Antropologi Komunikasi
komunikasi dan penataan ruang,
antara ruang fisik dan dunia maya
Edward T. Hall merupakan salah satu
tokoh antropologi yang terkenal dengan definisinya mengenai kebudayaan; bahwa
“kebudayaan adalah bahasa, dan bahasa adalah kebudayaan”. Hall menyatakan bahwa
kebudayaan bukanlah sesuatu yang secara terpisah berada di luar manusia,
melainkan merupakan sesuatu yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Bahasa
kebudayaan berbicara dengan begitu jelas melalui komunikasi, yang terjadi di
dalam sebuah interaksi dan oleh karenanya tidak bisa bersifat individual. Untuk
memahami kebudayaan itu sendiri, kita mesti mencari tau apa yang berada di luar
kesadaran kita ketika berkomunikasi, bahwa hal-hal itulah yang kemudian secara
tidak kita sadari berubah menjadi aturan-aturan tersembunyi yang “mengatur”
perilaku kita.
Hall kemudian
menjelaskan bahwa sistem-sistem perilaku manusia berkembang menjadi
tindakan-tindakan simbolik melalui proses belajar. Tindakan-tindakan simbolik
itu berusaha mengungkapkan sesuatu, berusaha untuk menyampaikan pesan ibarat
bahasa. Hall menganalisis bahwa sda 10 sistem perilaku yang menjadi primary message system dan dapat saling
bersinggungan yaitu interaksi,
asosiasi, subsistensi, biseksualitas, teritorialitas, temporalitas,
belajar, bermain, pertahanan,
dan eksploitasi. Teritorialitas
difokuskan pada penggunaan ruang untuk kegiatan-kegiatan di mana setiap makhluk
mempertahankan ruang tertentu di sekelilingnya, termasuk di dalamnya adalah proxemics. Proxemics sendiri berasal dari kata proximit dan emic sehingga
bisa diartikan sebagai
penggunaan ruang yang dilakukan berdasarkan kebudayaan masing-masing masyarakat:
“...the interrelated observations and
theories of man’s use of space as a specialized elaboration of culture.”
(Hall, 1969). Ruang di sini digunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu.
Kini, kemunculan
internet telah menciptakan sebuah ruang interaksi (komunikasi) baru. Interaksi
(komunikasi) melalui internet ini memungkinkan terbentuknya hubungan-hubungan sosial yang
pada akhirnya membentuk komuniti
virtual. Proxemics yang terbentuk dalam komuniti virtual
ini tentu menjadi berbeda dengan yang ada dalam komunikasi tatap muka di
dunia nyata. Dalam
komuniti virtual, ruang yang
dihadirkan lebih tampak seperti batasan-batasan akan identitas yang dibangun di
dalamnya. Teritorial yang dibangun melalui komuniti virtual dalam jejaring
sosial adalah identitas mereka yang tergabung di dalamnya.
Permasalahan yang muncul kemudian
adalah bahwa setiap anggota dari komuniti virtual itu
dapat dengan mudah menggunakan identitas palsu, membuat multiple identity, atau bahkan sewaktu-waktu bisa saja menghapus
identitasnya dan keluar dari komuniti virtual tersebut. Inilah yang membuat
identitas dalam dunia virtual menjadi tidak jelas. Karena itu Miller dan Slater
kemudian mengembangkan perspektifnya bahwa basis dari hubungan-hubungan di
dalam dunia virtual adalah trust,
yang dalam hal ini adalah untuk saling berbagi identitas sebenarnya, di antara
sesama anggota. Namun permasalahan lain yang muncul adalah bahwa trust ini sifatnya tidak permanen,
melainkan dapat runtuh begitu saja ketika misalnya orang-orang tersebut pada
akhirnya bertemu secara offline dan
tidak menemui apa yang diharapkan dari lawannya (anggota lainnya).
Pemahaman ruang
yang berbeda dalam dunia maya disadari atau tidak akan tetap berdampak pada proxemics di dunia nyata. Komunikasi virtual
yang terjalin dapat mempererat hubungan antar individu sehari-hari dalam dunia;
mereka tidak hanya bertemu tatap muka, melainkan juga dapat bertemu di dunia
maya yang mampu mengeliminasi batas ruang dan waktu.. Namun sebaliknya,
permainan identitas dalam dunia nyata tidak dapat dilakukan semudah dalam dunia
maya. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi komunikasi tatap muka yang kita
lakukan di mana kebebasan memiliki atau mengganti identitas dalam dunia maya
kadang mengacaukan pembentukan identitas kita saat komunikasi tatap muka. Jika
pada akhirnya individu-individu ini memutuskan untuk melakukan komunikasi offline, proxemics di dunia nyata mau tidak mau akan terpengaruh oleh
identitas-identitas bentukan tersebut. Teritori tempat mereka melakukan
komunikasi tatap muka pada akhirnya juga dibentuk berdasarkan identitas yang
terbangun, menyesuaikan apa yang sudah dibentuk sebelumnya. Pada akhirnya dapat
diambil kesimpulan bahwa antara dunia online
dan offline sebenarnya saling mempengaruhi
dengan berbagai cara yang kompleks. Keduanya tidak dapat dipisahkan ataupun
berdiri sendiri-sendiri, terutama pada masa di mana internet berkembang
demikian pesatnya dalam berbagai bidang kehidupan manusia.
Referensi
Hall, Edward T.
1959 The Silent Language. New York: Anchor
Books.
Miller, Daniel dan Don Slater
2002 ”Relationships,”
dalam Kelly Askew dan Richard R. Wilk (peny.), The Anthropology of Media. Malden: Blackwell Publisher.
No comments:
Post a Comment