Monday, October 17, 2011

tulisan saya, 171011


Agama: Jembatan Imani Spiritual atau Kerangkeng Politis Moral?

            Agama atau religion sudah tak dapat disangkal lagi telah menjadi salah satu kebutuhan dasar yang bahkan wajib ada dalam kehidupan manusia saat ini. Berbagai macam bentuknya agama yang memiliki nama-nama tersendiri, dilengkapi dengan berbagai ajaran dan praktek-prakteknya. Perkembangannya pun kian hari kian pesat, berbagai nilai-nilai baru seringkali semakin ditambahkan untuk membuatnya semakin make sense.
            Tapi lalu hal-hal inilah yang kemudian membuat agama semakin bergeser dari hakikatnya. Agama yang dasarnya adalah suatu sarana untuk memenuhi kebutuhan jiwa manusia akan perasaan damai dan aman di dunia, sarana untuk menjembatani hubungan spiritual manusia dengan Penciptanya, mulai melenceng dari tujuan-tujuan dasarnya itu. Agama semakin dipolitisasi, untuk memberikan kungkungan pada hal-hal mana yang boleh dilakukan manusia dan yang tidak, atas nama moral, tetapi kini tidak lagi murni semata untuk menjaga manusia dari moralitas yang bobrok, melainkan “sekalian” untuk memenuhi harapan oknum-oknum tertentu.
            Anda boleh bilang saya pesimistis, sinis, atau skeptis. Tapi ini bukanlah hasil pemikiran yang imaginer, ini adalah hasil pembelajaran—yang walau mungkin bodoh—tapi memiliki justifikasi yang nyata. Saya pun sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, yang mengusung tinggi nilai ke-Tuhan-an yang Maha Esa, memiliki agama. Tapi toh semakin saya mengamati, semakin saya membuka mata telinga dan hati, semakin saya mencoba berempati dengan banyak peristiwa ber-isu keagamaan yang muncul, semakin pula saya menyadari bahwa agama bukanlah lagi menjadi “sesuatu” yang murni dalam pemaknaan yang sesungguhnya.
            Toh kalau saja Anda berusaha mengakui yang satu ini, bahwa agama—dengan segala nilai dan ajarannya—adalah juga buatan manusia yang sama seperti Anda. Bahwa agama bukanlah sesuatu yang telah ada mendahului manusia. Setiap doktrin dan dogma yang terkandung di dalam pengajaran-pengajarannya, terlepas atas dasar apa kesemuanya itu diciptakan, adalah hasil modifikasi dan pengembangan yang dilakukan oleh manusia-manusia. Coba Anda pikirkan, jika saja Anda terlahir jauh lebih awal sebelum masa ini—masa di mana agama sudah menjamur dalam kehidupan manusia--bukankah tidak mustahil bahwa Anda menjadi seseorang seperti Marthin Luther? Bukankah tidak mustahil pula jika ajaran-ajaran yang ada saat ini, yang diikuti oleh para pemeluk agama sedunia, merupakan hasil pemikiran Anda?
            Maka dari itu sangat memprihatinkan bila kemudian manusia bisa “dibodohi” oleh manusia lainnya. Dalam hal ini karena terlebih saya melihat semakin kemari semakin banyak doktrin-doktrin baru yang bermunculan mengenai berbagai agama yang ada.
Analoginya seperti ini. Jika Anda melihat seorang anak menangis sendirian di tepi jalan, hal yang mungkin Anda pikirkan adalah bahwa anak itu tersesat, kehilangan orangtuanya, atau terluka. Walau hal-hal yang Anda pikirkan adalah yang bersifat umum, tapi tetap saja berbeda-beda. Itu baru Anda sebagai satu individu. Belum lagi pikiran individu-individu lain. Sama halnya dengan agama, walaupun sumbernya tetap satu misalnya saja Kitab Suci, bukankah setiap individu (dalam hal ini mereka-mereka yang mempunyai wewenang) dengan masing-masing pemikiran dan latar belakang yang berbeda, akan tetap memiliki penafsiran yang berbeda--terlepas dari keberadaan prinsip-prinsip umum di belakangnya?
