkaitan dengan stres ini memiliki gejala umum seperti adanya gagasan, gangguan pikiran, dan impuls/dorongan yang timbul dalam pikiran secara berulang serta dirasakan mengganggu oleh individu yang menderita namun tidak dapat dihilangkan. Gejala-gejala ini pada umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang sifatnya sangat luas di masyarakat di mana individu itu tinggal. Pada umumnya disebabkan oleh keberadaan hal-hal atau situasi buruk seperti penyakit endemik yang menyerang suatu wilayah dan menyebar dengan cepat, situasi konflik, atau bahkan hanya berupa perspektif-perspektif spesifik yang dipahami masyarakat dan kemudian menjadi suatu hal yang diterima sebagai kebenaran.

Masyarakat, “Kebenaran”, dan Kecemasan
            Masyarakat manusia akhir-akhir ini hidup dalam sebuah dunia di mana batas-batas yang jelas antara berbagai hal sudah tidak lagi ada, sebuah dunia yang dikuasai oleh era globalisasi. Perkembangan yang sedemikian pesat dalam sistem teknologi informasi dunia menyebabkan informasi bergerak sedemikian cepat tanpa mengenal batas ruang dan waktu lagi. Sayangnya, informasi yang dibawa oleh jaringan-jaringan nirkabel ini tidak selalu membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat. Jika tidak hati-hati, berbagai informasi yang ada—yang banyak diantaranya membawa kabar buruk—seringkali menyesatkan dan bahkan menimbulkan berbagai kecemasan baru dalam kehidupan masyarakat.
            Informasi-informasi menakutkan mengenai bagaimana dunia yang kita tinggali saat ini dapat diakses dengan mudah oleh setiap orang. Informasi-informasi ini kemudian tersebar dan seringkali diterima begitu saja tanpa dilakukan konfirmasi mengenai kebenarannya. Informasi dibaca, didengar, lalu diterima sebagai kebenaran yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu validasinya.
            Informasi-informasi mengenai bakteri atau virus penyakit yang menyebar ke seantero belahan dunia akibat perubahan iklim, atau mengenai konflik-konflik yang terjadi dan membawa dampak krisis dalam berbagai bidang di wilayah lainnya menyebarkan ketakutan dan kecemasan bagi siapa saja. Belum lagi mengenai ide-ide baru, misalnya mengenai standar-standar tertentu yang dianggap sebagai yang benar dengan angka-angka pasti, yang kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran yang harus diikuti, menimbulkan kecemasan bagi masyarakat: bagaimana apabila mereka tidak bisa mengikutinya, bagaimana jika mereka salah dan menyimpang dari padanya itu? Semuanya karena informasi-informasi tadi diterima begitu saja sebagai sebuah kebenaran.
            Kehadiran teknologi kemudian tidak semata-mata memberikan akses yang mudah terhadap dunia asing, tidak pula semata-mata membantu masyarakat memperoleh informasi. Terlebih dari itu, kehadiran teknologi seringkali malah mengalienasikan manusia dari sekitarnya. Manusia seolah-olah mengisolasi dirinya dari sekitar, menjadi semakin jarang berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya secara langsung, yang mana menurut saya sesungguhnya diperlukan dalam rangka menjaga kewarasannya.
            Dengan semakin minimalnya komunikasi langsung manusia dengan manusia lain di sekelilingnya, kecemasan-kecemasan semakin menjadi-jadi. Mereka yang seharusnya bisa mendiskusikan mengenai berbagai informasi yang diterimanya secara langsung kemudian mencernanya sendiri. Jikapun dilakukan diskusi yang lagi-lagi melalui perantaraan media teknologi, menurut saya tetap tidak bisa menyamai diskusi secara langsung yang menghadirkan suasana berbeda di mana manusia bisa saling menenangkan satu dengan yang lain. Terlebih lagi jika informasi-informasi yang diterima tadi sungguh diterima untuk dirinya sendiri tanpa dipertanyakan atau didiskusikan lebih lanjut, seringkali mereka menganggap bahwa itulah kebenaran yang sesungguhnya, bahwa orang lain pun menganggapnya demikian, dan pada akhirnya bahwa itulah yang harus diikuti agar mereka bisa tetap hidup dan survive di dalam masyarakat.

