Belated-report: Ethno-Edu Trip PANGANDARAN, June 13-19th 2012
Letak dan kondisi geografis
Kecamatan Pangandaran secara keseluruhan terdiri atas
delapan desa. Empat dari delapan desa yang terletak di Kecamatan Pangandaran
terletak di daerah pantai, sementara empat desa lainnya terletak di daerah
pegunungan. Pangandaran bersama Pananjung, Babakan, dan Wonoharjo berada di
wilayah pantai. Sementara Purbahayu, Sidomulyo, Sukahurip, dan Pager Gunung
berada di wilayah pegunungan.
Pantai Pangandaran sendiri sebenarnya tidak hanya terletak
di Desa Pangandaran, melainkan terbentang melebar sepanjang empat desa yang
memang terletak di wilayah pantai; dua desa terletak di pantai barat, dua
lainnya terletak di pantai timur. Pantai Pangandaran secara kasat mata
berbentuk setengah oval yang terbentang dari ujung barat sampai ujung timur.
Bagian barat dan timur dari pantai ini dipisahkan oleh sebuah cagar alam yang
sangat besar yang tampak seperti tanjung dan bisa terlihat dari setiap bibir
pantai.
Dusun Parapat yang menjadi lokasi penelitian kami berada di
Desa Pangandaran. Lokasi ini cukup dekat dengan pantai, menjelaskan tekstur
tanahnya yang berpasir dan kandungan air tanahnya yang sebagian masih merupakan
air payau. Hujan di lokasi ini juga sering terjadi meskipun di musim kemarau,
orang-orang menyebutnya hujan pantai.
Demografi
Kondisi geografis Pangandaran yang beragam menjadikan
penduduknya juga memiliki mata pencaharian yang sangat beragam mulai dari
nelayan, pedagang, pengrajin asin (pembuat ikan asin), sampai dengan petani
gula merah dan petani sayur. Di Dusun Parapat sendiri tidak jarang dalam satu
rumah, penghuninya memiliki beberapa mata pencaharian. Umumnya adalah para
laki-laki merupakan nelayan, sementara perempuan menjadi perajin ikan asin dan
hasil laut lainnya. Beberapa ada juga yang merangkap sebagai pedagang, atau
menjadi pegawai di tempat-tempat kunjungan wisata seperti hotel atau restoran
di pantai.
Letak Pangandaran yang berada di perbatasan antara Jawa
Barat dan Jawa Timur menjadikan komposisi penduduk sebagian besar didominasi
oleh orang Sunda dan Jawa, termasuk juga di Dusun Parapat ini. Hal yang menarik
adalah bahwa dalam penggunaan bahasa sehari-hari percampuran antara bahasa
Sunda dan Jawa menjadi tidak asing. Agak sulit menemukan orang yang benar-benar
berbahasa Sunda asli maupun Jawa asli karena keduanya bercampur menjadi bahasa
yang digunakan dalam keseharian penduduk Dusun Parapat.
Karakteristik sosial-budaya
Sebagaimana masyarakat pesisir pada umumnya, warga Dusun
Parapat juga dikenal memiliki karakteristik yang keras. Hal ini sudah
diingatkan oleh beberapa ketua RT di lokasi penelitian kami, juga oleh beberapa
staf KSPI yang membantu penelitian kami. Gaya bicara yang blak-blakan dengan
nada suara tinggi merupakan hal biasa. Namun, akibat letaknya yang berada di
lokasi wisata, juga karena seringnya daerah ini dijadikan lokasi K2N (Kuliah
Kerja Nyata, program pengabdian pada masyarakat yang umumnya dilakukan oleh
perusahaan atau institusi pendidikan), mereka menjadi lebih terbuka dengan
kehadiran orang baru—bahkan cenderung acuh-tak-acuh. Akibat dua faktor tersebut
pula, warga dusun ini menjadi banyak mengadopsi nilai-nilai budaya asing.
