Ketika Logika
Modernitas Terpampang dalam Genosida
sebuah Review Film,
“The Pianist”
Konsep genosida (genocide)
lahir pada abad ke-20 oleh seorang ahli hukum Polandia bernama Raphäel Lemkin,
yang menggabungkan kata dalam bahasa Yunani genos
yang berarti ‘ras’ atau ‘suku bangsa’ dengan kata cide yang berasal dari bahasa Latin yang bermakna ‘pembunuhan’.
Genosida sendiri sering diartikan sebagai pemusnahan, atau pembunuhan massal,
terhadap suatu golongan ras tertentu. Genosida yang muncul pada awal abad
ke-20, berbarengan dengan berkembangnya isu-isu mengenai modernitas, seringkali
dianggap sebagai bagian dari modernitas itu—dan bukan sebagai penyimpangan atau
akibat sampingan yang dihasilkannya.
Dilihat
pada masa kemunculannya yang juga berbarengan dengan semakin berkembangnya nation-state, praktek-praktek genosida
semakin meluas pula. Nation-state
yang terobsesi dengan adanya homogenitas (Hinton, 2002:13), mulai menggunakan
praktek genosida sebagai sebuah alat penghancur perbedaan sosial (annihilation of social differences),
juga sebagai alat rekayasa sosial (social
engineering). Pada era modernitas inilah kemudian muncul berbagai isu
mengenai universalitas, yang merupakan cara dari modernitas untuk
meng-universalisasi-kan satu esensi manusia[1]. Kecenderungan
modernisme untuk mengontrol dan mengendalikan segala hal akhirnya menuntut agar
kehidupan manusia dan semesta dirancang dan direkayasa. Universalitas adalah
dalih ampuh, atas nama universalitas dilegitimasikan upaya rekayasa dan
penyeragaman besar-besaran.
Logika ini
dapat kita lihat dalam film The Pianist, di mana pada masa 1940-an, Rezim Nazi
yang kejam di bawah pemerintahan Hitler berupaya untuk “menyeragamkan”,
meng-universalisasi-kan manusia di bawah pemerintahannya; logika modernitas
berupaya untuk menyeragamkan perbedaan, “Modernity
brought the levelling of differences” (Bauman, 1989:59). Rezim Nazi berupaya
mencapai hal ini dengan dalih memurnikan darah Jerman mereka dari bangsa
Yahudi. Bangsa Yahudi dianggap sebagai penyebar penyakit, parasit, sebagai
bangsa yang cacat sehingga harus dimusnahkan. Pada titik inilah Hitler dan Nazi
menyebarkan wacana mengenai “pemurnian darah” dan “pemusnahan penyakit” yang mengarahkan pada
praktek genosida. Praktek ini kemudian dilakukan dalam berbagai cara seperti
lokalisasi Yahudi di ghetto-ghetto yang
menyebabkan mereka harus hidup berdesak-desakan sehingga mengakibatkan kematian
akibat kelaparan (yang direncanakan), atau melalui upaya pembunuhan langsung
dengan senjata atau teknologi pemusnah massal lainnya yang dalam film ini
banyak dipertontonkan berbentuk tank-tank atau bom. Adegan di mana radio dan
koran sebagai media massa kemudian diboikot dan dikendalikan dari pusat
memperlihatkan bahwa lagi-lagi modernitas dan genosida merupakan hal yang tidak
bisa dipisahkan, di mana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan
bagian dari modernitas itu sendiri—Nazi mempekerjakan instrumen-instrumen
modernisme seperti teknologi dan kekuasaan negara ini dalam melakukan
praktek-praktek genosidanya.
Adegan-adegan pada film ini
menggambarkan bahwa Bangsa Yahudi tidak lagi memiliki kuasa atas tubuhnya
sendiri. Tubuh bangsa Yahudi pada konteks persoalan ini dikuasai rezim Hitler.
