Negara, Sebuah Cerita tentang Eksistensi
“Negara itu harus ada,” kata ibu saya ketika saya bertanya, buat apa sih ada negara?, yang lebih cenderung saya tujukan kepada diri saya sendiri. Ketika saya kembali bertanya buat apa?, beliau menjawab “Yaa, untuk lambang. Bahwa Indonesia itu ada, lambang budaya kita.” Saya diam. Iya, lambang. Simbol. Tapi, bisakah lebih? Nampaknya tidak. Setidaknya menurut saya.
Lalu, kalo cuma sebagai simbol, untuk apa negara itu ada. Di mata rakyat kebanyakan, toh negara sudah tidak punya arti yang jelas, maknanya semakin kabur. Mana ada rakyat yang bisa menjelaskan definisi negara secara terperinci tanpa merasa bingung dalam memilih kata-kata. Mana ada pula yang mampu menceritakan apa tujuan Indonesia dengan gamblang.
Negara, dalam kacamata saya, saat ini menjadi penjelmaan dari pikiran-pikiran para pemikir konsepnya seperti yang dipelajari dalam studi kewarganegaraan di sekolah-sekolah menengah seperti Rosseuau atau Montesquieu. Indonesia, setidaknya untuk beberapa dekade terakhir ini, menjadi sebuah abstraksi yang ditata dalam strata-strata yang hanya bisa dibayangkan oleh sekelompok orang. Sebuah angan-angan dari kalangan para elit, angan-angan yang entah dapat dipahami atau tidak oleh rakyat kebanyakan, yang memiliki angan-angannya sendiri tentang kehidupan.
Sekali lagi ini menurut saya, daripada setiap lapisan dan pihak-pihak yang hidup di dalamnya tidak pernah berhenti berkonflik dan saling menyalahkan satu sama lain, mending bubarkan saja negara. Toh, sebagai simbol saja negara bisa dibilang gagal, menjadi simbol yang cacad dengan “luka” di sana-sini yang juga digores oleh mereka yang merasa memiliki negara ini. Konflik dipicu di mana-mana, hal-hal seperti sengketa lahan atau penutupan tambang yang menjadi mata pencaharian warga dijadikan justifikasi untuk melakukan tindakan-tindakan anarkis. Tapi, dalam perspektif saya, isu utama adalah tetap mengenai eksistensi negara yang tidak kelihatan.
Semua saling menyalahkan. Pemerintah, dalam hal ini terutama adalah sang presiden, dan aparat-aparatnya adalah yang paling sering kena sasaran. Semua orang menuding-nuding pemerintah sebagai penyebab kesengsaraan rakyat, penyebab kemelaratan negara. Tidak ada lagi hal-hal dari kepala mereka yang dipandang sebagai hal yang baik. Bahkan, program yang ditujukan untuk memberikan sedikit perbaikan pada kehidupan rakyat dituding sebagai program pencitraan menuju pemilihan umum. Legislatif seringkali menjadi dalang dari provokasi seperti ini, dalam pandangan saya mungkin untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari serangkaian hal-hal kontroversial yang mereka sendiri lakukan. Menyedihkan.
Menyedihkan. Menyedihkan karena negara, Indonesia, yang dalam hal ini menjadi simbol kemudian semakin terpuruk. Menjadi simbol yang cacat, gagal. Menyedihkan karena semua yang terlibat di dalamnya inilah yang sebenarnya membuat negara semakin terpuruk dan kehilangan maknanya. Manusia semakin tidak rasional, bahkan seperti juga telah kehilangan kemanusiaannya hari demi hari.
--
...
No comments:
Post a Comment