Monday, July 8, 2013

tulisan saya, 230413

Antropologi Gender dan Seksualitas
reaction paper


The Egg and the Sperm: How Science Has Constructed a Romance Based on Stereotypical Male-Female Roles

“The theory of the human body is always a part of a world-picture... The theory of the human body is always a part of a fantasy.” [Jamesh Hillman, The Myth of Analysis]

Permasalahan yang “natural” seperti saja misalnya konsepsi mengenai “tubuh” manusia, tidak bisa dilihat sebagai suatu hal yang terpisah dari kebudayaan. Kebudayaan memiliki peranan penting, bahkan seringkali berkaitan erat dengan pemahaman masyarakat mengenai hal-hal yang natural tadi. Misalnya saja, dalam tulisan ini penulis mengemukakan beberapa dongeng yang menjadi bagian dari kebudayaan barat seperti “the sleeping beauty” yang menggambarkan bagaimana perempuan adalah sosok yang pasif dan menunggu diselamatkan sementara laki-laki adalah penyelamat yang aktif. Hal ini kemudian menjadi berkaitan dengan bagaimana perempuan, bahkan dalam proses reproduksinya, selalu digambarkan sebagai yang pasif. Sementara laki-laki, melalui sperma yang dihasilkannya dalam proses reproduksi, digambarkan sebagai pihak yang aktif.
Peranan perempuan dalam proses reproduksi seolah-olah selalu berada di posisi yang marginal. Demikian pula dalam berbagai wacana yang berkembang dalam dunia ilmiah mengenai reproduksi perempuan dan laki-laki. Reproduksi laki-laki selalu dikaitkan dengan metafor-metafor yang sifatnya semakin memarginalkan posisi perempuan seperti misalnya penyebutan sperma laki-laki sebagai “pejuang”; atau penyampaian cerita-cerita bahwa sperma yang jumlahnya jutaan itu akan “mati” di tengah jalan menuju sel telur perempuan karena banyaknya “rintangan” untuk menuju ke sana, bahwa mereka semua “berlomba” dengan sangat keras untuk mencapai sel telur agar bisa membuahinya supaya sel telur itu tidak berakhir dengan “sia-sia”.
Pada bagian awal tulisannya ini, Martin mempertanyakan mengapa jika demikian kebudayaan itu sendiri tidak menjadi bagian dari pembelajaran materi-materi biologi mengenai reproduksi? Padahal begitu jelas bahwa stereotip kebudayaan Barat inilah yang banyak memberikan pengaruh dalam pembentukan wacana-wacana mengenai hal-hal yang sifatnya natural seperti proses reproduksi manusia, antara laki-laki dengan perempuan. Tidak hanya dalam permasalahan reproduksi, bahkan dalam hal-hal yang bersifat privat lainnya seperti bentuk tubuh dan kekuatan individu yang turut dibentuk oleh stereotip-stereotip ini, misalnya saja bahwa perempuan lebih lemah dibandingkan laki-laki.
Berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan Martin, menurut saya hal tersebut tentu saja tidak dilakukan untuk melanggengkan penanaman wacana yang sedemikian rupa pada orang banyak. Bayangkan saja jika semua orang menjadi sadar akan pengaruh kebudayaan yang begitu besar dalam pembentukan ilmu pengetahuan ini, bukankah pada akhirnya akan menjadi banyak pula yang mempertanyakan kebenarannya—bahwa ilmu pengetahuan itu bukan semata-mata dibuat atas dasar kebudayaan seperti misalnya melalui dongeng-dongeng klasik itu?
Memang benar adanya bahwa semua ilmu pengetahuan telah melalui proses uji ilmiah sedemikian rupa yang bisa dibuktikan validitasnya. Tetapi perlu dipertanyakan lagi, untuk apa uji ilmiah itu dilakukan? Apakah sungguh demi tujuan ilmu pengetahuan, atau semata hanya untuk mencari justifikasi yang sah atas nilai-nilai dan stereotip budaya yang telah ada sebelumnya? Kebudayaan dan ilmu pengetahuan di sini kemudian bisa dilihat sebagai sebuah interaksi yang terus berkesinambungan: kebudayaan membentuk pengetahuan, pengetahuan memberikan pembenaran atas kebudayaan, kemudian pada akhirnya pengetahuan itu kembali digunakan untuk “memodifikasi” dan merekonstruksi budaya. Menjadi pertanyaan kemudian: what’s next? Jawabannya sederhana saja menurut saya: untuk menjadikan pengaturan dan kontrol terhadap masyarakat manusia menjadi lebih mudah melalui penanaman wacana-wacana yang “valid”.
Hal ini mungkin sejalan yang coba diungkapkan oleh Foucault dalam tulisannya Seksualitas dan Kekuasaan, bahwa sejak era Viktorian seksualitas menjadi sesuatu yang diatur dengan sedemikian rupa dengan dasar ajaran agama. Foucault menyatakan bahwa pengaturan ini dilakukan pada masa itu untuk menjaga moral masyarakat, agar masyarakat mengetahui mana hal yang baik dan yang buruk. Menurut saya tidak sesederhana itu. Mungkin yang terlewat adalah mengenai bagaimana penguasa pada masa itu berusaha membedakan mana hal yang publik dan mana hal yang privat. Ketika kontrol itu kemudian dimasukkan ke ranah yang begitu privat seperti halnya seksualitas individu, maka bukankah kemudian akan menjadi lebih mudah untuk melakukan kontrol pada hal-hal yang sifatnya lebih publik?
Karena pada dasarnya sama saja dengan analogi bahwa “setelah menyelesaikan permasalahan yang rumit, maka permasalahan sederhana lainnya menjadi lebih mudah”? Saya melihat seksualitas manusia, hal yang begitu privat, seharusnya tidak dimasuki sedemikian mudahnya oleh penguasa. Atas dasar hak asasi, setiap individu bisa saja melakukan tuntutan atas kontrol yang dilakukan. Tetapi ketika kontrol pada hal ini dapat dilalui dengan baik, maka hal-hal lainnya dirasa menjadi lebih mudah. Saya melihat bahwa ini memang tidak dapat dilepaskan dari pemahaman bahwa hal-hal privat seperti seksualitas itu sendiri membawa pengaruh yang cukup signifikan bagi ranah publik. Bukankah tindakan kriminalitas yang sifatnya begitu publik itu seringkali berangkat dari permasalahan seksualitas yang privat, seperti misalnya pemerkosaan dan perselingkuhan?
Pada akhirnya saya ingin mengajak agar kita semua berpikir sedikit skeptis terhadap berbagai wacana yang berkembang di sekitar kita, tidak peduli apakah itu berdasarkan ilmu pengetahuan, teks-teks suci, atau apapun yang dianggap “valid”. Kita harus selalu mempertanyakan kebenaran yang berusaha disampaikan, dan bahkan ditanamkan, melalui wacana-wacana itu. Jangan mudah terbawa dan percaya begitu saja atas apa yang kita dengar dan kita baca, agar kita tidak menjadi “yang berikutnya” yang dengan begitu mudahnya dikontrol untuk melanggengkan kepentingan penguasa atau pihak-pihak tertentu.



Referensi
Martin, Emily
1991              “The Egg and the Sperm: How Science Has Constructed a Romance Based on Stereotypical Male-Female Roles dalam Signs vol. 16 no. 3 hal. 485-501. Oxford: Oxford University Press.
Foucault, Michel
2003               “Seksualitas dan Kekuasaan” dalam Desantara no. 8 hal. 46-57.
 

No comments:

Post a Comment