Thursday, February 7, 2013

tulisan saya, 221212


Antropologi Medis
sebuah esai kajian "Body Image"
  
BEDAH KECANTIKAN:
TENTANG KECANTIKAN, KESEMPURNAAN,
KETERGANTUNGAN, DAN KESEMUAN


Latar Belakang
            Antropologi medis sebagai bagian dari antropologi memiliki pendekatan yang holistik, yaitu mengkaji berbagai bidang (dalam hal ini khususnya kesehatan manusia) secara menyeluruh. Maka dari itu, pembahasannya tidak lagi bisa dibatasi pada hal-hal yang menyangkut konsep “sakit” dan “sehat”. Masalah kepercayaan, teknologi, juga berbagai diskursus yang eksis di masyarakat mengenai kesehatan tu sendiri juga dapat menjadi bagian dari kajian antropologi medis.
            Body image merupakan salah satu isu kesehatan yang dalam hal ini penulis anggap menarik untuk ditelusuri. Melalui observasi dari hal sehari-hari, juga melalui studi-studi dari berbagai literatur yang telah ada mengenainya, penulis mencoba mengkaji permasalah body image ini dari berbagai sisi: teknologi, diskursus, dan kepercayaan di masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini penulis mencoba lebih spesifik dengan menyoroti permasalahan body image dari segi konsep mengenai “cantik” yang berkembang di masyarakat dewasa ini.

Modifikasi Tubuh, Hanya Manusia yang Bisa
            Manusia bisa jadi adalah satu-satunya makhluk yang dengan tabah menolak untuk membiarkan alam memerintah penampilan mereka. Kapasitasnya untuk berias dan melakukan modifikasi diri adalah kemampuan yang sentral dan esensial dari kemanusiaan mereka sendiri, meskipun hal ini boleh jadi adalah salah satu bentuk dari fenomena budaya. Modifikasi tubuh sendiri dilakukan dengan berbagai alasan seperti untuk menunjukkan kenaikan status sosial atau untuk menunjukkan identitasnya di dalam masyarakat, meskipun pada akhirnya modifikasi ini tetap mengarah pada konsep “cantik”—bagaimanapun konsep itu didefinisikan (Reischer dan Koo, 2004:197).
            Para peneliti setuju bahwa salah satu pengaruh kuat pada perkembangan gangguan citra tubuh atau body image adalah faktor sosiokultural (Heinberg dan Thompson, 1992)[1]. Sebuah model sosiokultural menekankan bahwa meskipun standar masyarakat untuk daya tarik sering tidak bisa diraih (Fallon, 1990)[2], tapi diskriminasi terhadap individu yang dianggap "tidak menarik" masih terjadi. Dalam masyarakat barat kontemporer, bagi perempuan, kurus telah menjadi hampir identik dengan kecantikan (Heinberg dan Thompson, 1995).

