Sunday, October 16, 2011

tulisan saya, 070711


Sisi Lain Masyarakat: Potret dari Jendela Kereta Api

Pernahkah Anda naik KRL AC Jabodetabek pada jam-jam sibuk? Saya menyarankan bagi Anda yang belum pernah untuk mencobanya.

Bukan, saya tidak sedang mempromosikan salah satu moda transportasi umum yang beberapa waktu lalu sempat menjadi headline news di berbagai media. Tapi saya di sini sedang mempromosikan betapa “kaya”nya negeri kita.

Tidak perlu jauh-jauh ke daerah terpencil untuk menyaksikan keadaan masyarakat kita dengan beragam budayanya. (Dalam hal ini saya sedikit menyinggung pembelajaran budaya, sebagai mahasiswa antropologi.) Bahkan hanya dari balik kaca KRL saja, siapapun dapat menyaksikannya.

Tentunya ini tidak berlaku bagi Anda yang selalu berebut agar dapat tempat duduk. Tidak berlaku pula bagi Anda yang selalu sibuk dengan “blackberry”, “i-phone”, atau komputer tablet di tangan Anda. Juga tidak berlaku bagi Anda yang sibuk dengan teman atau diri Anda sendiri selama perjalanan.

Ini berlaku khususnya bagi Anda, orang-orang yang sendirian, pasrah berdiri jika tidak dapat tempat duduk, malas bicara, gadget pas-pasan, atau tidak banyak pikiran sehingga ada waktu untuk mengamati hal-hal yang “tidak dilihat”. Dan sepertinya saya ada dalam kriteria orang-orang tadi.

Lucu. Kesan pertama saya ketika mendapati pandangan di depan saya. Betapa “kaya”nya negeri kita ini. Benar kata orang-orang yang selama ini saya dengar lewat TV atau baca di majalah dan bahan-bahan kuliah: kaya akan perbedaan, keragaman; tapi tetap satu yang utuh.

Di depan mata saya yang agak sipit, sehingga tidak perlu menyipitkan mata lagi tentunya untuk bisa melihat dengan jelas, terpampang dengan jelas keanekaragaman itu. Inikah yang disebut sebagai “kekayaan”?
Pemandangan yang kontras:
  1. Di sebelah luar ibu-ibu mengais tumpukan sampah mencari barang bekas yang dapat dijual lagi; sementara di sebelah dalam mereka yang menyebut dirinya sebagai “wanita karier” harus mencari tiket KRL yang tertimbun di antara alat-alat kosmetik ketika dimintai petugas.
  2. Di sebelah luar banyak anak lari-lari di antara rel dan bebatuannya; sementara di sebelah dalam para pelajar dengan seragam lengkap malah tenggelam dalam percakapan BBM, musik MP3, atau game di i-pad dalam genggaman dua tangan.
Oalah, sungguh, benarlah kata orang tentang kekayaan negeri itu kemudian!

Buktinya, hanya berbatas kaca dan jarak kurang dari 3 meter saja, sudah didapati pula keragaman itu.
Tapi kemudian benar juga semboyan bahwa “biar berbeda tapi tetap satu” itu.

Misalnya saja yang masih sering dilakukan: tindakan anarkis, atau yang dalam bahasa sederhanya saya sebut “kekerasan kampungan”, yang dilakuan masyarakat dari dua lapisan berbeda hasil bentukan keragaman itu. Sama-sama kasar, sama-sama tidak mau mengalah, sama-sama mengusung prinsip “ke-saya-an”: harus saya yang enak. Yang di sana memang orang kampung, tapi yang di sinilah sebenarnya yang lebih layak disebut “kampungan”.

Bedanya yang di sana berebut antrian dan saling dorong untuk jatah raskin, yang di sini dulu-duluan masuk kereta untuk tempat duduk dan posisi nyaman. Bedanya yang di sini bajunya rapi dan keren, yang di sana masih bisa pakai baju pun sudah bersyukur. Yang di sini bau harum parfum dan pewangi pakaian, yang di sana bau apak keringat bercampur matahari. Bedanya lagi yang di sana untuk menyambung hidup, yang di sini mungkin untuk menyambung harga diri.

Maka benarlah kemudian: satu dari yang berbeda-beda.

No comments:

Post a Comment