Thursday, September 20, 2012

tulisan saya, 310712


Belated-report: Ethno-Edu Trip PANGANDARAN, June 13-19th 2012


Letak dan kondisi geografis
Kecamatan Pangandaran secara keseluruhan terdiri atas delapan desa. Empat dari delapan desa yang terletak di Kecamatan Pangandaran terletak di daerah pantai, sementara empat desa lainnya terletak di daerah pegunungan. Pangandaran bersama Pananjung, Babakan, dan Wonoharjo berada di wilayah pantai. Sementara Purbahayu, Sidomulyo, Sukahurip, dan Pager Gunung berada di wilayah pegunungan.
Pantai Pangandaran sendiri sebenarnya tidak hanya terletak di Desa Pangandaran, melainkan terbentang melebar sepanjang empat desa yang memang terletak di wilayah pantai; dua desa terletak di pantai barat, dua lainnya terletak di pantai timur. Pantai Pangandaran secara kasat mata berbentuk setengah oval yang terbentang dari ujung barat sampai ujung timur. Bagian barat dan timur dari pantai ini dipisahkan oleh sebuah cagar alam yang sangat besar yang tampak seperti tanjung dan bisa terlihat dari setiap bibir pantai.
Dusun Parapat yang menjadi lokasi penelitian kami berada di Desa Pangandaran. Lokasi ini cukup dekat dengan pantai, menjelaskan tekstur tanahnya yang berpasir dan kandungan air tanahnya yang sebagian masih merupakan air payau. Hujan di lokasi ini juga sering terjadi meskipun di musim kemarau, orang-orang menyebutnya hujan pantai.

Demografi
Kondisi geografis Pangandaran yang beragam menjadikan penduduknya juga memiliki mata pencaharian yang sangat beragam mulai dari nelayan, pedagang, pengrajin asin (pembuat ikan asin), sampai dengan petani gula merah dan petani sayur. Di Dusun Parapat sendiri tidak jarang dalam satu rumah, penghuninya memiliki beberapa mata pencaharian. Umumnya adalah para laki-laki merupakan nelayan, sementara perempuan menjadi perajin ikan asin dan hasil laut lainnya. Beberapa ada juga yang merangkap sebagai pedagang, atau menjadi pegawai di tempat-tempat kunjungan wisata seperti hotel atau restoran di pantai.
Letak Pangandaran yang berada di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Timur menjadikan komposisi penduduk sebagian besar didominasi oleh orang Sunda dan Jawa, termasuk juga di Dusun Parapat ini. Hal yang menarik adalah bahwa dalam penggunaan bahasa sehari-hari percampuran antara bahasa Sunda dan Jawa menjadi tidak asing. Agak sulit menemukan orang yang benar-benar berbahasa Sunda asli maupun Jawa asli karena keduanya bercampur menjadi bahasa yang digunakan dalam keseharian penduduk Dusun Parapat.