Kecemasan, sebuah Perspektif
            Latar belakang di atas cukup jelas memaparkan problematika yang dihadapi masyarakat manusia akhir-akhir ini. Permasalahan kecemasan tidak lagi menjadi masalah gangguan jiwa yang semata-mata terkait dengan sistem biologis manusia yang berada dalam ranah neurosis atau syaraf. Jelas bahwa faktor sosial dan budaya turut memainkan peran yang besar dalam menyumbang sebab-sebab kecemasan yang berkembang pada setiap individu penderitanya.
            Bertolakbelakang pada hal tersebut, maka dari itu proses penyembuhan atau terapi yang dilakukan untuk para penderita gangguan anxietas ini tidak bisa semata-mata dilakukan dari ranah medis modern yang mengandalkan pengobatan dari sisi biologis saja. Kecemasan yang dialami oleh penderita gangguan anxietas seharusnya bisa mereka pahami sebagai kondisi riil yang hidup dalam ranah perspektif mereka, bukan diterima begitu saja sebagai kebenaran secara biologis yang bisa disembuhkan dengan terapi dan pengobatan klinis.
Penderita anxietas harusnya disadarkan atas apa yang sedang mereka alami dan bukan hanya “diobati” dari luar. Ketika, misalnya, seseorang merasakan mengalami sakit tertentu namun sebenarnya tidak mengalami sakit apa-apa, ia harus diberitahu yang sebenarnya bahwa itu hanya berasal dari pikirannya sendiri yang cemas—akan perubahan iklim yang disebut-sebut membawa berbagai bakteri dan virus penyakit berbahaya, atau akan kontak yang dilakukannya dengan penderita penyakit tertentu tanpa diketahui sebelumnya. Ia harus diberitahu bahwa ia tidak sedang menderita penyakit apapun.

Sisipan: Placebo, sebuah Contoh Kasus
Dewasa ini, kajian mengenai kesehatan manusia semakin meluas. Berbagai sistem dan praktik pengobatan pun semakin berkembang ke arah yang lebih modern dan maju. Namun, seiring dengan berkembangnya kajian terhadap kesehatan manusia ini, para ahli menemukan bahwa keadaan “sakit” yang seringkali didefinisikan seseorang tidak melulu mengarah pada “sakit” secara fisik. Seringkali seseorang mengeluh atau merasa sakit walaupun pada kenyataannya tidak ditemukan gangguan fisik apapun di dalam dirinya.
Dari sanalah awal mula berkembangnya placebo yang saat ini menjadi salah satu metode pengobatan dalam sistem medis modern. Placebo sendiri merupakan obat yang sebenarnya tidak memiliki efek apapun dari segi klinis. Placebo seringkali berupa pil gula biasa yang tidak memiliki khasiat untuk menyembuhkan suatu penyakit tertentu, bisa juga berupa operasi yang pura-pura (Deyn dan D'Hooge, 1996). Placebo ini diberikan dokter atau tenaga medis lainnya kepada pasien yang mereka ketahui sebenarnya tidak memiliki sakit apapun secara fisik, namun seringkali datang berobat dengan berbagai macam keluhan. Placebo yang tidak memiliki efek apapun itu sebenarnya hanya merupakan pengobatan yang berasal dari harapan pasien terhadap pengobatan itu sendiri (Janzen, 1987).
Sesungguhnya, Placebo sendiri bukan merupakan suatu kesalahan. Placebo bahkan diklaim sebagai temuan baru dalam dunia medis modern yang memiliki peranan penting. Namun demikian, menurut saya sistem medis inilah yang tetap harus dikritisi: mengapa membohongi pasien alih-alih memberitahukan kebenaran? Mengapa memperkuat asumsi pasien bahwa mereka sakit dan bukannya menjelaskan bahwa semua yang dialaminya hanya merupakan akibat dari kecemasan yang dimilikinya secara emosional? Mengapa tidak mencoba menyembuhkan penderita secara menyeluruh—baik fisik maupun psikis—dan malah seolah-olah “mendukung” tumbuh kembangnya kecemasan di dalam diri si penderita?