Media dan Body Image
Penggambaran media mengenai perempuan yang kurus dan cantik banyak membawa dampak buruk bagi konsep mengenai body image seseorang. Penggambaran karakter perempuan di program-program televisi yang jauh lebih kurus dari rata-rata perempuan lain diasosiasikan dengan kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup. Bahkan media juga menginstruksikan untuk bagaimana membentuk tubuh yang kurus melalui diet, olahraga, bahkan operasi demi memiliki tubuh kurus. Media seolah-olah ingin menyatakan bahwa perempuan bisa, dan seharusnya memiliki badan yang kurus (Yamamiya, dkk, 2005).
Di sini, penulis mencoba menekankan bahwa adanya ketimpangan dalam pembentukan konsep mengenai bagaimana yang “cantik” itu seharusnya. Dalam hal ini, media memiliki peranan yang tidak bisa diremehkan, media merupakan wahana utama dalam menyebarkan diskursus[3] mengenai body image ini. Sebagaimana yang coba dipaparkan melalui pendekatan critical medical anthropology[4] sendiri, bisa jadi dampak-dampak negatif yang muncul dari pemberitaan-pemberitaan media mengenai konsep “cantik” ini juga memperlihatkan adanya ketimpangan antara budaya barat—yang notabene menjadi asal dari konsep “cantik” yang disebarkan oleh media tadi—dengan budaya non-barat yang pada mulanya memiliki konsep “cantik”-nya masing-masing. Ini bisa jadi juga merupakan bentuk penindasan terhadap banyaknya konsep-konsep lain tadi.
Budaya Barat secara pasti telah menempatkan media massa sebagai landasan, sebagai contoh dan sumber untuk bagaimana orang harus hidup. Hal ini tidak mengherankan bila kita melihat bahwa media telah dianggap sebagai suatu sumber terpercaya dalam mengekspos apa yang di tahun-tahun sebelumnya dianggap sebagai tabu, misalnya saja dalam hal bentuk tubuh seseorang (Kawecki, 2010).
Perlu diperhatikan di sini bahwa pada dasarnya setiap masyarakat, dengan kebudayaannya masing-masing, memiliki konsep tersendiri tentang tubuh manusia sebagai realita sosial; bahwa bentuk, ukuran, dan riasan tubuh ini adalah cara mengkomunikasikan informasi tentang posisi seseorang di dalam masyarakat itu. Bentuk komunikasi yang menyangkut postur dan gerak tubuh seseorang ini juga pasti berbeda satu sama lain tergantung kebudayaan masyarakat tersebut (Helman, 1985). Karenanya, menjadi sesuatu yang patut diperhatikan bahwa semakin sekarang, perbedaan-perbedaan itu semakin menipis dengan adanya penyeragaman mengenai bagaimana bentuk tubuh seseorang semestinya agar bisa diterima dan dipandang dalam masyarakat. Ada satu patokan konsep tertentu yang tidak lagi menoleransi perbedaan-perbedaan yang khas dari bentuk komunikasi dalam tubuh manusia tadi. Konsep yang disebarkan oleh media, yang merupakan konsep masyarakat Barat.
Setiap harinya, kita pasti disajikan mengenai apa itu “cantik”, pembangunan ide-ide mengenainya ditampilkan di koran-koran, majalah, juga televisi. Hal ini kemudian menjadikan, dalam budaya konsumerisme masyarakat, body image menjadi begitu penting (Atiyeh, Rubeiz, dan Hayek, 2008). Media seringkali memberitakan, bahkan mempromosikan berbagai upaya mempercantik diri tanpa pemberitaan atau peringatan mengenai dampak-dampak negatifnya. Sayangnya, masyarakat tidak cukup mampu membedakan mana yang berkualitas dan yang tidak, terutama dalam hal bedah kecantikan. Asalkan keinginan mereka untuk menjadi cantik terpenuhi, hal-hal di sekitarnya kemudian tidak diperhatikan lagi.

“Tidak-sama” yang Meresahkan
Sejumlah besar survei dan studi korelasional telah mendukung gagasan bahwa faktor sosial budaya memainkan peran dalam berkembangnya gangguan akibat penggambaran tubuh. Sebagai contoh, sebuah penyelidikan menemukan bahwa individu yang mengalami gangguan makan mengalami peningkatan yang signifikan dalam perspektif mengenai ukuran tubuh mereka setelah melihat foto-foto perempuan yang diambil dari majalah populer fashion wanita (Waller, Hamilton, dan Shaw, 1992)[5]. Individu yang ditunjukkan foto-foto model yang kurus dilaporkan memiliki penghargaan yang lebih rendah serta ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri daripada individu yang ditunjukkan foto-foto model yang lebih besar.
Paparan sosio-kultural lewat media mengenai “cantik” yang identik dengan bentuk tubuh yang kurus dan kaitannya dengan daya tarik mampu meningkatkan ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh. Festinger menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk mengevaluasi diri melalui perbandingan dengan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa perbandingan dengan orang lain yang lebih unggul untuk diri sendiri sering dikaitkan dengan peningkatan depresi dan kemarahan serta penurunan kepercayaan diri; sedangkan perbandingan dengan orang lain yang lebih rendah dapat dikaitkan dengan peningkatan kepercayaan diri dan berdampak positif (Mayor, Testa, & Bylsma, 1991)[6]. Untuk rata-rata individu, perbandingan dengan model media yang disajikan sangat kurus dan menarik akan merupakan suatu perbandingan ke atas, yaitu dengan orang lain yang lebih unggul.
Beberapa penelitian setidaknya memberikan dukungan korelasional untuk hipotesis bahwa perbandingan sosial memainkan peran dalam pengembangan gangguan mengenai image tubuh. Thompson, Heinberg, dan Tantleff (1991)[7] mengembangkan ukuran untuk menilai kecenderungan individu dalam membandingkan karakteristik fisik dirinya sendiri dengan karakteristik fisik orang lain. Mereka menemukan bahwa skor yang tinggi sangat terkait dengan ketidakpuasan mengenai bentuk tubuh, gangguan makan, dan rendahnya kepercayaan diri.