Karakteristik sosial-budaya
Sebagaimana masyarakat pesisir pada umumnya, warga Dusun Parapat juga dikenal memiliki karakteristik yang keras. Hal ini sudah diingatkan oleh beberapa ketua RT di lokasi penelitian kami, juga oleh beberapa staf KSPI yang membantu penelitian kami. Gaya bicara yang blak-blakan dengan nada suara tinggi merupakan hal biasa. Namun, akibat letaknya yang berada di lokasi wisata, juga karena seringnya daerah ini dijadikan lokasi K2N (Kuliah Kerja Nyata, program pengabdian pada masyarakat yang umumnya dilakukan oleh perusahaan atau institusi pendidikan), mereka menjadi lebih terbuka dengan kehadiran orang baru—bahkan cenderung acuh-tak-acuh. Akibat dua faktor tersebut pula, warga dusun ini menjadi banyak mengadopsi nilai-nilai budaya asing.
Dapat dilihat dengan jelas bahwa warga Dusun Parapat sendiri cenderung konsumtif terhadap barang-barang elektronik. Dari pengamatan yang saya lakukan, hampir di setiap rumah memiliki televisi yang cukup besar dengan antena parabola, hal yang sebenarnya kadang terlihat agak kontras dengan kondisi rumah dan ketersediaan listrik yang sebagian masih “berbagi” dalam dua sampai tiga rumah. Konsumsi telepon genggam dan kendaraan bermotor (roda dua) juga cukup besar di wilayah ini. Bahkan salah seorang narasumber mengatakan bahwa ketika sedang musim panen, keuntungan besar yang mereka peroleh akan diinvestasikan dalam bentuk barang elektronik—bukan dalam bentuk emas atau tabungan yang sesungguhnya lebih menguntungkan. Mereka lebih memilih makan seadanya namun memiliki barang-barang elektronik yang dianggap dapat menaikan gengsi mereka di dalam pergaulan sehari-hari. Hal yang ironis terjadi pada saat masa paceklik. Mereka akan menggadaikan barang-barang elektronik itu (yang dalam hal ini tentu tidak akan banyak membantu karena nilainya yang akan turun setelah masa pakai), atau bahkan meminjam uang pada tukang kredit yang kemudian akan menyita barang-barang mereka bila tidak mampu membayar tagihan.
Selain dalam hal perilaku konsumtif, salah satu kondisi sosial yang cukup memprihatinkan di sini adalah maraknya pergaulan bebas yang dipengaruhi oleh kehadiran pariwisata di sekelilingnya. Konsumsi narkoba dan minuman keras menurut salah satu narasumber banyak terjadi. Bahkan dalam beberapa acara besar tertentu, “minum-minum” merupakan hal yang biasa. Seks bebas di kalangan remaja juga banyak terjadi. Selain karena kehadiran nilai-nilai asing yang dibawa para turis, adanya lokalisasi pelacuran tidak jauh dari sini dilihat sebagai salah satu faktor pendorong. Bahkan banyak lokasi-lokasi tertentu di sekitar pantai pada malam hari digunakan para pasangan kekasih—yang kebanyakan masih remaja—untuk bercumbu, bahkan untuk melakukan hubungan seks. Kontrol warga juga jarang ditemui, bahkan kebanyakan menganggapnya sebagai urusan pribadi masing-masing individu sehingga mereka tidak mau banyak ikut campur. Mayoritas warga beragama Islam, namun tidak fanatik atau konservatif.
Dari segi pendidikan, kebanyakan warga yang memiliki uang lebih memilih menyekolahkan anaknya di luar Pangandaran. Mereka menilai pendidikan di sini kurang baik, terutama dari segi moral sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Bimbingan masyarakat
KSPI (Kelompok Studi Pengembangan Institusi) merupakan LSM yang memiliki pengaruh besar di Pangandaran, termasuk di Dusun Parapat ini. Mereka yang tadinya hadir sebagai salah satu program Tanoto Foundation untuk membantu para korban tsunami 2006 sampai saat ini masih bertahan, bahkan setelah lepas dari TF sendiri pada tahun 2008. Pada awalnya KSPI membantu dalam bentuk materiil dan moril (sebagai salah satu fasilitator dalam penyembuhan trauma pasca-tsunami), kini mulai bergerak di banyak bidang, terutama dalam hal bimbingan masyarakat. Staff KSPI pada mulanya banyak, kini hanya tinggal beberapa saja.
KSPI banyak membentuk kelompok-kelompok bimbingan kecil. Ada yang memfasilitasi para pedagang, nelayang, pengrajin asin, dan lain sebagainya. Mereka saat ini cenderung hanya memberikan bantuan secara moril dalam bentuk dukungan dan bimbingan dalam pelaksanaan masing-masing bidang yang diawasi. Pertemuan-pertemuan masih rutin dilakukan untuk sharing dan menjalin hubungan baik dengan warga sekitar.
KSPI juga menjalani usaha koperasi untuk membantu warga sekitar. Bagi nelayan misalnya, KSPI memberikan pinjaman kapal dengan harga murah untuk melaut. Keuntungan kemudian dibagi-bagi untuk membayar sewa, untuk ditabung di koperasi, dan juga untuk nelayan itu sendiri. Koperasi ini juga menjalankan usaha simpan-pinjam dengan bunga kecil, di mana keuntungannya dibagi pada para anggota dan sisanya hanya digunakan untuk menjalankan kegiatan koperasi. Warga Pangandaran mengaku merasa sangat terbantu dengan adanya koperasi ini.



No comments:

Post a Comment