Anxietas dan Antropologi
Berangkat dari semua permasalahan yang terjadi dalam dunia medis modern sebagaimana halnya dengan contoh kasus placebo di atas, dalam hal inilah sesungguhnya peranan ahli antropologi diperlukan. Antropolog harusnya mampu menyumbangkan keahliannya dalam melakukan analisa terhadap faktor sosial yang mungkin saja melatarbelakangi hal-hal terkait penderita anxietas tersebut. Ahli antropologi harus dapat menganalisa latar belakang sosial budaya si penderita untuk mencari tahu apa yang sebenarnya diderita.
Analisa mengenai kondisi sosial masyarakat di mana si penderita tinggal pada masa yang sedang berjalan juga menjadi penting untuk dilakukan, seperti misalnya yang telah dipaparkan di bagian awal tulisan ini mengenai masa globalisasi yang turut menjadi faktor penyumbang kecemasan dalam masyarakat. Jika saja hal-hal seperti ini bisa dipahami dengan baik oleh para ahli yang kemudian berperan dalam proses terapi dan pengobatan si penderita, diharapkan prosesnya akan berjalan dengan lebih mudah dan juga kondusif bagi si penderita. Pemahaman mengenai kondisi si penderita gangguan anxietas ini secara sosial menjadikan proses terapi dan pengobatan yang dilakukan berjalan dua arah.
Bekerja sama dengan para ahli medis dan terapis lainnya, para ahli antropologi ini juga seharusnya bisa menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan hal-hal terkait kebenaran kondisinya kepada si penderita. Komunikasi yang baik antara si penderita gangguan anxietas dengan para ahli yang membantu proses pengobatan harus dibangun sedemikian rupa agar prosesnya bisa berjalan dengan baik, baik dari awal mula analisa latar belakang atau penyebab terjadinya gangguan, maupun hingga pada proses terapi atau pengobatan di akhir.
Menjadi penting dan tidak boleh diabaikan oleh para ahli antropologi adalah kemampuannya dalam menggunakan perspektif emik, sebuah perspektif yang memandang sebuah permasalahan dari sudut pandang masyarakat yang menjadi subjek dalam proses penelitian awalnya. Kemampuan ini harus tetap dipergunakan, malah tidak boleh ditinggalkan agar komunikasi yang berjalan tidak mendapatkan banyak hambatan berarti. Ini jugalah yang menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki antropologi untuk kemudian mampu menggagas sebuah solusi yang baik. Sudut pandang emik ini juga menjadi penting digunakan untuk menjaga komunikasi dua arah dengan penderita gangguan anxietas agar mereka dapat memahami hal-hal yang ingin disampaikan.
Hal yang tidak boleh dilupakan juga adalah bahwa kebenaran tetap harus disampaikan kepada penderita gangguan anxietas. Penderita harus mengetahui apa yang sebenarnya mereka alami, dan bukannya malah dibohongi dengan pengobatan “palsu” sebagaimana yang terjadi dalam contoh kasus placebo tadi. Penyampaian kebenaran ini adalah juga merupakan salah satu bentuk terapi agar penderita memahami keadaannya sendiri dengan baik karena biar bagaimanapun kesembuhan secara emosional harus dibantu dari dalam si penderita itu sendiri.
Antropolog sebagai pihak ahli juga diharapkan mampu memberikan konfirmasi dan atau klarifikasi atas hal-hal yang menjadi penyebab kecemasan penderita anxietas ini. Misalnya jika ada pemahaman-pemahaman yang salah mengenai suatu keadaan di masyarakat yang kemudian malah bersifat menekan dan menyebabkan kecemasan pada masyarakat tersebut, maka pemahaman yang benar harus diberikan agar kecemasan yang ada tidak berkembang ke arah yang lebih buruk dan menyebar ke lebih banyak individu dalam masyarakat tadi.
Mungkin ada baiknya jika masyarakat diberikan pula pemahaman mengenai konsep relativitas dalam aspek-aspek sosial dan budaya agar mereka mengerti bahwa sesungguhnya tidak ada satu pihak pun yang berhak menentukan standar yang bersifat universal dalam kehidupan masyarakat manusia. Hal yang benar di suatu kelompok masyarakat belum tentu juga menjadi benar pada kelompok masyarakat lainnya. Karena itu seharusnya masyarakat tidak menjadi tertekan dan cemas bila tidak bisa menyamai standar-standar yang ada.
Para ahli antropologi lah, yang memiliki pemahaman lebih dalam mengenai relativisme budaya ini, yang kemudian memegang peranan penting dalam menyampaikan pemahaman mengenai hal-hal seperti ini. Mungkin ini juga lah yang ingin disampaikan oleh seorang ahli antropologi psikiatri, C. Helman (), mengenai konsep transcultural psychiatry yang merupakan studi tentang perbandingan mengenai perwujudan dan konsep dan gangguan jiwa dalam kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Dengan adanya pemahaman mengenai relativitas masyarakat ini, juga melalui proses pengobatan dengan pola komunikasi dua arah, diharapkan para penderita anxietas pada akhirnya dapat memperoleh jalan keluar terbaik untuk mengatasi kecemasan-kecemasan yang menghantuinya.


Referensi

Helman, C.
1985       Culture, Health, and Illness. Bristol: John Wright.
Janzen, John M.
1987       Therapy Management: Concept, Reality, Process’ dalam Medical Anthropology Quarterly 1:68-84.
P. P. De Deyn dan R. D'Hooge
1996       ‘Placebos in Clinical Practice and Research’ dalam Journal of Medical Ethics vol. 22 3:140-146.

No comments:

Post a Comment