Bab II tentang Iman
Seorang teman secara tiba-tiba meminjamkan saya sebuah buku karya Shusaku Endo. Sebuah buku berjudul “Silence” yang menceritakan perjalanan seorang misionaris Eropa di Jepang pada masa-masa pembantaian terhadap orang-orang Kristen di sana. Perjalanan yang penuh penderitaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Hingga akhirnya memunculkan pertanyaan mengenai eksistensi Tuhan sendiri. Pertanyaan mengenai mengapa Tuhan hanya berdiam diri menyaksikan semua penderitaan yang dialami oleh para pengikutnya, bahkan para penyebar kabar baik mengenai keberadaanNya. Pertanyaan mengenaik keheningan, kebungkaman Tuhan.
Dalam kacamata saya sendiri, di samping seperti juga tersiratkan dalam bagian terakhir dari buku ini, saya melihat bahwa sesungguhnya Tuhan tidak bungkam. Saya percaya akan eksistensi Tuhan, mengenai keberadaanNya. Saya percaya bahwa Dia tidak sekedar diam, tetapi dengan caraNya sendiri, melakukan segala sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia.
Tuhan selalu menjadi Tuhan yang berbicara, bicara dalam bentuk apapun, sekalipun dalam bentuk penderitaan. Hanya saja manusia yang seringkali menjadi tuli atau pura-pura tidak mendengar ketika jawaban yang diberikan Tuhan tidak sesuai harapan atau permintaan mereka. Manusia sulit memahami bahwa tidak selamanya Tuhan itu sejalan dengan mereka.
Misalnya saja, ketika jawaban yang diberikanNya adalah “nanti”, atau barangkali “tidak”, bukankah manusia sering menafsirkan bahwa Tuhan belum memberikan jawaban. Manusia menyangkal jawaban yang sudah diberikan, entah untuk sekedar menghibur diri sendiri atau hanya sekedar penyangkalan untuk menutupi kelemahan dan ketidaksanggupannya menerima jawaban yang tidak diharapkan. Padahal ketika jawaban itu sudah diberikan, manusia seharusnya bisa bergerak memanfaatkan waktu untuk merancang hal-hal lain, yang barangkali sesuai dengan jalanNya, untuk kembali diajukan sebagai permohonan berkat dan tidak stagnan di satu titik yang sebenarnya sudah jelas-jelas ada jawabannya.
Tidak ada yang dinamakan takdir menurut saya. Manusia hanya perlu berusaha: berusaha dengan kerja sambil memohon, berusaha peka dengan jawaban apapun yang diberikanNya, berusaha bergerak mencari kerja lain bila yang lain jelas-jelas sudah tidak diberi jalan. Tuhan mencipta, proses dilimpahkan ke dalam tangan manusia.
Yang harus dipahami sebenarnya adalah satu. Bahwa “nanti”, “bukan”, atau “tidak” sebenarnya adalah juga jawabanNya. Tinggal sebesar dan sedalam apa iman manusia untuk mau menerimanya.
No comments:
Post a Comment