Bedah Kecantikan: Tentang Kesempurnaan
Membuat tubuh cantik dan indah adalah eksplorasi peran kompleks yang telah memainkan bedah kecantikan dalam kaitannya dengan individu yang menilai dirinya sendiri dan orang lain dengan penampilan fisik. Bedah kecantikan memungkinkan orang-orang yang telah dibuat “cacat” oleh penyakit, keturunan, kecelakaan, atau akibat perubahan sosial dalam konsepsi politik dan budaya dari apa yang secara fisik diterima untuk bisa masuk ke dalam kelompok mana mereka untuk pertama kalinya terlihat kemudian menjadi tidak lagi diakui (Homberger, 2001). Penerimaan ini kemudian berubah ke dalam stereotip atau pandangan meremehkan terhadap bentuk hidung, payudara, penis, kelopak mata, dan kulit.
Ahli bedah estetika menawarkan kesempatan individu untuk mengembalikan kontrol dan otonomi individu, serta untuk membangun kembali kebahagiaan yang sempat hilang oleh adanya stereotip-stereotip tersebut. Munculnya kembali operasi estetika di akhir abad kedelapan belas didukung oleh “pencerahan” tentang kebebasan individu dan kebahagiaan (Homberger, 2001).
Teknologi telah menjadi perpanjangan dari kosmetik, memfasilitasi secara sesuai ke sebuah tipe dominan budaya dan sosial yang ideal, di mana yang ideal adalah merupakan hasil internalisasi oleh media dan model. Semakin besar potensi dari klaim kembali atas kebebasan dan kebahagiaan seseorang dengan membentuk kembali tubuh, semakin besar kemungkinan benar-benar menjadi tidak bahagia. Ia akan terus-menerus berusaha membentuk tubuhnya, dengan dalih “kebebasan” tadi, agar sampai pada suatu bentuk cantik yang sempurna, yang pada dasarnya tidak akan tercapai mengingat sifat dasar manusia yang memang tidak pernah puas. Kesempurnaan, bagaimanapun, adalah sulit dipahami dan akan terus mengalami perubahan model dari waktu ke waktu.

Bedah Kecantikan: Sebuah Tantangan Etika
Hingga saat ini bedah kecantikan itu sendiri masih menjadi perdebatan; bahwa apakah ini dilakukan untuk alasan bisnis komersial, atau untuk tetap pada tujuan utamanya yang menjadikan pasien sebagai subjek utama dengan mengutamakan segi perawatan dan kesehatan mereka. Sayangnya, yang banyak ditemui adalah operasi-operasi seperti ini saat ini dilakukan atas dasar ideologi yang berkembang di masyarakat belakangan ini untuk mencapai hal-hal seperti cantik, muda, dan sukses (Atiyeh, Rubeiz, dan Hayek, 2008).
Operasi-operasi ini kini banyak dilakukan tanpa mempertimbangkan segi kebutuhan pasien dan resiko yang akan dihadapi setelahnya. Para pelaksananya bahkan memanfaatkan berbagai ideologi yang berkembang tadi sebagai salah satu strategi pemasarannya. Mereka kadang justru melupakan tujuan utama dari praktek operasi itu yang seharusnya adalah untuk tujuan penyembuhan. Bahkan tidak jarang kemudian operasi-operasi/bedah kecantikan itu kemudian malah dikomersialisasi untuk meraup keuntungan dari ideologi “cantik” yang tengah berkembang di masyarakat akhir-akhir ini. Hal ini boleh jadi merupakan salah satu bentuk pelanggaran etika di dalam pelaksanaan praktek operasi bidang medis.
Namun, tidak dapat dipungkiri hal ini juga turut disebabkan oleh karakteristik dasar manusia yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, terutama dalam hasrat dan keinginan mereka untuk berubah dan meningkatkan segala sesuatu di sekitar mereka agar sesuai dengan apa yang mereka sendiri pahami. Hal ini kemudian berkembang ke arah yang berlebihan. Misalnya saja bedah kecantikan yang pada mulanya hanya dilakukan oleh para ahli operasi plastik dengan justifikasi medis, kini mulai banyak menyebar praktek-prakteknya bahkan hingga dilakukan oleh orang-orang awam. Tetapi hal ini kemudian menjadi dianggap biasa karena kebutuhan akan jasa ini pun semakin meningkat (Atiyeh, Rubeiz, dan Hayek, 2008).
Anestesi (obat bius) kemudian membuat operasi/bedah kecantikan ini semakin dapat diterima secara lebih luas oleh masyarakat. Teknologi anestesi yang berkembang dengan pesat dan semakin canggih saat ini seolah-olah juga turut memberikan “suntikan keberanian” bagi mereka yang ingin melakukan bedah kecantikan ini. Anestesi memperkenalkan penggunaannya di tengah-tengah dunia medis, dalam hal ini khususnya dalam pembedahan kecantikan, untuk meningkatkan penampilan serta untuk merombak wajah dan tubuh (Bourguignon, 2002). Ini memungkinkan penampilan seseorang berubah agar sesuai dengan citra diri yang diinginkan.

