Antropologi Gender dan Seksualitas
reaction paper
The Egg and the Sperm: How Science Has
Constructed a Romance Based on Stereotypical Male-Female Roles
“The theory
of the human body is always a part of a world-picture... The theory of the
human body is always a part of a fantasy.” [Jamesh Hillman, The Myth of
Analysis]
Permasalahan
yang “natural” seperti saja misalnya konsepsi mengenai “tubuh” manusia, tidak
bisa dilihat sebagai suatu hal yang terpisah dari kebudayaan. Kebudayaan
memiliki peranan penting, bahkan seringkali berkaitan erat dengan pemahaman
masyarakat mengenai hal-hal yang natural tadi. Misalnya saja, dalam tulisan ini
penulis mengemukakan beberapa dongeng yang menjadi bagian dari kebudayaan barat
seperti “the sleeping beauty” yang
menggambarkan bagaimana perempuan adalah sosok yang pasif dan menunggu
diselamatkan sementara laki-laki adalah penyelamat yang aktif. Hal ini kemudian
menjadi berkaitan dengan bagaimana perempuan, bahkan dalam proses
reproduksinya, selalu digambarkan sebagai yang pasif. Sementara laki-laki,
melalui sperma yang dihasilkannya dalam proses reproduksi, digambarkan sebagai
pihak yang aktif.
Peranan
perempuan dalam proses reproduksi seolah-olah selalu berada di posisi yang
marginal. Demikian pula dalam berbagai wacana yang berkembang dalam dunia
ilmiah mengenai reproduksi perempuan dan laki-laki. Reproduksi laki-laki selalu
dikaitkan dengan metafor-metafor yang sifatnya semakin memarginalkan posisi
perempuan seperti misalnya penyebutan sperma laki-laki sebagai “pejuang”; atau
penyampaian cerita-cerita bahwa sperma yang jumlahnya jutaan itu akan “mati” di
tengah jalan menuju sel telur perempuan karena banyaknya “rintangan” untuk
menuju ke sana, bahwa mereka semua “berlomba” dengan sangat keras untuk
mencapai sel telur agar bisa membuahinya supaya sel telur itu tidak berakhir
dengan “sia-sia”.
Pada
bagian awal tulisannya ini, Martin mempertanyakan mengapa jika demikian
kebudayaan itu sendiri tidak menjadi bagian dari pembelajaran materi-materi
biologi mengenai reproduksi? Padahal begitu jelas bahwa stereotip kebudayaan
Barat inilah yang banyak memberikan pengaruh dalam pembentukan wacana-wacana
mengenai hal-hal yang sifatnya natural seperti proses reproduksi manusia,
antara laki-laki dengan perempuan. Tidak hanya dalam permasalahan reproduksi,
bahkan dalam hal-hal yang bersifat privat lainnya seperti bentuk tubuh dan
kekuatan individu yang turut dibentuk oleh stereotip-stereotip ini, misalnya
saja bahwa perempuan lebih lemah dibandingkan laki-laki.
Berusaha
menjawab pertanyaan yang diajukan Martin, menurut saya hal tersebut tentu saja
tidak dilakukan untuk melanggengkan penanaman wacana yang sedemikian rupa pada
orang banyak. Bayangkan saja jika semua orang menjadi sadar akan pengaruh
kebudayaan yang begitu besar dalam pembentukan ilmu pengetahuan ini, bukankah
pada akhirnya akan menjadi banyak pula yang mempertanyakan kebenarannya—bahwa
ilmu pengetahuan itu bukan semata-mata dibuat atas dasar kebudayaan seperti misalnya
melalui dongeng-dongeng klasik itu?
