Thursday, July 12, 2012

tulisan saya, 300512


Ketika Logika Modernitas Terpampang dalam Genosida
sebuah Review Film, “The Pianist”

Konsep genosida (genocide) lahir pada abad ke-20 oleh seorang ahli hukum Polandia bernama Raphäel Lemkin, yang menggabungkan kata dalam bahasa Yunani genos yang berarti ‘ras’ atau ‘suku bangsa’ dengan kata cide yang berasal dari bahasa Latin yang bermakna ‘pembunuhan’. Genosida sendiri sering diartikan sebagai pemusnahan, atau pembunuhan massal, terhadap suatu golongan ras tertentu. Genosida yang muncul pada awal abad ke-20, berbarengan dengan berkembangnya isu-isu mengenai modernitas, seringkali dianggap sebagai bagian dari modernitas itu—dan bukan sebagai penyimpangan atau akibat sampingan yang dihasilkannya.
            Dilihat pada masa kemunculannya yang juga berbarengan dengan semakin berkembangnya nation-state, praktek-praktek genosida semakin meluas pula. Nation-state yang terobsesi dengan adanya homogenitas (Hinton, 2002:13), mulai menggunakan praktek genosida sebagai sebuah alat penghancur perbedaan sosial (annihilation of social differences), juga sebagai alat rekayasa sosial (social engineering). Pada era modernitas inilah kemudian muncul berbagai isu mengenai universalitas, yang merupakan cara dari modernitas untuk meng-universalisasi-kan satu esensi manusia[1]. Kecenderungan modernisme untuk mengontrol dan mengendalikan segala hal akhirnya menuntut agar kehidupan manusia dan semesta dirancang dan direkayasa. Universalitas adalah dalih ampuh, atas nama universalitas dilegitimasikan upaya rekayasa dan penyeragaman besar-besaran.
            Logika ini dapat kita lihat dalam film The Pianist, di mana pada masa 1940-an, Rezim Nazi yang kejam di bawah pemerintahan Hitler berupaya untuk “menyeragamkan”, meng-universalisasi-kan manusia di bawah pemerintahannya; logika modernitas berupaya untuk menyeragamkan perbedaan, “Modernity brought the levelling of differences” (Bauman, 1989:59). Rezim Nazi berupaya mencapai hal ini dengan dalih memurnikan darah Jerman mereka dari bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi dianggap sebagai penyebar penyakit, parasit, sebagai bangsa yang cacat sehingga harus dimusnahkan. Pada titik inilah Hitler dan Nazi menyebarkan wacana mengenai “pemurnian darah” dan “pemusnahan penyakit” yang mengarahkan pada praktek genosida. Praktek ini kemudian dilakukan dalam berbagai cara seperti lokalisasi Yahudi di ghetto-ghetto yang menyebabkan mereka harus hidup berdesak-desakan sehingga mengakibatkan kematian akibat kelaparan (yang direncanakan), atau melalui upaya pembunuhan langsung dengan senjata atau teknologi pemusnah massal lainnya yang dalam film ini banyak dipertontonkan berbentuk tank-tank atau bom. Adegan di mana radio dan koran sebagai media massa kemudian diboikot dan dikendalikan dari pusat memperlihatkan bahwa lagi-lagi modernitas dan genosida merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan, di mana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian dari modernitas itu sendiri—Nazi mempekerjakan instrumen-instrumen modernisme seperti teknologi dan kekuasaan negara ini dalam melakukan praktek-praktek genosidanya.