Bedah Kecantikan, Identitas, dan Kejiwaan
            Menjadi jelas dari berbagai pemaparan di atas bahwa dengan pembedahan, seseorang menjadi hanya menjadi sebagai “pengcopy” dari yang lainnya. Dengan ini identitas sejati menjadi tidak benar-benar jelas. Setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi cantik: “cantik” yang sama dengan yang dibentuk oleh diskursus-diskursus media tadi, “cantik” yang sama sebagai hasil produksi bedah-bedah kecantikan yang menjanjikan. Kepercayaan masyarakat mengenai apa yang dianggap “cantik” menjadi semakin seragam.
Bertopeng dengan hasil tak terelakkan yang satu ini, pada akhirnya bukan tidak mungkin apabila setiap individu kemudian tidak lagi menjadi otentik sebagaimana mestinya (Homberger, 2001). Setiap individu kemudian semakin berusaha menyamai orang-orang yang dianggap, dan digembar-gemborkan, sebagai “mereka yang cantik”. Bukankah mengerikan jika kepercayaan ini semakin meluas dan menjadikan masyarakat bumi ke dalam bentuk-bentuk yang saling menyerupai; hanya demi dianggap cantik, sukses, dan bahagia?
Sementara itu, pemahaman tentang hubungan antara penampilan tubuh dan kondisi kejiwaan telah menyebar luas di kalangan dokter bedah (Bourguignon, 2002). Hal ini juga yang menjadi perbicangan yang meresahkan di kalangan psikiater. Kecantikan, kepuasan, dan kebahagiaan seperti apa yang dipahami serta dicari oleh mereka yang, terus-menerus, melakukan bedah kecantikan? Akankah mereka menemukan apa yang mereka cari itu? Permasalahannya adalah, apakah semuanya itu memang benar-benar ada?
Kecanduan, yang mengarah pada ketergantungan terhadap operasi/bedah kecantikan, menjadi masalah lain dalam hal masalah kejiwaan sekunder (Bourguignon, 2002). Penulis sendiri memandang bahwa pada hakekatnya semua kebahagiaan, yang didasarkan pada keinginan setiap pelaku bedah kecantikan—yang dalam hal ini bukan untuk tujuan medis atau pengobatan—untuk mencapai kesempurnaan adalah semu. Ketika mereka mencapai satu titik “sempurna”, akan muncul lagi “sempurna”-“sempurna” yang lain, dan demikian seterusnya.
Adalah wajar jika setiap individu ingin tampil cantik, dianggap menarik, dan dipandang berhasil; namun permasalahannya adalah, apakah semua itu harus terus-menerus dikejar dengan cara-cara yang tidak sewajarnya—tidak natural? Apakah semua itu harus dicapai dengan terus mengikuti model-model yang dibentuk dan dipaparkan media, yang seringkali bertentangan dengan nilai dan hati nurani kita? Penulis tidak berusaha menjadikan setiap orang skeptis terhadap teknologi bedah kecantikan, hanya saja menjadi kritis itu tetap penting; terlebih dalam menerima apa yang disampaikan media, yang seringkali dipenuhi romantisme semu.
            “Beauty is not flawless, It shines even through your flaw” -- unknown