Hal ini bisa dilihat dari aturan untuk menggunakan emblem bagi Bangsa Yahudi
untuk membedakan mereka dengan yang non-Yahudi. Ini kemudian memunculkan
permasalahan di mana keberadaan Bangsa Yahudi di tempat-tempat umum atau ruang
publik kemudian menjadi sangat dibatasi, seperti misalnya dalam adegan ketika
Szpilman ingin mengajak Dorota minum kopi di sebuah kafe tetapi tidak bisa
karena ada larangan bagi seorang Yahudi untuk masuk ke sana yang tertempel di
pintu depan kafe itu—dan dalam kasus ini Szpilman tidak mungkin bisa mengelak
karena adanya emblem yang ia gunakan. Penggunaan emblem ini juga menjadi
masalah karena ketika ada seorang Yahudi yang tidak mau menggunakannya, ia akan
dikenai sanksi fisik oleh mereka yang berwajib karena ciri fisik Yahudi yang
mudah dikenali; seperti dalam adegan ketika ayah Szpilman ditampar oleh tentara
Nazi karena ditemui di jalan tanpa menggunakan emblem, dan kemudian ia tidak
diperbolehkan berjalan kaki di trotoar dengan alasan “menghalangi jalan”.
Body Politics dan modernitas yang mengarah pada genosida adalah
saling terkait (Fleming, 2003:113). Tubuh dianggap sebagai simbol-simbol yang
aktif, dan bukan lagi hanya sebagai kenyataan biologis. Dalam film The Pianist
beberapa kali ditayangkan adegan di mana para tentara Nazi dengan seenaknya
memperlakukan tubuh Bangsa Yahudi sebagai objek penghinaan dan siksaan,
dipertontonkan di hadapan orang banyak sebagai simbol kekuasaan mereka terhadap
Bangsa Yahudi itu. Misalnya dalam adegan di mana beberapa tentara Nazi menyuruh
para Yahudi yang sedang menunggu dibukanya gerbang antar-ghetto untuk berdansa—joget—mengikuti
musik yang ada, tidak peduli mereka cacat ataupun sudah tua, mereka menyuruhnya
dengan paksa dan dibawah ancaman untuk kemudian menjadi bahan olok-olok mereka.
Adegan lain adalah ketika tentara Nazi melempar seorang kakek Yahudi dari
lantai 3 flatnya hanya karena ia
tidak bisa berdiri untuk memberi hormat pada mereka dikarenakan ia lumpuh. Di
sinilah body politics, yang
menjadikan tubuh sebagai simbol-simbol aktif dalam konteks kekuasaan,
diperlihatkan.
The Pianist, yang diangkat dari
sebuah buku berjudul sama (2002) yang ditulis oleh Szpilman, ini berakhir
dengan bahagia. Szpilman sebagai tokoh utama digambarkan lolos dari pembantaian
Bangsa Yahudi setelah terus menerus melarikan diri dan bersembunyi karena
ditolong oleh seorang Kapten Tentara Jerman. Pembantaian terhadap Yahudi
kemudian dihentikan setelah adanya serangan balik dari Polandia, juga ditambah
oleh serangan Rusia terhadap Jerman. Namun demikian, genosida terhadap Yahudi
oleh Nazi sendiri menjadi salah satu sejarah kelam dalam hubungan antar suku
bangsa di dunia.
Referensi
Bauman, Zygmunt, 1989. Modernity
and the Holocaust. Cambridge: Polity Press.
Bauman, Zygmunt, 1993. Postmodern Ethics. Oxford:
Blackwell Publishers Ltd.
Fleming, Marie, 2003. “Genocide and the Body Politic in the
Time of Modernity”, dalam The Specter of
Genocide: Mass Murder in Historical
Perspective (Gellately, R. & Kiernan, B., ed.). Cambridge: Cambridge
University Press. pp. 97-113.
Foucault, Michel, 1980. Power/Knowledge:
Selected Interviews and Other Writings, 1972-1977. Knopf Doubleday
Publishing Group.
Hinton, A.L., 2002. “The Dark Side of Modernity: Towards an
Anthropology of Genocide”, dalam Annihilating
Difference: The Anthropology of Genocide (A. L. Hinton, ed.). Berkeley:
University of California Press, pp.1-42.
No comments:
Post a Comment