Thursday, February 7, 2013

tulisan saya, 030113

Antropologi Komunikasi


komunikasi dan penataan ruang,
antara ruang fisik dan dunia maya


Edward T. Hall merupakan salah satu tokoh antropologi yang terkenal dengan definisinya mengenai kebudayaan; bahwa “kebudayaan adalah bahasa, dan bahasa adalah kebudayaan”. Hall menyatakan bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang secara terpisah berada di luar manusia, melainkan merupakan sesuatu yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Bahasa kebudayaan berbicara dengan begitu jelas melalui komunikasi, yang terjadi di dalam sebuah interaksi dan oleh karenanya tidak bisa bersifat individual. Untuk memahami kebudayaan itu sendiri, kita mesti mencari tau apa yang berada di luar kesadaran kita ketika berkomunikasi, bahwa hal-hal itulah yang kemudian secara tidak kita sadari berubah menjadi aturan-aturan tersembunyi yang “mengatur” perilaku kita.
Hall kemudian menjelaskan bahwa sistem-sistem perilaku manusia berkembang menjadi tindakan-tindakan simbolik melalui proses belajar. Tindakan-tindakan simbolik itu berusaha mengungkapkan sesuatu, berusaha untuk menyampaikan pesan ibarat bahasa. Hall menganalisis bahwa sda 10 sistem perilaku yang menjadi primary message system dan dapat saling bersinggungan yaitu interaksi, asosiasi, subsistensi, biseksualitas, teritorialitas, temporalitas, belajar, bermain, pertahanan, dan eksploitasi. Teritorialitas difokuskan pada penggunaan ruang untuk kegiatan-kegiatan di mana setiap makhluk mempertahankan ruang tertentu di sekelilingnya, termasuk di dalamnya adalah proxemics. Proxemics sendiri berasal dari kata proximit dan emic sehingga bisa diartikan sebagai penggunaan ruang yang dilakukan berdasarkan kebudayaan masing-masing masyarakat: “...the interrelated observations and theories of man’s use of space as a specialized elaboration of culture.” (Hall, 1969). Ruang di sini digunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu.
            Kini, kemunculan internet telah menciptakan sebuah ruang interaksi (komunikasi) baru. Interaksi (komunikasi) melalui internet ini memungkinkan terbentuknya hubungan-hubungan sosial yang pada akhirnya membentuk komuniti virtual. Proxemics yang terbentuk dalam komuniti virtual ini tentu menjadi berbeda dengan yang ada dalam komunikasi tatap muka di dunia nyata. Dalam komuniti virtual, ruang yang dihadirkan lebih tampak seperti batasan-batasan akan identitas yang dibangun di dalamnya. Teritorial yang dibangun melalui komuniti virtual dalam jejaring sosial adalah identitas mereka yang tergabung di dalamnya.
Permasalahan yang muncul kemudian adalah bahwa setiap anggota dari komuniti virtual itu dapat dengan mudah menggunakan identitas palsu, membuat multiple identity, atau bahkan sewaktu-waktu bisa saja menghapus identitasnya dan keluar dari komuniti virtual tersebut. Inilah yang membuat identitas dalam dunia virtual menjadi tidak jelas. Karena itu Miller dan Slater kemudian mengembangkan perspektifnya bahwa basis dari hubungan-hubungan di dalam dunia virtual adalah trust, yang dalam hal ini adalah untuk saling berbagi identitas sebenarnya, di antara sesama anggota. Namun permasalahan lain yang muncul adalah bahwa trust ini sifatnya tidak permanen, melainkan dapat runtuh begitu saja ketika misalnya orang-orang tersebut pada akhirnya bertemu secara offline dan tidak menemui apa yang diharapkan dari lawannya (anggota lainnya).
Pemahaman ruang yang berbeda dalam dunia maya disadari atau tidak akan tetap berdampak pada proxemics di dunia nyata. Komunikasi virtual yang terjalin dapat mempererat hubungan antar individu sehari-hari dalam dunia; mereka tidak hanya bertemu tatap muka, melainkan juga dapat bertemu di dunia maya yang mampu mengeliminasi batas ruang dan waktu.. Namun sebaliknya, permainan identitas dalam dunia nyata tidak dapat dilakukan semudah dalam dunia maya. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi komunikasi tatap muka yang kita lakukan di mana kebebasan memiliki atau mengganti identitas dalam dunia maya kadang mengacaukan pembentukan identitas kita saat komunikasi tatap muka. Jika pada akhirnya individu-individu ini memutuskan untuk melakukan komunikasi offline, proxemics di dunia nyata mau tidak mau akan terpengaruh oleh identitas-identitas bentukan tersebut. Teritori tempat mereka melakukan komunikasi tatap muka pada akhirnya juga dibentuk berdasarkan identitas yang terbangun, menyesuaikan apa yang sudah dibentuk sebelumnya. Pada akhirnya dapat diambil kesimpulan bahwa antara dunia online dan offline sebenarnya saling mempengaruhi dengan berbagai cara yang kompleks. Keduanya tidak dapat dipisahkan ataupun berdiri sendiri-sendiri, terutama pada masa di mana internet berkembang demikian pesatnya dalam berbagai bidang kehidupan manusia.

Referensi
Hall, Edward T.
1959                The Silent Language. New York: Anchor Books.
Miller, Daniel dan Don Slater
2002                ”Relationships,” dalam Kelly Askew dan Richard R. Wilk (peny.), The Anthropology of Media. Malden: Blackwell Publisher.

No comments:

Post a Comment