REFERENSI

Atiyeh, Bishara S.; Rubeiz, Michel T.; dan Shady N. Hayek.
2008               “Aesthetic/Cosmetic Surgery and Ethical Challenges” dalam Aesthetic Plastic Surgery vol. 32, hal. 829-839.
Bourguignon, Erika.
2002               “Creating Beauty to Cure the Soul: Race and Psychology in the Shaping of Aesthetic Surgery” dalam The Antioch Review vol. 60,2 hal. 342.
Cattarin, Jill A., dkk
2000               “Body Image, Mood, and Televised Images of Attractiveness: The Role of Social Comparison” dalam Journal of Social and Clinical Psychology vol. 19,2 hal. 220-239.
Heinberg, Leslie J. dan Thompson, J. Kevin.
1995               “Body Image and Televised Images of Thinness and Attractiveness: A Controlled Laboratory Investigation” dalam Journal of Social and Clinical Psychology. vol. 14,4 hal. 325-338.
Helman, Cecil.
1985               Culture, Health, and Illness. Bristol: John Wright and Sons Ltd.
Homberger, Margaret.
2001               “Making the Body Beautiful: A Cultural History of Aesthetic Surgery” dalam     Canadian Journal of History vol. 36,2 hal. 417-419.
Kawecki, Amy Michelle.
2010               “Beauty is Pain: The Physical, Psychological, and Emotional Impact of Female Images in the Media.” Tesis. Dipublikasikan oleh Proquest.
Reischer, Erica dan Kathryn S. Koo.
2004               “The Body Beautiful: Symbolism and Agency in the Social World” dalam Annual Review of Anthropology vol. 33 hal. 297-317.
Yamamiya, Yuko, dkk.
2005               “Women’s Exposure to Thin-and-beautiful Media Images: Body Image Effects of Media-ideal Internalization and Impact-reduction Interventions.” Brief Research Report. Dipublikasikan oleh Proquest.


[1] Heinberg, Leslie J. dan Thompson, J. Kevin. “Body Image and Televised Images of Thinness and Attractiveness: A Controlled Laboratory Investigation” dalam Journal of Social and Clinical Psychology14.4.(Dec 1995): 325-338.
[2] Ibid
[3] Wacana/diskursus merupakan ide/gagasan yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan pemikiran seseorang mengenai sesuatu hal. Wacana tidak mungkin ada tanpa adanya kekuatan/kekuasaan sehingga wacana selalu ada dalam hubungan-hubungan kekuasaan. Kekuasaan (power) ini sendiri berada dalam hubungan-hubungan antarpranata dan muncul dalam segala sisi kehidupan. Pihak yang mendominasi hubungan-hubungan inilah yang kemudian menguasai kondisi-kondisi pembentukan pengetahuan dan kebenaran. (Foucault, 1980). Perihal body image, penulis melihat bahwa media lah yang memegang kekuasaan dalam pembentukan konsep mengenai “cantik” ini, terlepas dari pengambilan konsep itu oleh media dari masyarakat barat. Masyarakat, yang terlanjur percaya dengan apa yang disampaikan media, kemudian menerimanya sebagai realita.
[4] Critical medical anthropology merupakan pendekatan yang berupaya mengkaji penyakit dalam kaitannya dengan ekonomi politik kapitalisme. Pendekatan ini menggunakan analisis multi-level pada tingkat macro-social, micro-social, individual. Pendekatan ini juga fokus pada isu-isu relasi kuasa, ketimpangan, penindasan, eksploitasi, hegemoni, kekerasan struktural, dan semacamnya (Singer, 2004). Perihal konsep “cantik” ini, penulis melihat bahwa keresahan yang timbul pada masyarakat yang merasa bentuk tubuhnya tidak sesuai dengan apa yang digambarkan media tentang yang “cantik” itu bisa dilihat sebagai sebuah bentuk penyakit. Bahwa penyakit ini timbul dari sugesti-sugesti yang diberikan media, sebagai pemegang kuasa tadi, kepada masyarakat yang dalam hal ini bisa dilihat sebagai pasiennya. Penyakit ini menjadi produk dari status sosial, bahwa masyarakat non-barat—yang dalam hal ini seolah-olah memiliki status sosial rendah dibandingkan masyarakat barat yang konsepsi “cantik”-nya diambil dan disebarkan oleh media tadi—kemudian menanggapinya sebagai realita yang taken for granted, dan tidak lagi mempertanyakan kebenaran dari apa yang diterimanya tadi.
[5] Cattarin, Jill A, etc. “Body image, mood, and televised images of attractiveness: The role of social comparison” dalam Journal of Social and Clinical Psychology19,2. (2000): 220-239.
[6] Ibid
[7] Ibid

No comments:

Post a Comment