Thursday, February 2, 2012

tulisan saya, 020212

Rasionalitas dan Kemanusiaan
bagian II dan yang lain dari "Negara, sebuah Cerita tentang Eksistensi"
...
--
Menyedihkan. Menyedihkan karena negara, Indonesia, yang dalam hal ini menjadi simbol kemudian semakin terpuruk. Menjadi simbol yang cacat, gagal. Menyedihkan karena semua yang terlibat di dalamnya inilah yang sebenarnya membuat negara semakin terpuruk dan kehilangan maknanya. Manusia semakin tidak rasional, bahkan seperti juga telah kehilangan kemanusiaannya hari demi hari.
            Tidak hanya menyalahkan presiden dan jajaran pemerintahan lainnya saja, rakyat sebagai elemen terbesar yang hidup di negara ini juga kerap memaki legislatif. Terlepas dari kebobrokan para pelakon-pelakon legislatif tersebut, yang dalam hal ini juga saya mengiyakannya, tapi kalau dipikir apa juga sih gunanya terus-terusan mencaci-maki mereka? Ya cukup tau-sama-tau aja. Memaki juga tidak mengubah mereka, tidak mengibakan hati para elit itu. Mengerti saja satu hal ini, bahwa semakin tinggi taraf kehidupan seseorang maka maunya pun juga akan semakin besar dengan kebutuhan yang tidak bisa disamakan dengan yang bertaraf kehidupan rendah, sudah hakekatnya manusia tidak pernah puas. Lalu, buat apa sih dipermasalahkan panjang-panjang? Sudah tidak didengar ya sudah.
            Rasionalitas semacam itu memang agaknya sulit ditemukan pada manusia-manusia saat ini yang mentalnya hanya mau menyalahkan saja. Orang salah sedikit langsung diteriaki, melenceng sedikit langsung dihakimi. Mental apa yang lebih bobrok dari ini kecuali mental tidak-dipikir-dulu, yang ternyata dikuasai pula oleh rakyat negara ini.
Buruh-buruh berdemo minta kenaikan upah yang terus-menerus, tapi tidak ada yang tau juga apa kinerja mereka meningkat sehingga layak menerima kenaikan upah. Malah berdemo: mematikan produktivitas, mengganggu perekonomian, menghambat transportasi, dan menghidupkan anarkisme; bentuk ibadah di tengah demo tidak menjamin apapun. Pembakaran rumah puluhan warga desa tetangga karena sengketa lahan, bukankah tindakan bodoh-tak-terkira? Sementara jutaan orang lain tinggal tanpa rumah yang layak, atau bahkan tanpa rumah sama sekali, yang ada malah dibakar sampai habis dan rata tanah karena persoalan yang harusnya bisa diselesaikan secara berpendidikan. Konflik karena penutupan wilayah tambang, ketika para demonstran ada yang meregang nyawa, aparat lah yang lagi-lagi dipersalahkan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab. Yang memulai anarkis siapa, yang dituding siapa. Aparat juga manusia, yang di samping mesti melaksanakan tugas dan kewajiban untuk melawan anarkisme, juga memiliki emosi yang sewaktu-waktu tidak bisa dikontrol; perbedaan cuma pada seragam yang menunjukan posisi, lalu kenapa sesama harus saling “menusuk” sih? Belum lagi ketika rumah kepala daerah bersangkutan dibakar habis, apa tidak ada cara lain yang lebih ngotak? Kalau marah ya ambil saja barang-barangnya, bisa dijual untuk setidaknya menghasilkan sesuatu, bukan dengan mengikuti naluri kebinatangan yang puas menciptakan dan melihat kehancuran. Binatang aja ngga gitu-gitu amat. Masalah kecelakaan di jalur transjakarta, ya jangan asal salahkan supir. Kadang yang mati itu juga mau nyebrang asal nyebrang, jembatan penyebrangan ada malah lewat bawah dan tidak lihat-lihat. Pohon tumbang menyalahkan pemerintah lagi, coba diingat ketika isu global warming membara, siapa juga yang dipaksa-paksa untuk melakukan penghijauan. Kecelakaan yang disebut-sebut sebagai kecelakaan maut, coba sebentar dipandang dari sisi lucu-nya: mbak Afriani itu sebenarnya sedang sial, kalau aja temannya yang nyupir pasti bukan dia yang diserang bertubi-tubi seperti ini. Bukannya tidak memahami perasaan keluarga korban, tapi mau berbuat apapun terhadap si supir juga tetap tidak bisa mengembalikan nyawa; ikhlas itu banyak jalannya. Di sini rasionalitas yang manusiawi bisa dilihat kemudian.
Rasional itu perlu. Itu yang membedakan manusia dengan binatang yang hanya mengikuti insting, atau dalam bahasa saya mungkin setara dengan “emosi” pada manusia. Tapi kalau dipikir-pikir, kadang semua ini juga tidak lepas dari pengaruh media. Akhir-akhir ini media kadang kurang mampu menunjukan wajahnya sebagaimana mestinya. Media yang seharusnya lebih edukatif dan persuasif secara positif, akhir-akhir ini malah kebanyakan lebih provokatif.
Tapi saya di sini tidak menyalahkan media. Sekali lagi mungkin yang mesti dipertanyakan adalah “Ke mana rasionalitas-rasionalitas manusia?”; karena pertanyaan “Di mana manusia-manusia yang rasional?” nampaknya terlalu mengangan-angan. Tidak peduli seberapa provokatifnya media, atau seberapa besarnya pengaruh informasi yang didapati sebagai input, rasionalitas harusnya tetap menjadi dasar utama. Ibarat membaca buku, mbok ya jangan semuanya ditelan mentah-mentah. Otak sudah diberi sepaket dengan kemampuan, bukan hanya sekedar menerima input, tetapi juga mengolahnya dengan pengetahuan dasar yang sudah menjadi “bekal” pada masing-masing individu. Mbok ya segala sesuatunya dipikir dengan pertimbangan sendiri, dilihat dari kacamata sendiri, dirasakan dengan hati sendiri. Bukannya asal terima lalu ikut. Ini adalah tahapan menuju rasional, setidaknya dalam pemahaman saya sendiri yang saya dapat dari perenungan dan pemikiran sendiri juga. Mereka yang mampu menjadi rasional akan mampu pula menunjukkan kemanusiaannya. Rasionalitas dan kemanusiaan berbanding lurus.

No comments:

Post a Comment