Ketika agama mulai dipolitisasi untuk kepentingan para penguasa (dalam hal ini saya mendapatkan pencerahan tambahan dari kuliah Etnografi Indonesia oleh Iwan Meulia Pirous, dosen Antropologi FISIP UI), maka yang terjadi adalah pembodohan massal. Kita dituntun untuk berbuat baik dengan iming-iming orientasi kepada Sang Pencipta, tetapi yang ada kemudian adalah untuk memudahkan kontrol oleh institusi dan superstruktur. Kita dituntun memegang “prinsip” multikulturalisme dalam beragama, tapi yang terjadi kemudian semuanya itu terhenti di “multikulturalisme semu”. Ketika orang-orang menyuarakan “ayo bertoleransi satu dengan yang lain”, yang sesungguhnya terproyeksikan adalah “toleransilah kepada saya”.
Sekali lagi, agama adalah hasil kreasi manusia dengan masing-masing pemikiran, yang ditafsirkan lagi oleh tiap-tiap pemukanya berdasarkan latar belakang dan pemahaman masing-masing. Menurut Feuerbach, agama adalah proyeksi yang diciptakan manusia tentang surga karena ia lari dari dunia yang penuh dengan kepahitan. Konsep ini kemudian memiliki benang merah dari hasil perbincangan dan sharing saya dengan Saudari Rizki Rianda Silva, mengenai hasil kegiatan yang diikutinya dalam kajian agama: bahwa sekarang manusia terkonstruksi untuk berbuat baik dengan berorientasi pada Surga dan pahala, bukan lagi kepada Tuhan-nya. Menarik, dan memang demikian bukan? Tidak perlu dijawab, renungkan saja.
Saya sendiri adalah pribadi yang sejak lama dibangun dalam nilai-nilai Kristiani. Tapi saya tidak mau membahas lebih lanjut mengenai betapa banyaknya penafsiran yang kontradiktif antara satu pemuka agama dengan yang lainnya, mengenai betapa banyak yang kontradiktif pula dari perkataan yang begitu menggebu-gebu di mimbar dengan kehidupan nyata. Bahwa institusi agama seperti gereja sering mengecewakan—dengan segala aturan dan kungkungan aturan-aturan yang non-sense--adalah iya.
Yang saya pelajari adalah bahwa Yesus Kristus sendiri tidak pernah membawa atau mengajarkan agama tertentu, orientasiNya adalah pada ajaran kasih, bahwa bukan perbutan baik—yang lalu membuat kita nampak hebat diantara manusia yang lain—yang menyelamatkan kita, melainkan bahwa semuanya hanya berdasarkan kasih. Bahwa perbuatan baik tanpa kasihbadalah sia-sia, bahwa jika kita ingin melakukan perbuatan baik hendaknya kita melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk keselamatan atau surga—karena surga itu sebenarnya adalah milik semua orang yang percaya. (Kisah ini saya gunakan atas dasar latar belakang saya sebagai kristiani.)
 Lalu bukankah memprihatinkan jika orang-orang yang menjadi pengikutNya kemudian membuat seolah-olah Ia yang meminta manusia menjadi Kristen dengan berbagai justifikasi mengenai ini, mengkonstruksikan bahwa kemudian Kristen adalah satu-satunya jalan yang benar dan dalam hal ini menjadi superior sifatnya. Menyedihkan karena Tuhan dan agama kemudian seolah-olah dijadikan tameng dan pembenaran terhadap segala hal, dan ini terjadi di hampir setiap agama.
Saya menuturkan semua ini bukan karena saya atheis. Saya menuturkan ini justru karena saya monotheis kepada Yesus Kristus. Tetapi saya kemudian tidak lagi mau berpegang pada dogma agama--yang notabene adalah human-made, sementara human adalah buatan Sang Pencipta juga; mereka sama seperti saya. Saya hanya ingin berpedoman langsung pada ajaran Sang Pencipta yang mencipta kami. Sekali lagi, semua penuturan ini hanya karena saya prihatin atas fakta-fakta miris keagamaan yang terjadi, hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam benak untuk dibagikan, tanpa maksud provokatif apapun.

No comments:

Post a Comment