Adegan-adegan pada film ini menggambarkan bahwa Bangsa Yahudi tidak lagi memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri. Tubuh bangsa Yahudi pada konteks persoalan ini dikuasai rezim Hitler. Hal ini bisa dilihat dari aturan untuk menggunakan emblem bagi Bangsa Yahudi untuk membedakan mereka dengan yang non-Yahudi. Ini kemudian memunculkan permasalahan di mana keberadaan Bangsa Yahudi di tempat-tempat umum atau ruang publik kemudian menjadi sangat dibatasi, seperti misalnya dalam adegan ketika Szpilman ingin mengajak Dorota minum kopi di sebuah kafe tetapi tidak bisa karena ada larangan bagi seorang Yahudi untuk masuk ke sana yang tertempel di pintu depan kafe itu—dan dalam kasus ini Szpilman tidak mungkin bisa mengelak karena adanya emblem yang ia gunakan. Penggunaan emblem ini juga menjadi masalah karena ketika ada seorang Yahudi yang tidak mau menggunakannya, ia akan dikenai sanksi fisik oleh mereka yang berwajib karena ciri fisik Yahudi yang mudah dikenali; seperti dalam adegan ketika ayah Szpilman ditampar oleh tentara Nazi karena ditemui di jalan tanpa menggunakan emblem, dan kemudian ia tidak diperbolehkan berjalan kaki di trotoar dengan alasan “menghalangi jalan”.
Body Politics dan modernitas yang mengarah pada genosida adalah saling terkait (Fleming, 2003:113). Tubuh dianggap sebagai simbol-simbol yang aktif, dan bukan lagi hanya sebagai kenyataan biologis. Dalam film The Pianist beberapa kali ditayangkan adegan di mana para tentara Nazi dengan seenaknya memperlakukan tubuh Bangsa Yahudi sebagai objek penghinaan dan siksaan, dipertontonkan di hadapan orang banyak sebagai simbol kekuasaan mereka terhadap Bangsa Yahudi itu. Misalnya dalam adegan di mana beberapa tentara Nazi menyuruh para Yahudi yang sedang menunggu dibukanya gerbang antar-ghetto untuk berdansa—joget­­—mengikuti musik yang ada, tidak peduli mereka cacat ataupun sudah tua, mereka menyuruhnya dengan paksa dan dibawah ancaman untuk kemudian menjadi bahan olok-olok mereka. Adegan lain adalah ketika tentara Nazi melempar seorang kakek Yahudi dari lantai 3 flatnya hanya karena ia tidak bisa berdiri untuk memberi hormat pada mereka dikarenakan ia lumpuh. Di sinilah body politics, yang menjadikan tubuh sebagai simbol-simbol aktif dalam konteks kekuasaan, diperlihatkan.
The Pianist, yang diangkat dari sebuah buku berjudul sama (2002) yang ditulis oleh Szpilman, ini berakhir dengan bahagia. Szpilman sebagai tokoh utama digambarkan lolos dari pembantaian Bangsa Yahudi setelah terus menerus melarikan diri dan bersembunyi karena ditolong oleh seorang Kapten Tentara Jerman. Pembantaian terhadap Yahudi kemudian dihentikan setelah adanya serangan balik dari Polandia, juga ditambah oleh serangan Rusia terhadap Jerman. Namun demikian, genosida terhadap Yahudi oleh Nazi sendiri menjadi salah satu sejarah kelam dalam hubungan antar suku bangsa di dunia.

Referensi

Bauman, Zygmunt, 1989. Modernity and the Holocaust. Cambridge: Polity Press.

Bauman, Zygmunt, 1993. Postmodern Ethics. Oxford: Blackwell Publishers Ltd.

Fleming, Marie, 2003. “Genocide and the Body Politic in the Time of Modernity”, dalam The Specter of Genocide: Mass Murder in  Historical Perspective (Gellately, R. & Kiernan, B., ed.). Cambridge: Cambridge University Press. pp. 97-113.

Foucault, Michel, 1980. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972-1977. Knopf Doubleday Publishing Group.

Hinton, A.L., 2002. “The Dark Side of Modernity: Towards an Anthropology of Genocide”, dalam Annihilating Difference: The Anthropology of Genocide (A. L. Hinton, ed.). Berkeley: University of California Press, pp.1-42.


[1] Zygmunt Bauman, Postmodern Ethics, Oxford: Blackwell Publishers Ltd., 1993.

No comments:

Post a Comment