Memang
benar adanya bahwa semua ilmu pengetahuan telah melalui proses uji ilmiah
sedemikian rupa yang bisa dibuktikan validitasnya. Tetapi perlu dipertanyakan
lagi, untuk apa uji ilmiah itu dilakukan? Apakah sungguh demi tujuan ilmu
pengetahuan, atau semata hanya untuk mencari justifikasi yang sah atas
nilai-nilai dan stereotip budaya yang telah ada sebelumnya? Kebudayaan dan ilmu
pengetahuan di sini kemudian bisa dilihat sebagai sebuah interaksi yang terus
berkesinambungan: kebudayaan membentuk pengetahuan, pengetahuan memberikan
pembenaran atas kebudayaan, kemudian pada akhirnya pengetahuan itu kembali
digunakan untuk “memodifikasi” dan merekonstruksi budaya. Menjadi pertanyaan
kemudian: what’s next? Jawabannya sederhana
saja menurut saya: untuk menjadikan pengaturan dan kontrol terhadap masyarakat
manusia menjadi lebih mudah melalui penanaman wacana-wacana yang “valid”.
Hal
ini mungkin sejalan yang coba diungkapkan oleh Foucault dalam tulisannya Seksualitas dan Kekuasaan, bahwa sejak
era Viktorian seksualitas menjadi sesuatu yang diatur dengan sedemikian rupa
dengan dasar ajaran agama. Foucault menyatakan bahwa pengaturan ini dilakukan
pada masa itu untuk menjaga moral masyarakat, agar masyarakat mengetahui mana hal
yang baik dan yang buruk. Menurut saya tidak sesederhana itu. Mungkin yang
terlewat adalah mengenai bagaimana penguasa pada masa itu berusaha membedakan
mana hal yang publik dan mana hal yang privat. Ketika kontrol itu kemudian
dimasukkan ke ranah yang begitu privat seperti halnya seksualitas individu,
maka bukankah kemudian akan menjadi lebih mudah untuk melakukan kontrol pada
hal-hal yang sifatnya lebih publik?
Karena
pada dasarnya sama saja dengan analogi bahwa “setelah menyelesaikan
permasalahan yang rumit, maka permasalahan sederhana lainnya menjadi lebih
mudah”? Saya melihat seksualitas manusia, hal yang begitu privat, seharusnya
tidak dimasuki sedemikian mudahnya oleh penguasa. Atas dasar hak asasi, setiap
individu bisa saja melakukan tuntutan atas kontrol yang dilakukan. Tetapi
ketika kontrol pada hal ini dapat dilalui dengan baik, maka hal-hal lainnya
dirasa menjadi lebih mudah. Saya melihat bahwa ini memang tidak dapat
dilepaskan dari pemahaman bahwa hal-hal privat seperti seksualitas itu sendiri
membawa pengaruh yang cukup signifikan bagi ranah publik. Bukankah tindakan
kriminalitas yang sifatnya begitu publik itu seringkali berangkat dari
permasalahan seksualitas yang privat, seperti misalnya pemerkosaan dan
perselingkuhan?
Pada
akhirnya saya ingin mengajak agar kita semua berpikir sedikit skeptis terhadap
berbagai wacana yang berkembang di sekitar kita, tidak peduli apakah itu
berdasarkan ilmu pengetahuan, teks-teks suci, atau apapun yang dianggap
“valid”. Kita harus selalu mempertanyakan kebenaran yang berusaha disampaikan,
dan bahkan ditanamkan, melalui wacana-wacana itu. Jangan mudah terbawa dan
percaya begitu saja atas apa yang kita dengar dan kita baca, agar kita tidak
menjadi “yang berikutnya” yang dengan begitu mudahnya dikontrol untuk melanggengkan
kepentingan penguasa atau pihak-pihak tertentu.
Referensi
Martin, Emily
1991 “The
Egg and the Sperm: How Science Has Constructed a Romance Based on Stereotypical
Male-Female Roles” dalam Signs vol. 16 no. 3 hal. 485-501.
Oxford: Oxford University Press.
Foucault, Michel
2003 “Seksualitas
dan Kekuasaan” dalam Desantara no. 8
hal. 46-57.
No comments:
Post a Comment