Dapat dilihat dengan jelas bahwa warga Dusun Parapat sendiri
cenderung konsumtif terhadap barang-barang elektronik. Dari pengamatan yang
saya lakukan, hampir di setiap rumah memiliki televisi yang cukup besar dengan
antena parabola, hal yang sebenarnya kadang terlihat agak kontras dengan
kondisi rumah dan ketersediaan listrik yang sebagian masih “berbagi” dalam dua
sampai tiga rumah. Konsumsi telepon genggam dan kendaraan bermotor (roda dua)
juga cukup besar di wilayah ini. Bahkan salah seorang narasumber mengatakan
bahwa ketika sedang musim panen, keuntungan besar yang mereka peroleh akan
diinvestasikan dalam bentuk barang elektronik—bukan dalam bentuk emas atau
tabungan yang sesungguhnya lebih menguntungkan. Mereka lebih memilih makan
seadanya namun memiliki barang-barang elektronik yang dianggap dapat menaikan
gengsi mereka di dalam pergaulan sehari-hari. Hal yang ironis terjadi pada saat
masa paceklik. Mereka akan menggadaikan barang-barang elektronik itu (yang
dalam hal ini tentu tidak akan banyak membantu karena nilainya yang akan turun
setelah masa pakai), atau bahkan meminjam uang pada tukang kredit yang kemudian
akan menyita barang-barang mereka bila tidak mampu membayar tagihan.
Selain dalam hal perilaku konsumtif, salah satu kondisi
sosial yang cukup memprihatinkan di sini adalah maraknya pergaulan bebas yang
dipengaruhi oleh kehadiran pariwisata di sekelilingnya. Konsumsi narkoba dan
minuman keras menurut salah satu narasumber banyak terjadi. Bahkan dalam
beberapa acara besar tertentu, “minum-minum” merupakan hal yang biasa. Seks
bebas di kalangan remaja juga banyak terjadi. Selain karena kehadiran
nilai-nilai asing yang dibawa para turis, adanya lokalisasi pelacuran tidak
jauh dari sini dilihat sebagai salah satu faktor pendorong. Bahkan banyak
lokasi-lokasi tertentu di sekitar pantai pada malam hari digunakan para
pasangan kekasih—yang kebanyakan masih remaja—untuk bercumbu, bahkan untuk melakukan
hubungan seks. Kontrol warga juga jarang ditemui, bahkan kebanyakan
menganggapnya sebagai urusan pribadi masing-masing individu sehingga mereka
tidak mau banyak ikut campur. Mayoritas warga beragama Islam, namun tidak
fanatik atau konservatif.
Dari segi pendidikan, kebanyakan warga yang memiliki uang
lebih memilih menyekolahkan anaknya di luar Pangandaran. Mereka menilai
pendidikan di sini kurang baik, terutama dari segi moral sosial yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari.
Bimbingan masyarakat
KSPI (Kelompok Studi Pengembangan Institusi) merupakan LSM
yang memiliki pengaruh besar di Pangandaran, termasuk di Dusun Parapat ini.
Mereka yang tadinya hadir sebagai salah satu program Tanoto Foundation untuk
membantu para korban tsunami 2006 sampai saat ini masih bertahan, bahkan
setelah lepas dari TF sendiri pada tahun 2008. Pada awalnya KSPI membantu dalam
bentuk materiil dan moril (sebagai salah satu fasilitator dalam penyembuhan
trauma pasca-tsunami), kini mulai bergerak di banyak bidang, terutama dalam hal
bimbingan masyarakat. Staff KSPI pada mulanya banyak, kini hanya tinggal
beberapa saja.
KSPI banyak membentuk kelompok-kelompok bimbingan kecil. Ada
yang memfasilitasi para pedagang, nelayang, pengrajin asin, dan lain
sebagainya. Mereka saat ini cenderung hanya memberikan bantuan secara moril
dalam bentuk dukungan dan bimbingan dalam pelaksanaan masing-masing bidang yang
diawasi. Pertemuan-pertemuan masih rutin dilakukan untuk sharing dan menjalin hubungan baik dengan warga sekitar.
KSPI juga menjalani usaha koperasi untuk membantu warga
sekitar. Bagi nelayan misalnya, KSPI memberikan pinjaman kapal dengan harga
murah untuk melaut. Keuntungan kemudian dibagi-bagi untuk membayar sewa, untuk
ditabung di koperasi, dan juga untuk nelayan itu sendiri. Koperasi ini juga
menjalankan usaha simpan-pinjam dengan bunga kecil, di mana keuntungannya
dibagi pada para anggota dan sisanya hanya digunakan untuk menjalankan kegiatan
koperasi. Warga Pangandaran mengaku merasa sangat terbantu dengan adanya
koperasi ini.
No comments:
Post a Comment